Liputan6.com, Jakarta - Ekspor Liquefied Petroleum Gas (LPG) Australia ke Indonesia meningkat setidaknya tiga kali lipat sepanjang 2026 dibandingkan tahun lalu. Demikian menurut pernyataan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, yang dirilis Senin (2/5/2026).
Tambahan pasokan itu berasal dari Ichthys Project yang dioperasikan INPEX di Australia Barat dan Northern Territory.
Advertisement
Kedutaan Besar Australia menyebut peningkatan ekspor terjadi seiring gangguan terhadap jalur pasokan energi global akibat penutupan Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu rute penting perdagangan LPG dunia.
Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier mengatakan kerja sama kedua negara menunjukkan kemampuan Australia dan Indonesia untuk saling mendukung ketika terjadi disrupsi rantai pasok global.
"Ketika gangguan di Timur Tengah memengaruhi rantai pasok global, Indonesia dan Australia saling mendukung dengan meningkatnya ekspor urea Indonesia ke Australia serta bertambahnya pasokan LPG Australia ke Indonesia," kata Brazier.
Sementara itu, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela menilai peningkatan perdagangan kedua komoditas tersebut mencerminkan kuatnya hubungan bilateral Indonesia dan Australia.
"Kerja sama ini mencerminkan persahabatan yang langgeng dan kemitraan yang kuat antara Australia dan Indonesia. Hal ini menunjukkan bagaimana kedua negara dapat bekerja sama untuk memperkuat ketahanan energi, meningkatkan resiliensi rantai pasok, serta mendorong kepentingan ekonomi bersama," ujarnya.
Ichthys Project sendiri memiliki keterkaitan dengan Indonesia karena sejumlah infrastruktur utamanya diproduksi di Batam, mencerminkan hubungan antara sektor sumber daya lepas pantai Australia dan industri manufaktur Indonesia.