Liputan6.com, Tokyo - Pada 22 Juni 1945, Pertempuran Okinawa resmi berakhir setelah berlangsung hampir tiga bulan. Pertempuran terbesar di kawasan Pasifik selama Perang Dunia II itu menewaskan ratusan ribu tentara dan warga sipil, sekaligus menjadi operasi militer besar terakhir sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu beberapa bulan kemudian.
Dilansir pada Senin (22/6/2026) dari Army, Pertempuran Okinawa merupakan pertempuran besar terakhir dalam Perang Dunia II. Pasukan Kekaisaran Jepang di bawah komando Jenderal Mitsuru Ushijima memanfaatkan medan berbukit serta jaringan gua alami di Pulau Okinawa untuk membangun sistem pertahanan berlapis yang memaksa pasukan Amerika Serikat bertempur sengit memperebutkan setiap wilayah.
Advertisement
Pertempuran dimulai pada 1 April 1945 ketika pasukan Amerika mendarat di Okinawa dalam operasi amfibi terbesar di Teater Pasifik. Perlawanan sengit dari pasukan Jepang membuat pertempuran berlangsung selama hampir tiga bulan dengan korban jiwa yang sangat besar di kedua belah pihak.
Pada 22 Juni 1945, pasukan Amerika akhirnya berhasil menguasai Pulau Okinawa. Dalam operasi pembersihan yang dilakukan setelahnya, ribuan tentara Jepang menyerahkan diri setelah mengetahui Jenderal Mitsuru Ushijima dan Letnan Jenderal Isamu Cho melakukan bunuh diri. Sementara itu, Kepala Staf Jepang Kolonel Hiromichi Yahara sempat dinyatakan tidak diketahui keberadaannya sebelum akhirnya ditangkap beberapa waktu kemudian.
Meski pemerintah militer Amerika telah mengumumkan berakhirnya pertempuran, bentrokan berskala kecil masih terjadi di sejumlah wilayah. Sebagian tentara Jepang memilih tetap bertahan dan melanjutkan perlawanan hingga titik darah penghabisan.
Pertempuran Okinawa menjadi salah satu operasi militer paling mahal bagi Amerika Serikat selama Perang Dunia II. Sebanyak 75.362 personel menjadi korban, baik akibat pertempuran maupun penyebab non-tempur. Dari jumlah tersebut, 12.520 orang tewas atau dinyatakan hilang, sedangkan 36.631 lainnya mengalami luka-luka.
Selain korban personel, Amerika Serikat kehilangan 763 pesawat, 36 kapal tenggelam, dan 368 kapal mengalami kerusakan selama operasi militer tersebut.
Di pihak Jepang, hampir seluruh pasukan yang berjumlah lebih dari 100.000 orang gugur atau terluka. Pertempuran itu juga menimbulkan korban sipil dalam jumlah sangat besar, dengan berbagai catatan sejarah memperkirakan lebih dari 100.000 warga Okinawa tewas akibat pertempuran, pengeboman, kelaparan, maupun aksi bunuh diri massal.
Berakhirnya Pertempuran Okinawa menjadi titik balik penting dalam fase akhir Perang Dunia II di kawasan Pasifik. Besarnya korban yang ditimbulkan memperkuat keyakinan Amerika Serikat bahwa invasi langsung ke daratan Jepang akan memakan korban jauh lebih besar, yang kemudian menjadi salah satu faktor dalam keputusan menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Tidak lama setelah itu, Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, sekaligus mengakhiri Perang Dunia II.