PM Belanda Minta Maaf kepada Komunitas Maluku

Permintaan maaf disampaikan langsung di hadapan ratusan perwakilan keluarga komunitas Maluku dalam rangkaian upacara peresmian Monumen Ulu Kora.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 22 Juni 2026, 07:00 WIB
Perdana Menteri Belanda Rob Jetten meminta maaf kepada komunitas Maluku atas perlakuan yang mereka alami. (Dok. Robin Utrecht/AFP)

Liputan6.com, Amsterdam - Perdana Menteri (PM) Belanda Rob Jetten pada Minggu (20/6/2026) menyampaikan permintaan maaf resmi negara kepada anggota komunitas Maluku atas perlakuan buruk yang mereka alami selama beberapa dekade setelah Indonesia meraih kemerdekaan.

Banyak warga Maluku dari wilayah yang dikenal sebagai "Kepulauan Rempah" di Indonesia timur bertempur di pihak tentara kolonial Belanda selama perjuangan kemerdekaan Indonesia pasca-Perang Dunia II. 

Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan pada 1949, sekitar 12.500 warga Maluku dipindahkan ke Belanda melalui program yang diselenggarakan negara untuk menghindari aksi pembalasan.

Mereka semula dibawa ke Eropa dengan janji dari pemerintah Belanda bahwa mereka hanya akan tinggal sementara, sebelum nantinya dipulangkan setelah situasi politik di tanah air aman.

Namun, Belanda mengingkari janjinya untuk mengembalikan mereka ke tanah air mereka. Warga Maluku kemudian ditempatkan dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan upaya yang sangat minim untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan maupun berintegrasi dengan masyarakat Belanda secara lebih luas.

Saat meresmikan Monumen Ulu Kora—sebuah monumen berbentuk haluan kapal tradisional Maluku setinggi empat meter untuk memperingati kedatangan dan sejarah migrasi mereka di Belanda—PM Jetten menyampaikan kepada ratusan warga Maluku yang berkumpul bahwa sudah saatnya pemerintah menyampaikan permintaan maaf resmi.

"Atas penerimaan dan penyediaan tempat tinggal yang tidak memadai, karena diabaikan dan ditelantarkan, karena kerinduan akan kampung halaman yang tak pernah terwujud, serta atas duka dan penderitaan yang dialami begitu banyak keluarga, saya menyampaikan permintaan maaf hari ini atas nama pemerintah Belanda," kata PM Jetten seperti dilaporkan France 24. 

Monumen Ulu Kora diresmikan di Lloydkade, Rotterdam, tempat kapal-kapal pertama yang mengangkut warga Maluku tiba di Belanda. 

Mereka yang sebelumnya bertugas di militer langsung diberhentikan dari dinas dan banyak di antara mereka ditempatkan di bekas kamp konsentrasi yang digunakan untuk mengumpulkan warga Yahudi pada masa pendudukan Nazi di Belanda. 

Pada dekade 1970-an terjadi sejumlah aksi kekerasan yang dilakukan generasi kedua warga Maluku, yang merasa dikhianati oleh Belanda karena gagal mewujudkan tanah air merdeka yang mereka harapkan.

"Saya menyadari ketidakadilan ini tidak dapat serta-merta dihapus dengan permintaan maaf. Kita tidak dapat mengubah jalannya sejarah dan kenyataan hari ini hanya dengan beberapa kalimat," ujar PM Jetten.

"Namun saya berharap kata-kata yang baru saja saya sampaikan dapat diterima sebagai bentuk pengakuan dan tindakan keadilan historis bagi Anda," katanya kepada anggota komunitas tersebut, yang banyak di antaranya menggenggam foto anggota keluarga generasi pertama warga Maluku yang kini telah meninggal dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya