Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Malaysia akan menurunkan harga solar (diesel) menjadi 2,10 Ringgit Malaysia per liter atau sekitar US$ 0,51 per liter bagi warga negaranya mulai Juli 2026. Kebijakan ini diambil untuk mengatasi maraknya penyelundupan dan kebocoran pendapatan negara akibat perbedaan harga yang lebar antara solar bersubsidi dan non-subsidi.
Dikutip dari Channel News Asia, Senin (22/6/2026), saat ini, harga solar bersubsidi di negara bagian Sabah dan Sarawak ditetapkan sebesar 2,15 Ringgit per liter, sedangkan di wilayah Semenanjung Malaysia mencapai 4,37 Ringgit per liter.
Advertisement
Dengan kebijakan baru tersebut, masyarakat di Semenanjung Malaysia nantinya akan menikmati harga solar yang kurang dari setengah harga yang berlaku saat ini.
Sejak Juni 2024, pemerintah Malaysia telah menerapkan mekanisme harga pasar (floating price) untuk solar di Semenanjung Malaysia. Sementara itu, wilayah Malaysia Timur seperti Sabah dan Sarawak tetap memperoleh subsidi karena kendaraan berbahan bakar solar, khususnya kendaraan penggerak empat roda (4x4), dianggap sebagai kebutuhan utama untuk menghadapi kondisi geografis yang berat.
Bahkan pada April 2026, harga solar di Semenanjung Malaysia sempat mencapai rekor tertinggi sebesar 6,72 Ringgit per liter.
Selisih Harga Picu Penyelundupan
Kementerian Keuangan Malaysia dalam pernyataannya pada Minggu (21/6/2026) menyebutkan bahwa kesenjangan harga solar antara Sabah, Sarawak, dan Semenanjung Malaysia telah menciptakan peluang terjadinya kebocoran subsidi serta praktik penyelundupan solar bersubsidi, termasuk ke luar negeri.
Namun demikian, pemerintah belum menjelaskan sumber pendanaan tambahan untuk menopang kebijakan subsidi tersebut. Padahal, anggaran negara saat ini juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya energi yang dipicu konflik di Iran.
Menteri Keuangan II Malaysia, Amir Hamzah Azizan dijadwalkan akan mengumumkan rincian lebih lanjut terkait kebijakan tersebut.
Beban Subsidi Energi Melonjak
Sebelumnya, pada Maret 2026, Amir Hamzah mengungkapkan bahwa tagihan subsidi bahan bakar pemerintah diperkirakan melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi sekitar 3,2 miliar Ringgit per bulan, dibandingkan sebelumnya sekitar 700 juta Ringgit per bulan.
Lonjakan tersebut dipicu kenaikan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan perang yang melibatkan Iran.
Di tengah tekanan tersebut, Malaysia juga terus mencari sumber energi alternatif guna menjaga ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan global yang terganggu.
Petronas Perluas Akses Cadangan Gas Dunia
Secara terpisah, perusahaan energi nasional Malaysia, Petronas, mengumumkan penandatanganan sejumlah perjanjian baru di Turkmenistan.
Kesepakatan tersebut mencakup kerja sama dengan perusahaan milik negara, yakni Turkmennebit dan Hazarnebit, untuk memperkuat kehadiran Petronas di kawasan Laut Kaspia sekaligus memperluas portofolio bisnis hulu migas.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan kerja sama tersebut akan membuka akses Malaysia terhadap salah satu cadangan gas terbesar di dunia.
Menurut Anwar, langkah ini berpotensi meningkatkan ekspor energi Malaysia ke sejumlah negara mitra seperti China, Japan, dan South Korea.
Selain itu, Anwar juga mengungkapkan bahwa Russia telah memberikan jaminan pasokan minyak, gas, dan solar jangka panjang kepada Malaysia untuk periode sedikitnya 20 tahun, meski belum merinci detail kesepakatan tersebut.
Kebijakan penurunan harga solar ini menunjukkan upaya pemerintah Malaysia untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus menekan kebocoran subsidi energi yang selama ini menjadi tantangan besar di tengah gejolak pasar energi global.