Akhir Kisah Jasad Terpelintir yang Jatuh dari Langit Kota London

Pada 9 September 2012, warga London dihebohkan dengan temuan jasad yang tak diketahui asalnya. Jatuh dari langit.

oleh Elin Yunita KristantiDiterbitkan 07 Januari 2014, 11:27 WIB
Akhir Kisah Jasad Terpelintir yang Jatuh dari Langit Kota London

Hari itu, 9 September 2012, warga Portman Road di Mortlake, sisi selatan Sungai Thames, London dikagetkan suara benturan keras. Beberapa saat kemudian, mereka menemukan jasad seorang pria yang terpelintir, dikelilingi kolam darah. Entah dari mana asalnya, seperti jatuh dari langit. Memang benar, ia jatuh dari langit.

Dari bagian bawah pesawat yang terbang di atas London. Burung besi itu lepas landas di Luanda, Angola. Namun, untuk beberapa lama, identitasnya menjadi misteri. Tak ada dokumen identitas yang ditemukan di jasadnya, dan tak ada satu orang pun yang melaporkan kehilangannya.

Polisi nyaris angkat tangan berusaha mencari kerabat korban. Hingga suatu hari, muncul titik terang dari lokasi nun jauh di seberang benua. Sebuah keluarga melayangkan laporan ke Kepolisian Mozambik. Korban lalu diidentifikasi sebagai sebagai Jose Matada.

Asal Mozambik. Seperti dikabarkan BBC, Selasa (7/1/2014) ibu Jose, Eugenia Ndazwedjua dan kakaknya, Paulino Domingos Matada menceritakan bagaimana mereka mengetahui kabar duka itu. Dari sebuah koran lokal, Verdade. "Aku sangat terkejut, tak karuan rasanya mengetahui ia telah tewas," kata Paulino.

Sang kakak sama sekali tak mengira, ia berpikir Jose ada di Afrika Selatan-- di mana ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan tukang kebun. Kali terakhir Paulino bicara dengan adiknya adalah pada Juni 2012. Setelahnya, ia beberapa kali berusaha menghubungi Jose, dan tak pernah berhasil. "Aku bertanya pada teman-temannya, adikku ada di mana.

Namun, jawabannya, 'dia sudah menghilang'. Aku sama sekali tak mengira ia pergi ke negara lain. Aku masih berharap ia tiba-tiba muncul dan suatu hari menghubungiku. " Jose Matada menempuh perjalanan panjang menuju akhirnya yang tragis.

Dua benua, 8 negara. Hingga hari ini Paulino mengaku belum yakin, mengapa Jose menyelinap dalam pesawat yang terbang dari Angola. Ia menduga, Jose ingin menyusul mantan majikannya, yang pindah dari Afrika Selatan ke Swiss. " Ketika saya mendengar dia telah meninggal, saya menemukan kartu Sim-nya.

Ada pernyataan cinta di sana. "Apapun alasannya -- apakah Jose cinta mati dengan mantan majikannya atau ia berusaha ke Eropa untuk mendapatkan pekerjaan di sana -- tetap jadi misteri. Sebagian besar penumpang gelap pada penerbangan jarak jauh tewas akibat rasa dingin tak terperi dan kurang oksigen. Jose salah satunya.

Ibu korban, Eugenia memendam harap, jasad anaknya bisa dipulangkan ke Mozambik. "Ia seharusnya dimakamkan di desa ini, di sebelah ayahnya, dikelilingi makam kerabatnya, juga dua anakku yang telah meninggal. Tapi kami tak punya uang untuk membawanya pulang," kata dia. Keluarga Jose tak bisa mengumpulkan uang 7.

000 poundsterling atau Rp 140 juta untuk merepatriasi jasadnya. "Aku telah berusaha... Ayahnya sudah meninggal lama. Meski kami miskin aku masih punya anak-anak -- mereka satu-satunya harta dan hiburan yang kumiliki,' kata Eugenia.

Makam Jose Matada di Twickenham, barat London adalah kuburan tanpa nama. Tanpa tengara di nisannya -- nama, atau tanggal lahirnya. Namun, kini kita tahu Jose Matada lahir pada 8 September 1985. Ia meninggal di London 9 September 2012, pagi hari setelah ulang tahunnya ke-27.

(Ein/Mut) 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya