Liputan6.com, Semarang: Kalau sudah jodoh, rezeki memang tak akan lari ke mana-mana. Itulah yang diamini Verry Nugroho, pedagang layang-layang di Jalan M.T. Haryono, Semarang, Jawa Tengah. Menjelang pemilihan presiden, penjualan layang-layang di Kota Semarang rupanya laris manis. Baru-baru ini, Verry mengaku omzetnya meningkat hingga 20 persen. Dalam satu hari, sedikitnya 1.000-2.000 buah layang-layang bergambar lima calon presiden ludes terjual. Bahkan, mereka sering kewalahan menerima pesanan dari pembeli.
Pada hari biasa, menurut Verry, layang-layang yang dijualnya cuma laku 500 sampai 600 buah. Tapi saat ini kondisinya berbeda. Pembeli malah berdatangan dari berbagai sudut Kota Lumpia dan kota lain di Jateng. Harga layang-layang yang dipatok pun relatif murah, Rp 150 sampai Rp 250 per buah, tergantung ukuran dan warna.
Verry mengaku mendapat pasokan layang-layang bergambar capres dari Bandung, Jawa Barat. Di gudang milik Verry kini tersimpan lebih dari 5.000 layang-layang. Dia yakin dagangannya akan ludes sebelum masa kampanye berakhir. Sementara untuk melayani pembeli, Verry terpaksa menambah karyawannya menjadi empat orang.
Layang-layang bergambar capres memang bisa dijadikan ajang sosialisasi. Sejak hari kedua kampanye, warga Rantipuji, Jember, Jawa Timur, misalnya berlomba menerbangkan layang-layang bertuliskan nama capres dan nomor urut mereka. Layang-layang tersebut diterbangkan seolah "berlaga". Warga setempat sengaja membuat layangan, tiga hari sebelum kampanye, khusus untuk menyemarakkan acara [baca: Wiranto ke Yogyakarta, Mega Berkeliling Jakarta].
Tidak semua layangan mampu bertahan. Ada warga yang tidak mampu mengendalikan layangannya, hingga akhirnya putus atau tersangkut pada kabel listrik. Kepada SCTV, para penduduk mengaku hanya mengenal empat kandidat, yakni Megawati Sukarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Amien Rais, dan Wiranto. Namun mereka berharap siapa pun yang menjadi pemimpin harus mampu mensejahterakan rakyat.(KEN/Yudi Sutomo)
Pada hari biasa, menurut Verry, layang-layang yang dijualnya cuma laku 500 sampai 600 buah. Tapi saat ini kondisinya berbeda. Pembeli malah berdatangan dari berbagai sudut Kota Lumpia dan kota lain di Jateng. Harga layang-layang yang dipatok pun relatif murah, Rp 150 sampai Rp 250 per buah, tergantung ukuran dan warna.
Verry mengaku mendapat pasokan layang-layang bergambar capres dari Bandung, Jawa Barat. Di gudang milik Verry kini tersimpan lebih dari 5.000 layang-layang. Dia yakin dagangannya akan ludes sebelum masa kampanye berakhir. Sementara untuk melayani pembeli, Verry terpaksa menambah karyawannya menjadi empat orang.
Layang-layang bergambar capres memang bisa dijadikan ajang sosialisasi. Sejak hari kedua kampanye, warga Rantipuji, Jember, Jawa Timur, misalnya berlomba menerbangkan layang-layang bertuliskan nama capres dan nomor urut mereka. Layang-layang tersebut diterbangkan seolah "berlaga". Warga setempat sengaja membuat layangan, tiga hari sebelum kampanye, khusus untuk menyemarakkan acara [baca: Wiranto ke Yogyakarta, Mega Berkeliling Jakarta].
Tidak semua layangan mampu bertahan. Ada warga yang tidak mampu mengendalikan layangannya, hingga akhirnya putus atau tersangkut pada kabel listrik. Kepada SCTV, para penduduk mengaku hanya mengenal empat kandidat, yakni Megawati Sukarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Amien Rais, dan Wiranto. Namun mereka berharap siapa pun yang menjadi pemimpin harus mampu mensejahterakan rakyat.(KEN/Yudi Sutomo)