Liputan6.com, Jakarta - Lonjakan saham Space Exploration Technologies Corp atau SpaceX sempat membuat kapitalisasi pasar perusahaan roket milik Elon Musk ini melampaui Microsoft. Namun, pada penutupan perdagangan, kapitalisasi pasar SpaceX melampaui Amazon.
Mengutip CNBC, Rabu (17/6/2026), saham SpaceX naik sekitar 4% pada Selasa pekan ini, dan melanjutkan kenaikan yang luar biasa setelah penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) yang memecahkan rekor pada Jumat pekan ini.
Advertisement
Seiring harga saham yang meroket, kapitalisasi pasar SpaceX sempat melampaui Microsoft, menjadi perusahaan terbesar keempat berdasarkan valuasi di AS.
Kapitalisasi pasar SpaceX menyentuh US$ 2,94 triliun atau Rp 52.195 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.750) pada Selasa pagi. Kapitalisasi pasar itu melampaui Microsoft yang mencapai US$ 2,93 triliun atau Rp 52.017 triliun.
Berdasarkan data Google Finance, harga saham SpaceX ditutup naik 4,83% menjadi US$ 201,80 atau Rp 3,5 juta. Pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat, kapitalisasi pasar SpaceX mencapai US$ 2,65 triliun atau Rp 47.046 triliun.
SpaceX juga melampaui Amazon yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 2,64 triliun. Saham ini masih memiliki target yang lebih tinggi untuk melampaui Apple, perusahaan terbesar ketiga di AS. Kapitalisasi pasar hampir US$ 4,4 triliun atau Rp 78.115 triliun.
Didirikan 2002, SpaceX menjadi perusahaan yang dominan di satelit melalui layanan Starlink dan roket yang dapat digunakan kembali.
Pada Februari, Elon Musk menggabungkan dengan perusahaan AI-nya yakni Xai.
Debut SpaceX telah menimbulkan pertanyaan mengenai valuasi yang sangat tinggi, meskipun telah mengalami kenaikan besar sejak pencatatan saham.
IPO SpaceX Terbesar Sepanjang Sejarah, Kantongi Rp 1.517 Triliun
Sebelumnya, perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, berhasil menghimpun dana hingga USD 85,7 miliar atau setara Rp 1.517,5 triliun (US$ 1 = Rp 17.707) dari penawaran umum perdana saham (IPO) setelah para penjamin emisi menggunakan opsi alokasi tambahan atau greenshoe. Informasi tersebut disampaikan melalui pembaruan hubungan investor yang dirilis pada Senin, 15 Juni 2026.
Dikutip dari laman CNBC, Selasa (16/6/2026) dana yang berhasil dikumpulkan tersebut melampaui perolehan awal sebesar USD 75 miliar saat IPO pada Kamis lalu, sekaligus menempatkan SpaceX sebagai perusahaan dengan IPO terbesar dalam sejarah pasar modal global.
Dalam proses IPO tersebut, para penjamin emisi yang dipimpin oleh Goldman Sachs dan Morgan Stanley memiliki hak untuk membeli tambahan sekitar 83,3 juta saham melalui mekanisme alokasi tambahan yang dikenal sebagai greenshoe.
Penggunaan opsi ini umumnya dilakukan ketika permintaan investor terhadap saham sangat tinggi dan harga saham menunjukkan kenaikan signifikan setelah pencatatan perdana. Dana tambahan yang diperoleh SpaceX melalui mekanisme tersebut bahkan lebih besar dibandingkan sebagian besar IPO perusahaan teknologi yang pernah tercatat sebelumnya.
Sebagai simbol penggunaan opsi greenshoe, staf SpaceX diketahui mengenakan sepatu berwarna hijau di lantai bursa pada hari Jumat. Momen tersebut juga dibagikan ulang oleh pendiri perusahaan, Elon Musk, melalui platform media sosial X.
Setelah menetapkan harga IPO sebesar US$ 135 per saham, saham SpaceX langsung melesat 19% pada debut perdagangannya dan ditutup di kisaran US$ 161 per saham. Kenaikan tersebut mendorong valuasi perusahaan melampaui US$ 2 triliun.
Momentum positif berlanjut pada perdagangan Senin, di mana saham SpaceX kembali menguat lebih dari 7% pada hari perdagangan penuh pertamanya di pasar publik.
Dana IPO untuk Starlink dan Proyek AI
Elon Musk menyatakan, keputusan membawa SpaceX ke bursa bertujuan untuk mendukung fase pertumbuhan besar perusahaan. Dana hasil IPO akan digunakan untuk mempercepat pengembangan berbagai proyek strategis yang tengah dijalankan perusahaan.
Salah satu fokus utama adalah penyelesaian dan komersialisasi roket Starship, yang disebut sebagai roket terbesar yang pernah dibangun. Roket tersebut dirancang agar dapat digunakan kembali sepenuhnya dan menjadi tulang punggung peluncuran satelit generasi terbaru SpaceX.
Perusahaan juga berencana memperluas layanan internet satelit Starlink melalui peluncuran satelit V3 yang memiliki kapasitas lebih besar. Namun hingga saat ini, program Starship masih berada dalam tahap pengujian dan sebagian besar penerbangannya baru membawa muatan satelit tiruan.
Selain sektor antariksa, SpaceX menargetkan pembangunan pusat data kecerdasan buatan berbasis luar angkasa atau orbital data center. Perusahaan juga berencana membangun fasilitas produksi chip berskala besar di Texas bersama Tesla dan Intel.