Hari Ini, Hasil UAN Diumumkan

Pengumuman hasil UAN secara resmi disampaikan serentak melalui pos ke rumah masing-masing siswa. Kalangan pendidik menyambut baik cara pengumuman tersebut karena menghindari aksi corat-coret siswa.

oleh Liputan6Diterbitkan 14 Juni 2004, 20:09 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah secara resmi mengumumkan hasil ujian akhir nasional (UAN) sekolah menengah umum (SMU) secara serentak pada Senin (14/6) melalui pos ke rumah masing-masing siswa. Secara umum, pengumuman kelulusan beberapa sekolah negeri di Jakarta relatif berlangsung tenang. Beberapa guru SMU menyambut baik cara pengumuman tersebt karena bisa menghindari aksi corat-coret siswa.

Sejumlah sekolah mengaku sudah mengirim hasil UAN murid-muridnya lewat pos. Namun nyatanya, sebagian siswa SMU Negeri 70 Jakarta dan SMU Negeri 6 Jakarta mendatangi sekolah karena belum menerima kiriman hasil ujian [baca: Sebagian Siswa SMU Belum Menerima Hasil UAN].

Berdasarkan pemantauan SCTV, angka kelulusan beberapa SMU di Jakarta mencapai 99 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata kelulusan nasional yang berkisar antara 69 persen hingga 88 persen. Bagi siswa yang tidak lulus UAN, diberi kesempatan untuk mengikuti ujian ulangan pada awal Juli mendatang.

Sementara itu, sekitar 70 pelajar SMU menunjukkan kegembiraan mereka setelah lulus dengan corat-coret dan konvoi kendaraan bermotor di jalan-jalan protokol Surabaya, Jawa Timur. Aksi tersebut sempat dihalau polisi terutama di Jalan Kusuma Bangsa karena dinilai menggangu ketertiban umum. Bahkan, polisi harus memberikan surat tilang karena sejumlah sepeda motor tidak dilengkapi surat-surat.

Namun, aksi hura-hura ini ternyata tidak diimbangi dengan prestasi yang memuaskan. Dari hasil UAN, tercatat 566 siswa SMU dan 1920 siswa sekolah menengah kejuruan di Surabaya dinyatakan tidak lulus.

Tingkat ketidaklulusan siswa secara nasional dalam UAN kali ini meningkat dari angka 7,75 persen pada tahun kemarin, menjadi 10,22 persen. Kenaikan tersebut sedikit banyak dipengaruhi naiknya nilai ujian minimal siswa dari sebesar tiga menjadi empat untuk mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Menurut praktisi pendidikan Arief Rahman Hakim, naiknya angka ketidaklulusan itu juga dipengaruhi fasilitas sekolah yang berbeda dan keputusan Departemen Pendidikan Nasional yang dinilai terburu-buru. &Sekolah harus dipersiapkan untuk hal seperti itu," Arief menambahkan.

Lebih jauh, Arief menilai keputusan yang mendadak tersebut menimbulkan ketakutan di kalangan pendidik. Tidak sedikit praktisi pendidikan yang menjalankan upaya yang tidak mendidik seperti penambahan jam pelajaran atau hanya melatih siswa untuk menjawab soal ujian layaknya tempat kursus atau bimbingan belajar. Namun, kecemasan itu juga memberikan imbas yang positif. "Meningkatnya keseriusan untuk menghadapi hal tersebut," ujar dia.

Lepas dari semua itu, naiknya nilai ujian minimal dimaksudkan untuk mendorong berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan untuk bekerja lebih keras. Menurut Kepala Penilaian Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas Bahrul Hayat, nilai minimal tersebut dinaikkan berdasarkan pada standar kompetensi dan bahan standar yang didapat dari hasil analisis Depniknas dan pihak sekolah. Untuk mencapai standardisasi yang seimbang di setiap sekolah di Tanah Air, pihak Depdiknas berupaya meningkatkan sumber daya guru baik dari segi kuantitas dan kualitasnya serta pemerataan sarana sekolah.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya