Starbucks Korea Selatan Bakal Tutup Lebih dari 2.000 Gerai Setengah Hari untuk Belajar Sejarah

Langkah penutupan setengah hari itu diambil Starbucks Korea Selatan setelah diboikot oleh pelanggan karena promosi kontroversial.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 16 Juni 2026, 07:02 WIB
Seorang pelanggan terlihat di kedai kopi Starbucks di Seoul pada 19 Mei 2026. CEO Starbucks Korea telah dipecat menyusul reaksi negatif atas peluncuran lini peralatan minum yang dapat digunakan kembali, kata perusahaan itu pada 19 Mei 2026. (dok. Pedro PARDO / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Setelah skandal yang berujung seruan boikot, Starbucks memutuskan untuk menutup seluruh gerainya di Korea Selatan, berjumlah lebih dari 2.000 toko, selama setengah hari minggu depan. Staf tidak dipulangkan melainkan mereka akan belajar sejarah, terutama tentang pemberontakan Gwangju yang menewaskan 165 warga sipil pada 1980.

Pengumuman itu disampaikan langsung Ketua Shinsegae Group, Chung Yong Jin, yang memegang lisensi waralaba Starbucks di negara itu, pada Senin, 15 Juni 2026. Gerai kopi itu tersandung skandal setelah menjalankan promosi Tank Day yang menuai protes luas dari masyarakat karena dinilai tidak sensitif sejarah.

Mengutip Korea Times, Korea Selatan adalah pasar terbesar ketiga Starbucks setelah Amerika Serikat dan China. Shinsegae Group memecat kepala eksekutif Korea-nya pada hari yang sama ketika berita skandal itu mencuat, dan meminta maaf.

Chung Yong Jin mengatakan 'akan menjalani pelatihan bersama para CEO dari setiap afiliasi' pada Rabu minggu depan. Dua hari sebelumnya, semua karyawan di gerai Starbucks Korea akan 'menerima pendidikan tentang kesadaran sejarah dan kepekaan sosial melalui menonton video'.

Gerai di seluruh negeri akan tutup pukul 15.00 selama tiga jam untuk pelatihan dan tidak akan dibuka kembali. Penutupan serentak itu pertama kalinya terjadi sejak Starbucks dibuka di Korea Selatan pada 1999. Satu-satunya pengecualian adalah untuk beberapa gerai di bandara, kata perwakilan Shinsegae kepada kantor berita AFP.

 

Shinsegae Akui Kelalaian Jajaran Starbucks

Spanduk yang menampilkan kandidat pemilihan presiden Korea Selatan, kandidat terdepan Lee Jae-myung (kanan atas), dan saingan konservatif utama Kim Moon-soo (kiri atas), terlihat di balik papan nama raksasa kopi Starbucks di Seoul pada 15 Mei 2025. Starbucks di Korea Selatan telah melarang pelanggan menggunakan nama kandidat presiden negara itu -- atau mantan presiden yang tercela -- untuk pesanan mereka, kata raksasa kopi itu kepada AFP pada 14 Mei 2025.(dok. ANTHONY WALLACE / AFP)

Shinsegae mengatakan telah mengidentifikasi serangkaian tindakan lalai yang mengarah pada promosi tersebut, termasuk para pejabat yang menyetujui tanpa memeriksa berkas desain. Selain itu, tidak ada peninjauan hukum.

Koo Jeong Woo, seorang profesor di Universitas Sungkyunkwan akan memimpin sebagian kelas sejarah. Ia mengatakan kepada AFP bahwa ia berencana untuk menjelaskan 'makna kepekaan sosial' di antara topik-topik lainnya.

Aksi boikot sebelumnya menimpa gerai-gerai Starbucks Korea Selatan sejak pertengahan Mei 2026. Salah satunya dilakukan Kim Hye Joon (30), pelanggan setia Starbucks, yang mengkritik tajam promosi Tank Day yang diluncurkan kedai kopi itu pada Senin, 18 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan ke-46 Pemberontakan Gwangju.

