Langkah-Langkah Sunyi Menyusuri Jalur Jabal Nur ke Gua Hira

Mendaki Jabal Nur menuju Gua Hira bukanlah perjalanan mudah.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 20 Juni 2026, 20:07 WIB
Jabbal Nur (Foto: Asnida/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Jalan setapak itu tidak pernah benar-benar lurus. Kadang naik, sesekali berkelok di antara batu-batu Jabal Nur yang diam sejak berabad-abad lalu. Di bawah langit dini hari Makkah, para jemaah berjalan dalam diam yang panjang. Seolah setiap langkah adalah doa yang sedang disusun pelan-pelan.

Ali menjadi salah satu di antara mereka yang menapaki jalur itu. Ia menyebut perjalanan menuju Gua Hira bukan sekadar urusan fisik, juga tentang batin yang dipenuhi harap dan kesungguhan.

“Berkat niat yang kuat dan memperbanyak selawat, kami akhirnya sampai juga,” ucapnya lirih, masih menyisakan lelah yang bercampur haru, pada tim Media Center Haji di Makkah, Kamis, 18 Juni 2026.

Di titik-titik tertentu, rombongan berhenti sejenak. Napas diatur, air diminum, lalu langkah kembali disambung. Tidak ada yang benar-benar ringan di jalur ini, namun tak ada pula yang memilih berhenti.

Bagi Ali, kesabaran menjadi semacam kompas yang menjaga arah perjalanan tetap utuh. Tanpa itu, katanya, pendakian terasa lebih berat dari yang terlihat.

Ketika akhirnya Gua Hira tampak di hadapan, ruang sempit itu seperti membuka pintu waktu. Para jemaah segera larut dalam doa yang tak lagi terdengar jelas satu sama lain. Suasana menjadi rapat oleh rasa syukur yang tidak diucapkan dengan suara keras.

Di dalam gua yang sunyi itu, sejarah terasa seperti berjarak sangat dekat. Tempat yang dahulu menjadi ruang perenungan Nabi Muhammad SAW kini disinggahi manusia dari berbagai negar. Masing-masing membawa kisah dan kelelahan yang berbeda.

Namun di akhir perjalanan, semuanya bertemu pada satu titik yang sama. Keheningan yang membuat hati lebih mudah mengingat dan merenung.

"Di sini, langkah terasa seperti disederhanakan kembali," kata seorang jemaah lain yang ikut dalam rombongan.

Jabal Nur kembali menjadi saksi. Bahwa perjalanan manusia menuju makna kerap dimulai dari langkah yang tidak mudah.

 

Gua Hira dan Jejak Kesetiaan Siti Khadijah

Gua Hira (Foto: Asnida/Liputan6.com)

Di balik sunyi Gua Hira, ada kisah yang tidak hanya berbicara tentang turunnya wahyu pertama. Yakni sebuah kesetiaan yang berjalan tanpa banyak suara. Tempat itu menjadi ruang perenungan Nabi Muhammad SAW sebelum kenabian, ketika beliau kerap mengasingkan diri dari keramaian Makkah.

Tradisi tersebut bukan hal asing di kalangan Quraisy kala itu. Sejumlah catatan sejarah yang dihimpun Muhammad Husain Haekal dan Philip K. Hitti menyebut bahwa praktik menyepi untuk merenung telah dikenal sebagai bagian dari pencarian spiritual masyarakat Arab pra-Islam.

Dalam masa-masa pengasingan itu, Nabi Muhammad SAW menghabiskan waktu berhari-hari di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadan. Jarak dari kehidupan kota membuatnya berada dalam ruang hening yang panjang, tempat perenungan menjadi bagian dari keseharian.

Namun di balik itu, ada sosok yang tidak pernah jauh dari perjalanan tersebut. Siti Khadijah. Ia bukan hanya menunggu di rumah. Ia berjalan menuju Jabal Nur sambil membawa kebutuhan yang diperlukan. Melintasi medan tidak ringan, demi memastikan Rasulullah dapat menjalani khalwatnya dengan tenang.

Perjalanan yang kini dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam itu dahulu bukan perjalanan singkat. Setiap langkah yang ia ambil adalah bentuk dukungan yang tidak selalu tercatat dalam banyak riwayat populer, tapi terasa dalam kesinambungan sejarah.

Di titik ini, Khadijah tidak sekadar hadir sebagai istri, melainkan penopang yang menjaga ruang sunyi tetap bisa dijalani.

Setelah fase panjang tahannuts itu, turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-Alaq ayat 1–5 menjadi penanda perubahan besar dalam sejarah umat manusia. Peristiwa itu terjadi ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun, menandai awal dari risalah kenabian.

Sejak saat itu, Gua Hira tidak lagi sekadar ruang sunyi di lereng gunung. Itu menjadi simbol pertemuan antara perenungan manusia, kesetiaan yang tak banyak bicara, dan awal sebuah perjalanan sejarah yang mengubah arah peradaban.

Di antara bebatuan, nama Khadijah tetap hidup sebagai ingatan tentang cinta yang bekerja dalam diam, dan dukungan yang hadir bahkan sebelum dunia mengetahui apa yang sedang dimulai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya