Liputan6.com, Jakarta - Langkah Uni Eropa untuk menekan peredaran kendaraan listrik (EV) asal China ternyata belum berakhir. Setelah tarif untuk mobil bertenaga murni alias BEV dipatok dengan cukup tinggi, kali ini Brussels dikabarkan menyiapkan kebijakan yang sama untuk mobil plug-in hybrid (PHEV) buatan Tiongkok.
Kebijakan tersebut, disebut sebagai respons atas meningkatnya penjualan kendaraan hibrida China di kawasan Benua Biru.
Advertisement
Disitat dari Carsoops, sejumlah produsen otomotif China mulai mengalihkan fokus ke model PHEV, setelah tarif mobil listrik diberlakukan pada 2024. Strategi tersebut terbukti efektif karena PHEV selama ini hanya dikenakan bea masuk standar Uni Eropa sebesar 10 persen, dan belum terkena tarif tambahan seperti BEV.
Akibatnya, penjualan PHEV dari merek-merek Tiongkok melonjak tajam di pasar Eropa. Kondisi ini dinilai menciptakan celah yang memungkinkan pabrikan Negeri Tirai Bambu tetap mempertahankan daya saingnya, meski tarif telah diberlakukan. Karena itu, otoritas Uni Eropa kini dikabarkan mempertimbangkan langkah lanjutan untuk menutup celah tersebut.
Menurut laporan yang mengutip pejabat tinggi Uni Eropa dan sumber industri, Komisi Eropa telah menyiapkan mekanisme agar tarif tambahan terhadap mobil hybrid China dapat segera diterapkan setelah memperoleh dukungan mayoritas negara anggota. Sejumlah produsen besar seperti BYD, Chery, dan SAIC disebut berpotensi terdampak apabila kebijakan tersebut resmi berlaku.
Kebijakan baru ini juga menjadi bagian dari upaya Uni Eropa untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dari China, sekaligus menekan ketidakseimbangan perdagangan yang terus melebar.
Industri Otomotif Eropa Khawatir
Dalam beberapa tahun terakhir, industri otomotif Eropa semakin khawatir dengan ekspansi agresif merek-merek China yang menawarkan teknologi modern dengan harga lebih kompetitif.
Sejak Oktober 2024, Uni Eropa telah mengenakan tarif tambahan terhadap kendaraan listrik buatan China di luar bea masuk standar 10 persen.
Namun aturan tersebut tidak mencakup mobil hybrid, sehingga banyak produsen China memanfaatkan segmen tersebut untuk memperluas pangsa pasarnya di Eropa.
Bahkan sejumlah analis menilai pergeseran ke PHEV menjadi salah satu strategi paling efektif untuk menghindari dampak tarif kendaraan listrik.