Liputan6.com, Jakarta - Alih-alih terjebak dalam kiasan kuno bahwa teknologi itu sepenuhnya buruk, Toy Story 5 justru menghadirkannya sebagai kekuatan disruptif yang bermata dua--bisa membantu atau justru merusak--tergantung bagaimana ia digunakan.
Melalui narasi ini, film yang disutradarai Andrew Stanton dan McKenna Grace ini menyelipkan pesan kuat bagi para orangtua: perlunya pendekatan langsung dan aktif dalam memandu anak-anak mengelola gawai, terutama terkait screen time dan ancaman cyberbullying (perundungan siber) di media sosial.
Advertisement
Toy Story 5 berpusat pada Bonnie, anak perempuan yang kesulitan mencari teman. Di lingkungan rumahnya, hanya Bonnie yang tidak memiliki tablet Lilypad.
Ia lebih memilih bermain secara konvensional, merajut skenario bermain murni dari imajinasinya bersama Woody, Buzz, dan mainan warisan Andy lainnya.
Demi membantu sang anak bersosialisasi, orang tua Bonnie akhirnya luluh dan membelikan sebuah Lilypad (diisi suara oleh Greta Lee).
Bak konsultan korporat yang ambisius, Lilypad langsung merancang cara terbaik agar Bonnie bisa mendapatkan teman. Tablet tersebut mengirimkan permintaan pertemanan ke beberapa anak perempuan seumuran Bonnie, yang berujung pada undangan menginap.
Namun, alih-alih bermain bersama, anak-anak tersebut justru tenggelam dalam layar tablet masing-masing tanpa interaksi verbal.
Konflik menajam saat anak-anak tersebut mulai merundung Bonnie karena masih memainkan mainan jadul. Beruntung, orangtua Bonnie bertindak tegas dengan mematikan akses jaringan sosial pada tablet tersebut.
Dilansir Engadget, Selasa (23/6/2026), fenomena itu mencerminkan realitas hari ini. Di dunia nyata, platform media sosial khusus anak seperti Zigazoo atau JusTalk Kids kian menjamur.
Meski dipasarkan sebagai ruang aman, dinamika sosial yang toxic dan perilaku perundungan antar-anak tetap tidak bisa dihindari tanpa pengawasan.
Menghubungkan Dua Dunia
Menariknya, film ini tidak sepenuhnya memusuhi teknologi. Toy Story 5 mengejutkan penonton dengan memperlihatkan sisi positif Lilypad.
Lewat sebuah aplikasi forum di tablet tersebut, Bonnie akhirnya berhasil terhubung dengan Blaze, anak perempuan lain yang juga gemar bermain dengan mainan konvensional. Tanpa bantuan teknologi, mereka kemungkinan besar tidak akan pernah bertemu.
Di sinilah letak relevansi film bagi para orangtua modern. Mengisolasi anak dari teknologi di era digital adalah hal yang mustahil. Bagaimanapun, gawai menyediakan game edukatif dan sarana komunikasi jarak jauh yang efektif dengan keluarga. Kuncinya bukan melarang, melainkan moderasi dan pendampingan.
Akhir dari Sebuah Era?
Meski membawa pesan moral yang kuat, Toy Story 5 terasa kurang tajam karena gagal memotret jenis permainan digital modern seperti Minecraft--sebuah game yang justru merefleksikan kebebasan imajinasi anak layaknya mainan fisik, namun dengan kompleksitas yang bisa bertahan hingga mereka dewasa.
Dengan masuknya era tablet, masa depan waralaba Pixar ini kian dipertanyakan. Setelah mengeksplorasi arti eksistensi hingga trauma kematian di film-film sebelumnya, konsep utama Toy Story tampaknya mulai 'kehabisan bensin'.
Toy Story 5 mungkin tidak seikonik trilogi orisinalnya, tetapi film ini sukses menjadi alarm keras bagi orangtua: dalam mengawasi anak di era digital, kita tidak bisa lagi duduk santai di kursi belakang.