Respons Blue Bird Soal Kenaikan BI Rate hingga Harga BBM

Ini respons Blue Bird terkait kenaikan BI Rate dan harga BBM.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 18 Juni 2026, 21:45 WIB
Pengemudi mobil Blue Bird BYD e6 A/T tengah mengisi daya listrik di pool Blue Bird, Jakarta, Selasa (23/4). Perusahaan taksi Blue Bird meluncurkan taksi bertenaga listrik pertama di Indonesia. Rencananya, sebanyak 30 unit taksi listrik Blue Bird akan beroperasi mulai Mei 2019. (Liputan6.com/Angga Yu

Liputan6.com, Jakarta - PT Blue Bird Tbk (BIRD) menegaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi maupun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) belum memengaruhi strategi pengembangan usaha perseroan. 

Direktur Keuangan PT Blue Bird Tbk Irawaty Salim mengatakan perusahaan terus mencermati pergerakan suku bunga, terutama karena sejumlah mitra pendanaan mulai melakukan penyesuaian bunga pinjaman. 

"Ada beberapa counterpart kita juga sudah mulai menaikkan interest rate-nya," kata dia dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).

Meski demikian, Irawaty menilai kondisi tersebut tidak menjadi hambatan bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi. Menurutnya, Bluebird akan tetap mengedepankan pendekatan yang hati-hati dengan mempertimbangkan perkembangan permintaan pasar sebelum menambah kapasitas armada. 

"Karena yang kita lihat ke depannya bagaimana demand dari market itu sendiri teradaptasi dulu. Apakah kita memang harus menambah armada atau tidak, kita melakukan ekspansi secara terukur," terang dia.

Lebih lanjut, Irawaty menyebut kenaikan BI Rate merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar. Ia juga meyakini regulator tetap mempertimbangkan kondisi dunia usaha dalam setiap kebijakan yang diambil. 

 

 

Kenaikan Harga BBM

Taksi Blue Bird. Liputan6.com/Johan Tallo)

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono mengatakan kenaikan harga Pertamax hanya memberikan dampak yang relatif kecil terhadap kegiatan operasional perusahaan. Hal ini karena sebagian besar armada Bluebird masih menggunakan Pertalite dan Biosolar. 

"Jadi secara mayoritas, operasionalnya tidak terpengaruh terhadap kenaikan harga Pertamax," tutur Adrianto.

Andre menjelaskan masih ada sebagian kecil unit usaha Bluebird yang menggunakan Pertamax, namun kontribusinya terhadap keseluruhan bisnis tidak signifikan. 

"Tapi impact-nya tidak besar karena kontribusi dari divisi tersebut masih kecil," pungkas dia.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Andre tetap optimistis kinerja perusahaan dapat tumbuh sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, gejolak global memang berpotensi memengaruhi mobilitas masyarakat, baik di tingkat domestik maupun internasional, tetapi prospek ekonomi Indonesia yang masih positif menjadi faktor pendukung optimisme tersebut.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya