Perayaan Muharram di Sekolah Demak Panen Hujatan

Video perayaan 1 Muharram di sebuah sekolah Islam di Demak Jateng menuai hujatan dari masyarakat. Ada apa?

oleh Arief PramonoDiterbitkan 23 Juni 2026, 22:40 WIB
Grup Drumband Seksi Meriahkan Gebyar Muharram di Sekolah Panen Hujatan, Begini Alasan MTs-MA NU Mranggen Demak

Liputan6.com, Demak - Penyelenggaraan Gebyar Muharram ke-16 di kompleks MTs-MA NU Mranggen, Demak Jawa Tengah, menuai respons negatif di kalangan masyarakat.

Pihak sekolah di bawah lembaga pendidikan Ma'arif itu dinilai sembrono karena mengundang grup drum band dari luar sekolah berpakaian minim. Alih-alih mendapat dukungan dan respons positif, pihak sekolah malah mendapat hujatan. 

Masyarakat menilai, kostum pemain drumband yang mempertontonkan aurat tidak cocok untuk mengisi acara peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, apalagi di lingkungan sekolah berlabel sekolah Islam.

Usai videonya tersebar dan viral, pihak sekolah menyampaikan permohonan maaf. Pihak lembaga MTs-MA NU Mranggen mengaku menyesal. Selain itu, menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi untuk pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang. ‎

Permintaan maaf itu diungkapkan ‎Kepala MTs NU Mranggen, Muhamad Abdul Kodir. Ia membenarkan video yang viral itu merupakan agenda yang digelar pada 16 Juni 2026 di sekolah setempat.

Menurut Abdul, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang diselenggarakan tiap tahun menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

"Acara tersebut tidak hanya menampilkan parade drumband, tetapi juga diisi berbagai kegiatan keagamaan dan penghargaan bagi siswa berprestasi," ujar Abdul Kodir, saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (23/6/2026). ‎ ‎

Abdul Kodir menyebut, penampilan hiburan yang menjadi sorotan berasal dari kelompok drum band umum. Mereka ikut meramaikan kegiatan tersebut di sekolah setempat.

Menurut Abdul Kodir, kehadiran grup drumband itu berasal dari kelompok umur di luar sekolah. Pihaknya juga menegaskan bahwa para penampil grup drumband bukan berasal dari siswa MTs NU Mranggen.

‎‎"Tampilan yang viral itu berasal dari grup drumband umum. Bukan dari siswa MTs NU Mranggen maupun peserta pelajar yang mengikuti kegiatan ini," terang Abdul Kodir. ‎

Abdul ‎Kodir mengakui bahwa pihak panitia penyelenggara sebenarnya telah memberikan arahan kepada seluruh peserta agar menjaga etika dan ketertiban.

"Selain itu, menyesuaikan penampilan dengan karakter kegiatan yang berlangsung di lingkungan pendidikan dan keagamaan. Arahan tersebut juga telah disampaikan dalam rapat teknis sebelum acara digelar," papar Abdul Kodir. ‎ ‎

Namun saat hari H penyelenggaraan acara, pihak panitia mengaku tidak menduga akan muncul penampilan grup drumband yang memicu perbincangan publik.

Karena itu, pihak MTs-MA NU Mranggen mengaku siap menerima berbagai masukan yang berkembang usai kejadian tersebut. Pihak sekolah setempat siap melakukan pembenahan pada penyelenggaraan kegiatan berikutnya. ‎ ‎

 

Pihak Sekolah Minta Maaf

Abdul Kodir memaparkan, Gebyar Muharram tahun ini diikuti 26 grup drum band. Dari jumlah itu, hanya tiga grup yang berasal dari kalangan pelajar, yakni satu grup dari MTs NU Mranggen dan dua grup dari tingkat taman kanak-kanak.

"Untuk peserta selebihnya merupakan grup drum band umum dari berbagai daerah," imbuh Abdul Qodir. ‎ Abdul ‎Kodir menyebut bahwa berkurangnya jumlah peserta drumband dari kalangan pelajar, karena banyak grup drumband sekolah yang saat ini tidak lagi aktif.

Kondisi tersebut membuat panitia penyelenggara Gebyar Muharram ke-16 di MTs-MA NU Mranggen, memberikan porsi lebih besar kepada peserta umum agar kegiatan tetap berjalan meriah.

‎‎"Kami biasanya membagi kuota antara pelajar dan umum. Karena banyak grup pelajar yang vakum, kuota tersebut akhirnya dialihkan kepada peserta umum," tutur Abdul Kodir berdalih. ‎ ‎

Selain parade drumband, rangkaian Gebyar Muharram juga diisi kegiatan mujahadah, wisuda serta pemberian apresiasi kepada siswa berprestasi.

Salah satu bentuk penghargaan yang diberikan kepada siswa berprestasi, berupa hadiah sepeda motor bagi siswa yang berhasil menghafal 30 juz Al-Qur'an. ‎

‎Pihak MTs-MA NU Mranggen Demak pun berharap, masyarakat dapat melihat keseluruhan tujuan kegiatan yang berfokus pada syiar Islam. Selain itu, sebagai pembinaan karakter serta pengembangan prestasi siswa.

Meski demikian, imbuh Abdul Kodir tetap menerima masukan dari masyarakat dan menjadi perhatian serius bagi panitia penyelenggara Gebyar 1 Muharam. ‎ ‎

"Kami memohon maaf atas kegaduhan yang muncul. Kejadian ini menjadi bahan introspeksi agar kegiatan berikutnya dapat berlangsung lebih baik dan sesuai harapan semua pihak," tegas Kodir. ‎ ‎

Ia menambahkan bahwa seluruh pihak, termasuk penyelenggara dan komunitas drumband, perlu bersama-sama menjaga etika penampilan. Dengan harapan kegiatan seni dan hiburan tetap dapat berjalan, tanpa menimbulkan polemik di tengah masyarakat. ‎

‎"Harapannya pelaksanaan Gebyar Muharram pada tahun-tahun mendatang dapat lebih tertata, tetap meriah, sekaligus selaras dengan nilai-nilai pendidikan dan keagamaan yang menjadi identitas lembaga," pungkasnya. ‎

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya