Liputan6.com, Jakarta - PT Martina Berto Tbk (MBTO) meraup laba bersih Rp 27,8 miliar pada tahun buku 2025. Selain itu, emiten ini juga mencatatkan laba kotor sebesar Rp 158,9 miliar dan margin laba kotor sebesar 39,58%.
Selain itu, emiten kosmetik dan produk perawatan tubuh ini, berhasil memcetak penjualan sebesar Rp 401,5 miliar, laba kotor sebesar Rp 158,9 miliar.
Advertisement
"Menurut audit laporan keuangannya adalah Rp 401,5 miliar dengan penjualan dengan margin laba kotor adalah 39,58%. Kita mengalami laba bersih yang minus Rp 27,8 miliar dengan earning before interest depreciation yaitu Rp 12 miliar," kata Presiden Direktur PT Martina Berto Tbk, Bryan David Emil dalam Public Expose MBTO, Kamis (25/6/2026).
Lebih lanjut, Bryan menyampaikan bahwa Perseroan juga mempertahankan posisi aset yang cukup solid. Hingga akhir 2025, total aset tercatat Rp 640,3 miliar.
Disisi lain, Perseroan juga mencatat EBITDA sebesar Rp 12,1 miliar, lebih rendah dibandingkan capaian Rp 35,7 miliar pada tahun sebelumnya. Ia mengakui meskipun rendah, pihaknya siap melakukan perbaikan di tahun 2026 dengan disiplin biaya dan pengendalian operasi.
"Memang kalau kita lihat dari tahun sebelumnya EBITDA kita saja tidak bagus, angkanya tidak mencapai segitu. Nah ini sudah lumayan, tapi kita sadar bahwa 2025 ini masih harus banyak diperbaiki di 2026. Disiplin biaya dan pengendalian operasi tetap menjadi fondasi pemulihan perseroan," jelasnya.
Penopang Utama Penjualan di 2025
Berdasarkan portofolio penjualan 2025, kategori "lain-lain" menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perseroan dengan nilai Rp 260,4 miliar. Sementara segmen kosmetik menyumbang Rp 138,2 miliar dan produk jamu sebesar Rp 2,9 miliar.
Dari sisi profitabilitas, segmen kosmetik justru menjadi penyumbang laba kotor terbesar. Kategori ini menghasilkan laba kotor Rp 94,5 miliar, jauh di atas segmen lain-lain yang mencatatkan laba kotor Rp 63,2 miliar. Adapun produk jamu memberikan kontribusi laba kotor Rp 1,3 miliar.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa bisnis kosmetik masih menjadi tulang punggung margin perseroan meskipun kontribusi penjualannya lebih kecil dibandingkan kategori lain-lain.