"Saya pikir ini sangat ceroboh. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan dengan acara dan kata-katanya," kata Kim kepada The Korea Times pada Rabu, 20 Mei 2026. "Saya tidak akan menghancurkan cangkir saya seperti beberapa orang di media sosial, tetapi jika ada kafe lokal di dekatnya, saya akan pergi ke sana saja."

Apa Itu Pemberontakan Gwangju yang Picu Boikot Starbucks Korea?

Seorang pelanggan terlihat keluar dari kedai kopi Starbucks di Seoul pada 19 Mei 2026. CEO Starbucks Korea telah dipecat menyusul reaksi negatif atas peluncuran lini peralatan minum yang dapat digunakan kembali, kata perusahaan itu pada 19 Mei 2026. (dok. Pedro PARDO / AFP)

Dikutip dari Korea Times, Jumat, 22 Mei 2026, pemberontakan Gwangju merupakan salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di Korea Selatan. Peristiwa itu bermula dari gerakan pro-demokrasi yang meletus di Kota Gwangju barat daya pada 18 Mei 1980.

Warga bangkit melawan perpanjangan darurat militer nasional oleh junta militer yang dipinpin Chun Doo Hwan yang kemudian menjadi presiden pada tahun itu. Tindakan represi yang dilakukan militer pada saat itu menyebabkan ratusan orang tewas atau hilang, dan sejak itu diakui sebagai momen penting dalam perjalanan panjang Korea menuju demokratisasi.

 Roh (29) yang meminta untuk diidentifikasi hanya dengan nama belakangnya, menyebut promosi yang diluncurkan gerai kopi itu naif. Ia yang mengaku jarang mengunjungi kedai kopi itu semakin enggan untuk datang, memilih mendatangi kedai kopi lokal sebagai gantinya.

"Saat ini, bahkan idola K-pop dengan kewarganegaraan asing pun tidak merekomendasikan anime Jepang pada Hari Pembebasan. Ada kesadaran tak terucapkan (tentang sejarah Korea) yang dimiliki semua orang," kata Roh. "Fakta bahwa merek kafe paling populer di Korea melakukan ini pasti akan memicu kemarahan."

Jadi Komoditas Politik

Gambar pada 26 Januari 2023 ini menunjukkan orang-orang memegang es Americano selama wawancara dengan AFP di sebuah jalan di Seoul. Kopi sederhana -- segelas espresso yang disajikan di atas es, ditambag dengan air -- telah menjadi minuman nasional tidak resmi Korea Selatan, melebihi penjualan rekannya yang panas bahkan selama musim dingin yang mengigit, data Starbucks menunjukkan. (Jung Yeon-je / AFP)

Reaksi keras itu juga meluas ke arena politik menjelang pemilihan lokal 3 Juni 2026. Pemimpin Partai Demokrat Korea (DPK) yang berkuasa, Anggota Kongres Jung Chung-rae, pada hari yang sama mendesak anggota partai dan pekerja kampanye untuk menghindari Starbucks, menambahkan bahwa menahan diri dari kunjungan akan lebih mencerminkan sentimen publik.

"Para kandidat DPK dan rekan-rekan mereka yang terlibat dalam kampanye yang mengunjungi Starbucks dapat meninggalkan kesan buruk pada masyarakat," kata Jung.

Jung juga menyerukan hukuman yang lebih berat bagi mereka yang mengejek atau merendahkan gerakan pro-demokrasi. "Jerman menghukum dengan keras mereka yang mengagungkan atau membela Holocaust," kata Jung.

"Kami akan mendorong legislasi yang memungkinkan hukuman yang lebih berat bagi mereka yang mengejek atau merendahkan pemberontakan 18 Mei atau gerakan pro-demokrasi lainnya." Berdasarkan undang-undang khusus 2021, mendistorsi atau memfitnah gerakan pro-demokrasi Gwangju dapat dihukum hingga lima tahun penjara. 

Presiden Lee Jae Myung juga menyatakan kemarahannya 'atas perilaku tidak manusiawi dan memalukan ini' di X di tengah reaksi keras tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya