Liputan6.com, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis tidak hanya berdampak pada warganya, tetapi juga sejumlah tempat wisata utama di kota itu, yaitu Menara Eiffel dan Museum Louvre. Pengelola kedua tempat menutup lebih awal atraksi mereka pada Selasa, 23 Juni 2026.
Mengutip France24, Sabtu (27/6/2026), operator Menara Eiffel mengatakan bahwa tempat tersebut 'ditutup secara khusus' lebih awal pada hari tersebut, pukul 16.00 (1400 GMT). Selama musim puncak wisata yang dimulai pada pertengahan Juni, menara ini buka dari pukul 09.00 hingga 00.45.
Advertisement
"Karena perkiraan suhu tinggi, Menara Eiffel akan menyesuaikan operasionalnya," kata operator tersebut.
Operator Menara Eiffel mengatakan bahwa "sangat mungkin" monumen tersebut ditutup kembali lebih awal pada keesokan harinya. Pengunjung yang terlanjur memesan tiket akan mendapatkan pengembalian dana. Tujuh juta wisatawan membayar untuk mengunjungi menara setinggi 324 meter (1.063 kaki) setiap tahunnya.
Keputusan menutup lebih awal menara yang diresmikan pada 1889 karena gelombang panas itu bukan pertama kali terjadi. Setahun lalu, pengelola juga menutup puncak menara lebih awal dan menyisakan akses hanya ke lantai 1 dan 2 menara. Kolam yang berada di depan menara juga tetap dibuka untuk warga mendinginkan tubuh di tengah suhu panas.
Tak lama setelah pengumuman penutupan Menara Eiffel, manajemen Louvre mengatakan museum yang paling banyak dikunjungi di dunia itu akan tutup dari Rabu hingga Sabtu, 24--27 Juni 2026, dua jam lebih awal pada pukul 4 sore karena gelombang panas.
Museum Louvre Tak Siap Hadapi Gelombang Panas
Suhu yang melonjak di Paris membuat 'kondisi kunjungan dan kerja menjadi sulit selama jam-jam terpanas dalam sehari', kata manajemen. Mereka juga mencatat bahwa 'di penghujung hari panas paling terasa, diperparah oleh jumlah pengunjung yang tinggi'.
Manajemen museum menyatakan pada Selasa, pekan ini, bahwa bangunan bersejarah itu 'rentan dan tidak cukup beradaptasi dengan perubahan iklim". Direktur museum, Christophe Leribault, pekan lalu memperingatkan bahwa museum 'kehabisan tenaga' karena kesulitan mencari dana untuk meningkatkan fasilitasnya yang sudah tua.
Museum tersebut telah menghadapi serangkaian masalah pelik, termasuk pencurian perhiasan senilai USD 100 juta, kebocoran air, dan masalah pemeliharaan lainnya. Sebagai rumah bagi karya seni ikonis, termasuk "Mona Lisa" karya Leonardo da Vinci, Louvre menerima sekitar sembilan juta pengunjung setiap tahunnya.
Museum ini bertempat di sebuah istana besar di pusat kota Paris di tepi Sungai Seine, yang dibangun selama berabad-abad oleh berbagai raja dan presiden Prancis.
Prancis Paling Terdampak Gelombang Panas
Tempat wisata lainnya juga mengumumkan penutupan lebih awal atau peringatan karena lebih dari setengah wilayah daratan Prancis masih berada di bawah tingkat kewaspadaan tertinggi dari badan prakiraan cuaca. Objek wisata yang paling banyak dikunjungi di luar wilayah ibu kota, Pulau Mont Saint Michel di Normandia, pada hari yang sama memperingatkan pengunjung untuk "menunda kunjungan Anda selama peringatan merah".
Prancis merupakan negara paling terdampak fenomena gelombang panas ekstrem di Eropa. Météo-France, semacam BMKG Prancis, bahkan telah menempatkan 54 wilayah administratif (departemen) dalam peringatan merah pada Selasa, 23 Juni 2026, yang memengaruhi sekitar 39 warga.
Mengutip Euronews, Selasa, 23 Juni 2026, lebih dari 450 rekor suhu panas dipecahkan atau disamai di seluruh negeri, menjadikan kemarin sebagai hari terpanas ketiga yang pernah tercatat dengan suhu rata-rata nasional 29,2 °C. Di Departemen Cher, temperatur bahkan naik hingga 43,3 °C.
Di Paris, suhu bisa mencapai lebih dari 40 °C di pertengahan minggu. Namun, ibu kota negara itu telah memecahkan rekor suhu untuk bulan Juni, dengan 38,4 °C yang tercatat pada Senin, 22 Juni 2026.
18 Warga Prancis Meninggal Imbas Gelombang Panas
Kota-kota lain juga mencetak rekor baru, termasuk Rennes (40,6 °C), Angers (40,9 °C), Saintes (42 °C) dan Bordeaux (41,9 °C). Malam dari Minggu ke Senin juga sangat hangat, terutama di Nouvelle-Aquitaine, Pays de la Loire, dan Centre-Val de Loire, dengan suhu minimum "yang belum pernah dicapai sebelumnya pada waktu mana pun dalam setahun" tercatat, kata Météo-France.
"Suhu tidak turun di bawah 22,8 °C di Alençon, 23,2 °C di Saint-Nazaire, 23,4 °C di Tours dan Blois, 24,6 °C di Poitiers, dan 24,9 °C di Cholet. Suhu minimum 24,2 °C tercatat di Paris-Montsouris," tambah lembaga tersebut.
Akibat gelombang panas itu, total 18 warga Prancis meninggal dunia. Kasus kematian terbaru merenggut nyawa dua anak yang mengunci diri mereka di dalam mobil keluarga pada hari kemarin. Sehari sebelumnya, tiga orang lanjut usia meninggal di rumah mereka di Gironde.
Berenang juga terbukti mematikan. Selama akhir pekan, 13 orang tenggelam di seluruh negeri, menurut Perlindungan Sipil.