Malaysia Kantongi Jaminan Energi Jangka Panjang dari Rusia dan Turkmenistan

Selain mengamankan kebutuhan domestik, manuver ini sekaligus memperluas wilayah operasi raksasa migas Petronas di kawasan Laut Kaspia.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 21 Juni 2026, 08:09 WIB
Presiden Vladimir Putin (kanan) bertemu Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di sela-sela KTT Rusia-ASEAN di Kazan, Rusia, Rabu (17/6/2026). (Dok. Sergei Bobylev/Sputnik/Kremlin Pool via AP)

Liputan6.com, Kuala Lumpur - Rusia menjamin pasokan minyak, gas, dan diesel bagi Malaysia setidaknya untuk 20 tahun ke depan. Hal itu disampaikan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada Sabtu (20/6/2026) setelah kembali dari kunjungan ke Rusia dan Turkmenistan.

"Presiden (Vladimir) Putin memberikan jaminan melalui kesepakatan jangka panjang bahwa pasokan minyak, gas, dan diesel Malaysia akan tetap terjamin setidaknya selama 20 tahun ke depan," kata Anwar saat acara peletakan batu pertama Setia Fontaines Industrial Park di Penang.

"Jaminan ini terwujud berkat hubungan persahabatan antara kedua negara," ujarnya, seperti dikutip The Star.

Anwar bersama para pemimpin Asia Tenggara lainnya berada di Kazan, Rusia, untuk menghadiri KTT ASEAN-Rusia pada 17-18 Juni. 

Di sela-sela KTT, Anwar menggelar pertemuan bilateral dengan Putin untuk membahas keamanan energi, kerja sama pasokan minyak, teknologi baru, serta sejumlah isu lainnya. 

Sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari yang mengganggu pasokan minyak dan gas ke Asia melalui Selat Hormuz, negara-negara Asia Tenggara berlomba mendapatkan minyak Rusia guna mengatasi kekurangan pasokan bahan bakar. AS dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara pada 17 Juni.

Filipina, Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Myanmar termasuk di antara negara-negara yang menunjukkan minat untuk membeli minyak dan gas Rusia.

Langkah tersebut dilakukan meskipun berpotensi menimbulkan gesekan dengan sekutu seperti AS dan negara-negara Eropa yang mendukung Ukraina dalam perang melawan Moskow, sebagaimana sebelumnya disampaikan para analis kepada CNA.

Malaysia sendiri tidak ikut menerapkan sanksi Barat terhadap Rusia setelah invasi negara itu ke Ukraina pada 2022. Kuala Lumpur tetap mempertahankan apa yang disebutnya sebagai kebijakan netralitas strategis.

 

Perkuat Posisi Malaysia sebagai Pemain Energi Global

Pada Sabtu, Anwar menyoroti pula sejumlah kesepakatan energi baru yang ditandatangani dengan Turkmenistan setelah kunjungannya ke negara tersebut pada 18-19 Juni.

Perusahaan energi nasional Malaysia, Petronas, akan terlibat dalam pengembangan dua blok gas besar yang, menurut Anwar, akan memperkuat posisi Malaysia sebagai pemain energi yang diperhitungkan di tingkat global.

Pernyataan itu disampaikan Anwar melalui unggahan di Facebook.

Petronas, melalui anak perusahaannya, Petronas Carigali (Turkmenistan) Sdn Bhd, memperluas kehadirannya di Laut Kaspia melalui perjanjian bagi hasil yang mencakup blok lepas pantai 19 dan 20. Demikian disampaikan perusahaan tersebut dalam siaran pers pada Jumat. 

Perjanjian itu ditandatangani bersama perusahaan negara Turkmennebit dan badan usaha milik negara Hazarnebit.

Petronas juga menandatangani perjanjian kerja sama untuk melakukan studi seismik dua dimensi (2D) di Blok Lepas Pantai Utara, kata perusahaan itu.

Anwar dan Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov menyaksikan langsung penandatanganan perjanjian tersebut.

Petronas telah beroperasi di Turkmenistan, salah satu produsen gas utama dunia, selama sekitar 30 tahun. Perusahaan itu mengembangkan Blok 1 di sektor Turkmenistan di Laut Kaspia sejak 1996 berdasarkan perjanjian bagi hasil.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Bernama, Anwar mengatakan kesepakatan tersebut merupakan hasil hubungan baik dan negosiasi antara kedua negara sejak Berdimuhamedov berkunjung ke Malaysia pada Desember 2024.

Anwar menegaskan perkembangan ini akan menjamin kebutuhan energi negaranya untuk beberapa dekade mendatang.

"Kami juga dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara mitra, khususnya China, Jepang, dan Korea Selatan yang memiliki permintaan energi tinggi," kata Anwar, seperti dikutip Bernama.

Malaysia mengekspor energi lebih banyak daripada yang diimpornya, dengan negara bagian Sarawak menjadi lokasi lebih dari 60 persen cadangan gas negara tersebut. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya