Liputan6.com, Jakarta - Kotak styrofoam bekas yang biasa dibuang ternyata menyimpan potensi besar. Cara ternak cacing dalam kotak styrofoam bekas kini menjadi pilihan banyak orang yang ingin memulai usaha sampingan dari rumah. Dengan modal yang kecil, siapa pun bisa mencobanya tanpa perlu lahan luas atau peralatan mahal.
Permintaan cacing tanah terus meningkat dari kalangan pemancing, peternak ikan, hingga industri farmasi. Cara ternak cacing dalam kotak styrofoam bekas menjawab kebutuhan itu dengan cara yang praktis dan efisien. Satu kotak styrofoam saja sudah cukup untuk memulai, dan hasilnya bisa dipanen dalam waktu tiga hingga enam bulan.
Advertisement
Bagi pemula, memahami setiap tahapannya adalah kunci keberhasilan. Berikut adalah cara ternak cacing dalam kotak styrofoam bekas dalam sembilan tahap, yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (29/6/2026).
1. Siapkan Kotak Styrofoam
Langkah pertama adalah menyiapkan kotak styrofoam bekas yang masih dalam kondisi baik. Kotak bekas buah atau box ikan dengan ukuran sekitar 90 x 50 x 36 cm adalah pilihan yang paling umum digunakan. Pastikan kotak tidak berlubang besar, tidak hancur, dan sudah dibersihkan sebelum dipakai.
Lapisi bagian dalam kotak dengan plastik bening jika styrofoam yang digunakan tipis atau mudah bocor. Beri alas dari karung atau bahan sejenis yang tidak mudah menyerap kelembapan. Buat beberapa lubang kecil seukuran jarum di bagian dasar kotak agar air berlebih bisa keluar dan media tidak menjadi terlalu becek.
2. Siapkan Media Tanam
Media tanam adalah tempat hidup cacing sekaligus sumber nutrisinya. Gunakan tanah humus sebagai bahan utama karena mengandung banyak nutrisi alami yang dibutuhkan cacing. Isi kotak dengan tanah humus setinggi 5 hingga 10 cm, lalu tambahkan pupuk kompos atau pupuk kandang jika tanah yang tersedia kurang subur.
Selain tanah humus, campuran serbuk gergaji yang sudah lapuk dan kompos juga bisa digunakan sebagai variasi media. Pastikan media dalam kondisi lembap sebelum bibit cacing dimasukkan. Kelembapan yang cukup membantu cacing bergerak dan bernapas dengan baik sejak awal.
3. Tentukan Lokasi Penempatan
Kotak styrofoam berisi cacing harus diletakkan di tempat yang tepat agar cacing bisa hidup dan berkembang biak. Pilih lokasi yang teduh, tidak terkena sinar matahari langsung, dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Tempat seperti kolong rak, teras belakang yang teduh, atau sudut ruangan bisa menjadi pilihan.
Suhu lingkungan sangat berpengaruh pada pertumbuhan cacing. Pertumbuhan dan pembiakan cacing akan menurun jika suhu melebihi 30 derajat Celcius atau di bawah 20 derajat Celcius. Oleh karena itu, hindari meletakkan kotak di area yang terpapar panas langsung atau terlalu lembap tanpa sirkulasi udara.
4. Masukkan Bibit Cacing
Setelah media siap dan lokasi ditentukan, langkah berikutnya adalah memasukkan bibit cacing ke dalam kotak. Jenis cacing yang cocok untuk dibudidayakan antara lain Lumbricus, Pheretima, dan Periony. Bibit bisa dibeli di toko pakan hewan atau dari peternak cacing di sekitar tempat tinggal.
Untuk satu kotak ukuran standar, cukup isi dengan 50 hingga 100 ekor bibit cacing agar tidak terlalu padat. Kepadatan yang berlebihan bisa membuat cacing stres dan memperlambat pertumbuhannya. Basahi media terlebih dahulu sebelum bibit dimasukkan agar cacing bisa langsung beradaptasi dengan lingkungan barunya.
5. Beri Pakan Secara Rutin
Cacing membutuhkan asupan pakan organik yang cukup untuk tumbuh dan berkembang biak. Sisa sayuran dapur yang sudah agak membusuk, ampas tahu, kotoran hewan, dan limbah pertanian organik bisa digunakan sebagai pakan. Bahan-bahan ini mudah didapat dan tidak memerlukan biaya tambahan.
Cara memberi pakan yang benar adalah dengan menanamnya sedikit ke dalam media, bukan diletakkan begitu saja di permukaan. Hindari memberi pakan berlebihan karena bisa membuat media menjadi asam dan membahayakan cacing. Pakan bisa diberikan dua hingga tiga kali dalam seminggu sesuai kebutuhan.
