PII Indonesia Susut jadi US$ 227,6 Miliar pada Kuartal I 2026

Harga aset dan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mempengaruhi penurunan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 10 Juni 2026, 14:00 WIB
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada kuartal I 2026 mencatat kewajiban neto yang menurun. Pada akhir kuartal I 2026, PII Indonesia mencatat kewajiban neto sebesar US$ 227,6 miliar atau Rp 4.084 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.940), turun dibandingkan dengan kewajiban neto pada akhir kuartal IV 2025 sebesar US$ 273,4 miliar atau Rp 4.905 triliun.

Kewajiban neto yang menurun dipengaruhi oleh penurunan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih dalam dari penurunan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menuturkan, posisi AFLN Indonesia menurun terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi cadangan devisa sejalan dengan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Selain itu juga kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons Bank Indonesia terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Posisi AFLN pada akhir kuartal I 2026 tercatat sebesar US$ 556,7 miliar, turun 0,4% (qtq) dari US$ 559,1 miliar pada akhir kuartal IV 2025.

Ia juga menambahkan, penurunan posisi AFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan harga aset dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang negara penempatan aset, di tengah meningkatnya posisi aset investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya.

Posisi KFLN Indonesia menurun di tengah aliran masuk modal asing pada investasi langsung dan investasi portofolio yang tetap terjaga. 

Posisi KFLN Indonesia pada akhir kuartal I 2026 tercatat sebesar US$ 784,3 miliar, turun sebesar 5,8% (qtq) dari US$ 832,6 miliar pada akhir kuartal IV 2025.

“Penurunan tersebut terutama bersumber dari pelemahan nilai instrumen keuangan domestik di tengah kinerja investasi langsung yang tetap membukukan surplus yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik,” kata Ramdan.

 

PII Indonesia Masih Terjaga

Posisi investasi portofolio dan investasi lainnya menurun sejalan dengan pembayaran surat utang sektor swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo. Selain itu, posisi KFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan harga saham dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk Rupiah.

Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada kuartal I 2026 tetap terjaga, sehingga mendukung ketahanan eksternal. 

“Hal ini tecermin dari rasio PII Indonesia terhadap PDB pada kuartal I 2026 sebesar 15,5%, lebih rendah dibandingkan 18,9% pada kuartal IV 2025. Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang (92,5%) terutama dalam bentuk investasi langsung.

“Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek PII Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal,” ujar Ramdan.

Selain itu, Bank Indonesia akan terus memantau potensi risiko terkait kewajiban neto PII terhadap perekonomian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya