Liputan6.com, London: Gubernur Bank Sentral atau Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat, Alan Greenspan mengakui, harga minyak dunia yang terus meningkat merupakan faktor yang mengkhawatirkan perusahaan. Namun, The Fed harus menanggapinya dengan mengubah kebijakan suku bunga. Pernyataan tersebut disampaikan melalui hubungan satelit dari Washington, D.C., dalam Konferensi Moneter Internasional di Kota London, Inggris, baru-baru ini.
Greenspan mengatakan, sebelumnya resesi ekonomi didahului oleh harga harga minyak mentah yang mulai melonjak. Namun, kejadian tersebut belum mencerminkan munculnya kekhawatiran resesi itu. Ia juga mengingatkan, kebijakan moneter konvensional yang dipakai sebelumnya mampu menaikkan tingkat suku bunga atau sebaliknya. Awalnya, orang mengkhawatirkan dampak inflasi dari kenaikan harga minyak. Akan tetapi, pandangan itu berubah ke arah permintaan efektif yang mengecil, akibat pengenaan pajak bahan bakar.
Greenspan juga menyinggung soal kebijakan tingkat suku bunga di Negeri Paman Sam. Bank Sentral, dia menegaskan, akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menahan tingkat inflasi di negara itu. Bila asumsi yang mendasari keputusan menaikkan suku bunga secara bertahap tidak terpenuhi, maka pihaknya siap bertindak agresif.
Sejak Juni tahun silam, The Fed memang telah mempertahankan tingkat suku bunga yang paling rendah selama 46 tahun terakhir. Namun pertemuan The Fed pada 29-30 Juni mendatang, diperkirakan akan mulai memfokuskan diri untuk menaikkan tingkat suku bunga.
Selama ini Greenspan dinilai banyak membantu memaksimalkan potensi pekerja dan pengusaha di AS. Tak heran bila di pertengahan Mei silam, ia terpilih kembali sebagai Gubernur The Federal Reserve AS [baca: Gubernur Bank Sentral AS Dipegang Alan Greenspan]. Masa jabatan Greenspan ini diperpanjang untuk yang keempat kalinya.(AIS/Nlg)
Greenspan mengatakan, sebelumnya resesi ekonomi didahului oleh harga harga minyak mentah yang mulai melonjak. Namun, kejadian tersebut belum mencerminkan munculnya kekhawatiran resesi itu. Ia juga mengingatkan, kebijakan moneter konvensional yang dipakai sebelumnya mampu menaikkan tingkat suku bunga atau sebaliknya. Awalnya, orang mengkhawatirkan dampak inflasi dari kenaikan harga minyak. Akan tetapi, pandangan itu berubah ke arah permintaan efektif yang mengecil, akibat pengenaan pajak bahan bakar.
Greenspan juga menyinggung soal kebijakan tingkat suku bunga di Negeri Paman Sam. Bank Sentral, dia menegaskan, akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menahan tingkat inflasi di negara itu. Bila asumsi yang mendasari keputusan menaikkan suku bunga secara bertahap tidak terpenuhi, maka pihaknya siap bertindak agresif.
Sejak Juni tahun silam, The Fed memang telah mempertahankan tingkat suku bunga yang paling rendah selama 46 tahun terakhir. Namun pertemuan The Fed pada 29-30 Juni mendatang, diperkirakan akan mulai memfokuskan diri untuk menaikkan tingkat suku bunga.
Selama ini Greenspan dinilai banyak membantu memaksimalkan potensi pekerja dan pengusaha di AS. Tak heran bila di pertengahan Mei silam, ia terpilih kembali sebagai Gubernur The Federal Reserve AS [baca: Gubernur Bank Sentral AS Dipegang Alan Greenspan]. Masa jabatan Greenspan ini diperpanjang untuk yang keempat kalinya.(AIS/Nlg)