Liputan6.com, Jakarta - Emiten yang bergerak di industri transportasi darat PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) mengungkapkan sejumlah tantangan berat yang menekan kinerja usaha sepanjang tahun 2025. Perseroan mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 59,52 miliar pada 2025, atau turun 26,45 persen dibandingkan pendapatan tahun 2024 yang mencapai Rp 80,93 miliar.
Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, Dwi Rianta Soerbakti, mengatakan penurunan pendapatan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari ketatnya persaingan industri bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP), meningkatnya biaya operasional, hingga kesulitan memperoleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Advertisement
Dwi menjelaskan, meski pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 mencapai 5,11 persen dengan inflasi sekitar 2,92 persen, pertumbuhan riil (net growth) diperkirakan hanya berada di kisaran 2 persen. Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan sebenarnya masih mampu tumbuh sekitar 8 persen, atau hampir dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, menurutnya, kondisi positif tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh industri bus penumpang. Segmen bus AKAP justru menghadapi tekanan hebat akibat semakin ketatnya persaingan dengan moda transportasi lain.
"Namun, khusus untuk bis penumpang, pertumbuhannya tidak secerah itu. Karena satu, transportasi darat di bidang bis antar kota antar provinsi saat ini mengalami cukup kewalahan dengan persaingan dengan kereta api dan juga pesawat, terutama di wilayah Jawa dan Sumatera," kata Dwi dalam Public Expose, Jumat (26/6/2026).
Persaingan paling terasa datang dari kereta api dan pesawat, terutama untuk rute-rute di Pulau Jawa dan Sumatera. Kedua moda transportasi tersebut dinilai semakin diminati masyarakat karena menawarkan waktu tempuh yang lebih singkat dan layanan yang semakin kompetitif. Selain itu, pembangunan jalan tol yang semakin masif turut mengubah pola perjalanan masyarakat, di mana kini semakin banyak orang memilih menggunakan kendaraan pribadi.
Persaingan Tarif dan Lonjakan Biaya Operasional Tekan Kinerja
Selain menghadapi persaingan antar-moda, Lorena juga harus bersanding dengan meningkatnya jumlah Perusahaan Otobus (PO) baru yang beroperasi di wilayah Jawa dan Sumatera.
Dwi mengatakan, bertambahnya operator bus memicu persaingan tarif yang tidak sehat. Sejumlah perusahaan mulai menerapkan strategi perang harga (price war) demi mempertahankan pangsa pasar, sehingga ruang untuk menaikkan tarif menjadi semakin terbatas.
"Biaya operasional meningkat saja dan diakibatkan saat ini efek kurs dolar sehingga spare part menjadi uncontrollable harganya. Sementara tarif tidak bisa serta-merta kita naikkan karena memang daya beli masyarakat yang tidak terlalu kuat dan juga adanya persaingan bersama perusahaan otobus," ujarnya.
Meski biaya suku cadang terus meroket, perusahaan tidak dapat dengan mudah menaikkan harga tiket karena daya beli masyarakat masih belum pulih sepenuhnya. Kondisi tersebut akhirnya semakin menekan margin keuntungan perusahaan.
Krisis SDM Jadi Tantangan Besar Industri Bus
Tantangan Lorena tidak berhenti di sektor keuangan, melainkan juga merembet ke persoalan serius dalam pemenuhan tenaga kerja, khususnya awak armada. Menurut Dwi, hampir seluruh perusahaan bus AKAP kini kesulitan mendapatkan pengemudi maupun kondektur yang memenuhi kualifikasi.
Ia menjelaskan banyak pengemudi senior yang telah memasuki usia pensiun. Di sisi lain, proses regenerasi berjalan lambat karena profesi sebagai kru bus antarkota dinilai kurang menarik bagi generasi muda.
"Jadi, kadang-kadang bisnya siap, armadanya siap, tapi kita tidak mempunyai crew. Itu merupakan salah satu kendala utama yang menurut saya hampir semua perusahaan bis antar kota antar provinsi itu mengalaminya," pungkasnya.