Liputan6.com, Jakarta - PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) menilai kondisi bisnis pada 2026 bakal jauh lebih menantang dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan melihat tekanan ekonomi yang masih berlangsung saat ini berdampak signifikan pada hampir seluruh sektor industri, termasuk bisnis transportasi darat.
Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, Dwi Rianta Soerbakti, mengatakan meski armada operasional perusahaan menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, kenaikan harga BBM nonsubsidi tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap beban usaha perseroan.
Advertisement
"Tahun 2026 ini merupakan tahun yang mungkin lebih sulit lagi dibandingkan tahun 2025. Kayaknya kita semua, hampir semua lini industri mengalami guncangan ekonomi. Pertama, efek dari kenaikan bahan bakar nonsubsidi. Memang perusahaan bus seperti kami menggunakan bahan bakar subsidi," kata Dwi dalam Public Expose LRNA, Jumat (26/6/2026).
Menurut Dwi, kenaikan harga BBM nonsubsidi memicu efek domino yang merembet ke rantai pasok perusahaan. Banyak mitra pemasok maupun pabrikan suku cadang kendaraan yang tidak menggunakan BBM bersubsidi. Alhasil, biaya produksi mereka ikut terkerek naik dan beban biaya tersebut akhirnya diteruskan kepada konsumen, termasuk Lorena.
"Namun, efek domino dari kenaikan BBM nonsubsidi itu tetap terasa. Kenapa? Karena supplier-supplier kami tidak semuanya menggunakan BBM subsidi. Pabrik-pabrik yang memproduksi spare part-spare part kami tidak semuanya menggunakan BBM subsidi, sehingga sebagai akibatnya, efek domino dari kenaikan BBM nonsubsidi tersebut maka terjadilah lonjakan-lonjakan harga, baik itu terutama mungkin di spare part," jelasnya panjang lebar.
Selain meroketnya harga suku cadang, perusahaan otobus legendaris ini juga harus menghadapi tantangan dari sisi luar, yakni pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi finansial konsumen yang mengetat dinilai sangat memengaruhi tingkat permintaan terhadap layanan transportasi antarkota yang dijalankan oleh perseroan.
Pelemahan Kurs Valuta Asing Tambah Beban Operasional
Tantangan bagi Lorena tidak berhenti di situ. Kenaikan nilai tukar dolar AS maupun mata uang asing lainnya turut memperberat biaya operasional armada. Pasalnya, sebagian besar kebutuhan komponen dan suku cadang bus kelas eksekutif ini masih harus didatangkan melalui jalur impor, sehingga harganya sangat sensitif terhadap pergerakan kurs.
Dwi menjelaskan, tidak hanya dolar AS yang menjadi perhatian utama manajemen, melainkan pergerakan seluruh valuta asing yang digunakan dalam transaksi perdagangan internasional. Kombinasi antara kenaikan harga suku cadang hulu, biaya energi, serta penurunan daya beli masyarakat menjadi tiga tantangan utama yang wajib dimitigasi oleh industri transportasi sepanjang tahun ini.
"Saya tidak hanya mengatakan dolar, tapi valuta asing secara umum tentu saja memberikan efek kenaikan bagi spare part. Dan kedua hal tersebut, baik itu spare part maupun BBM, merupakan dua komponen biaya yang sangat besar bagi perusahaan bus," pungkas Dwi.