6. Jaga Kelembapan dan Kondisi Kotak
Kelembapan adalah faktor utama yang menentukan keberhasilan ternak cacing. Tutup kotak dengan kain basah atau paranet agar kondisi di dalam tetap gelap dan lembap. Cacing lebih aktif bergerak di malam hari dan akan menghindari area yang terkena cahaya terang.
Periksa kelembapan media secara rutin setiap dua hingga tiga hari sekali. Jika media terasa kering, semprotkan sedikit air hingga lembap kembali. Sebaliknya, jika terlalu basah, buka penutup sebentar agar ada sirkulasi udara yang cukup untuk mengeringkan kelembapan berlebih.
7. Ganti Media Sebulan Sekali
Penggantian media dilakukan setiap satu bulan sekali sebagai bagian dari perawatan rutin. Tujuannya untuk memisahkan induk cacing dari anakan, membersihkan kotoran yang menumpuk, dan menjaga kualitas lingkungan hidup cacing. Proses ini juga memberi kesempatan telur cacing untuk menetas dengan kondisi yang lebih baik.
Media bekas cacing yang sudah dipanen tidak perlu dibuang. Tanah tersebut sudah kaya nutrisi dan bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Tanah bekas juga bisa dicampurkan kembali ke media baru sebagai bahan tambahan yang memperkaya kandungan mineralnya.
8. Siapkan Media Khusus untuk Bertelur
Saat cacing mulai bertelur, siapkan media khusus yang mendukung proses penetasan. Campuran jerami, kompos kering, dan pupuk kandang adalah media yang paling banyak direkomendasikan untuk tahap ini. Masukkan media tersebut ke dalam kotak perkembangbiakan yang sudah disiapkan secara terpisah.
Kokon atau telur cacing yang ditemukan saat penggantian media sebaiknya dipindahkan ke kotak khusus ini. Jangan membuang tanah yang masih mengandung kokon karena telur tersebut masih bisa menetas dan menjadi bibit untuk siklus budidaya berikutnya. Proses ini memastikan kelangsungan produksi tanpa perlu membeli bibit baru.
9. Panen Cacing
Cacing sudah siap dipanen setelah tiga hingga enam bulan sejak bibit pertama kali dimasukkan. Cara memanen yang paling mudah adalah dengan mendekatkan sumber cahaya ke permukaan media. Karena tidak menyukai cahaya, cacing akan bergerak turun ke bagian bawah dan bisa dikumpulkan dari permukaan atas dengan cepat.
Pisahkan cacing dewasa dari kokon saat panen berlangsung. Kokon dikembalikan ke media untuk siklus budidaya selanjutnya. Dengan modal awal 0,5 kg bibit, hasil panen bisa mencapai 5 kg cacing dewasa. Cacing hasil panen bisa dijual langsung ke pemancing, peternak ikan, atau diolah lebih lanjut untuk kebutuhan farmasi dan pupuk organik.
Pertanyaan Seputar Ternak Cacing dalam Kotak Styrofoam
1. Berapa lama cacing tanah bisa dipanen setelah dibudidayakan?
Cacing tanah bisa dipanen setelah tiga hingga enam bulan sejak bibit pertama kali dimasukkan ke dalam media. Waktu panen tergantung pada jenis cacing, kualitas media, dan konsistensi perawatan yang dilakukan.
2. Berapa banyak bibit cacing yang dibutuhkan untuk satu kotak styrofoam?
Untuk satu kotak ukuran standar 90 x 50 x 36 cm, cukup isi dengan 50 hingga 100 ekor bibit cacing. Jumlah ini ideal untuk pemula dan tidak terlalu padat sehingga cacing bisa berkembang biak dengan baik.
3. Apa saja pakan yang bisa diberikan untuk cacing tanah?
Pakan cacing bisa berupa sisa sayuran dapur yang sudah agak membusuk, ampas tahu, kotoran hewan, dan limbah pertanian organik. Hindari memberi makanan yang mengandung minyak, garam, atau bahan kimia karena bisa membahayakan cacing.
4. Apakah kotak styrofoam bekas aman digunakan untuk ternak cacing?
Kotak styrofoam aman digunakan selama dalam kondisi bersih, tidak hancur, dan tidak pernah digunakan untuk menyimpan bahan berbahaya seperti pestisida atau bahan kimia. Jika ragu, lapisi bagian dalam dengan plastik bening sebelum diisi media.
5. Di mana tempat terbaik untuk menjual cacing hasil ternak?
Cacing hasil panen bisa dijual ke toko pakan burung, komunitas pemancing, peternak ikan, atau pedagang di pasar hewan. Selain itu, cacing juga bisa ditawarkan ke industri farmasi yang membutuhkan tepung cacing sebagai bahan baku produk kesehatan.