Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menawarkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk menanamkan investasi pada proyek industri kesehatan. Tawaran itu dilayangkan lantaran Menkes meyakini bahwa Danantara memiliki kecukupan modal untuk turut menggerakkan sektor industri kesehatan nasional.
"Kita akan membuka proyek-proyek investasi baru ke Danantara juga. Karena Danantara kan punya banyak dana yang bisa ditaruh. Nah, kesempatannya untuk mengembangkan (develop) industri kesehatan itu besar," ujarnya di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Advertisement
Salah satu proyek yang telah disodorkan adalah pabrik fraksionasi plasma darah di Karawang International Industrial City, yang dibangun oleh perusahaan biofarmasi Korea Selatan (Korsel) SK Plasma bersama Indonesia Investment Authority (INA).
"Investasi yang plasma ini, yang masuk kan INA, Indonesia Investment Authority. Nah, sekarang kan struktur INA bersinergi dengan Danantara ya. Jadi, Danantara sekarang dalam diskusi untuk masuk ke sana," terangnya.
Selain dengan Danantara, Menkes mengatakan pihaknya telah membagikan rencana pengembangan proyek tersebut kepada sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
"Sudah, sudah di-share dengan Kadin segala macam. Itu ada bukunya tuh khusus, dibikin dengan World Bank dan Kadin," ungkap Menkes Budi.
Hilirisasi Industri Farmasi
Pada kesempatan yang sama, Menkes Budi Gunadi Sadikin juga berkomitmen keras untuk mempercepat hilirisasi industri farmasi demi mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, target pertumbuhan 8 persen menjadi sesuatu yang harus dikejar sesegera mungkin. Lantaran ia tidak ingin Indonesia kehilangan kesempatan emas pada saat mengalami ledakan populasi generasi produktif, alias bonus demografi.
"Karena kalau tidak, kita kehilangan window of opportunity pada saat puncak bonus demografi kita. Kita akan kehilangan kesempatan untuk bisa menjadi negara maju yang pendapatannya (income) harus 14 ribu dolar GNI per kapita," ujarnya.
Tak Ingin Middle Income Forever
"Sekali sudah kehilangan, sudah lose momentum, kita akan middle income forever (menjadi negara berpendapatan menengah selamanya)," kata Budi Gunadi Sadikin mengingatkan.
Menkes pun telah membujuk Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan agar alokasi anggaran untuk belanja kesehatan bisa lebih dihemat. Sebab, negara bisa menghabiskan hingga 16 persen dari porsi anggaran hanya untuk impor produk kesehatan.
"Memang semua belanja ini belum tertranslasikan menjadi pertumbuhan ekonomi di sektor kesehatan, karena sebagian besar masih impor. Jadi yang menikmati (enjoy) GDP growth dan job growth-nya itu negara lain," tegasnya.