7 Amalan Sunnah sebelum Tidur yang Sering Terlupakan, Simak Hikmahnya

Umat Islam perlu memahami amalan sunnah sebelum tidur yang sering terlupakan agar rutinitas harian tersebut diliputi rahmat dan perlindungan Allah SWT

oleh Nanik RatnawatiDiterbitkan 11 Juni 2026, 10:00 WIB
Ilustrasi Membaca Doa Credit: freepik.com

Liputan6.com, Jakarta - Sepertiga malam hingga fajar bukan sekadar siklus biologis untuk mengistirahatkan jasmani yang lelah, melainkan sebuah fase transisi spiritual. Ada nilai ibadah dalam amaliah rutin tersebut. Sayangnya, banyak amalan sunnah sebelum tidur yang sering terlupakan.

Dalam pandangan Islam, tidur sering disebut sebagai kematian kecil, di mana ruh manusia berada dalam genggaman Sang Khaliq. Oleh karena itu, Rasulullah SAW memberikan tuntunan adab yang sangat detail sebelum seseorang memejamkan mata agar malam tersebut diliputi rahmat, ampunan dan perlindungan Allah SWT.

Namun, seiring dengan padatnya kesibukan modern, banyak umat Islam yang langsung merebahkan diri ke tempat tidur tanpa mengamalkan sunnah. Hal ini juga dipengaruhi pengetahuan yang minim mengenai amalan-amalan sunnah tersebut.

Merujuk ebook Sunnah-Sunnah Sehari-hari karya Abdullah Hamud al Furaij, Buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW karya Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih, serta sumber lainnya, berikut adalah amalan-amalan sunnah sebelum tidur:

1. Berwudhu Sebelum Merebahkan Diri

Banyak orang mengira wudhu hanya dikhususkan untuk shalat atau membaca Al-Qur'an. Padahal, tidur dalam keadaan suci adalah investasi spiritual agung yang sering diabaikan karena rasa kantuk yang mendera.

Rasulullah SAW bersabda kepada Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, "Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Abdullah Hamud al Furaij menjelaskan bahwa tidur dalam keadaan berwudhu mengundang kehadiran malaikat rahmat. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa malaikat tersebut akan bermalam di dalam pakaian (di dekat) orang yang tidur dalam keadaan suci. Setiap kali orang itu berbalik badan di waktu malam, malaikat akan mendoakannya: "Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini karena ia tidur dalam keadaan suci."

2. Mengibaskan Tempat Tidur Tiga Kali

Membersihkan kasur bukan sekadar urusan higienitas modern, melainkan sunnah pelindung yang diajarkan oleh Nabi SAW jauh sebelum ditemukannya mikroskop untuk melihat tungau atau bakteri.

Rasulullah SAW bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian hendak tidur di tempat tidurnya, hendaklah ia mengibaskan tempat tidurnya dengan ujung sarungnya (kainnya), karena sesungguhnya ia tidak tahu apa yang tertinggal di atas tempat tidurnya setelah ia bangun." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam bukunya menekankan bahwa sunnah ini dilakukan sebanyak tiga kali sambil membaca Basmalah.

Secara medis, ini menyingkirkan debu, serangga, atau kotoran. Secara gaib, amalan ini merupakan bentuk perlindungan awal dari gangguan makhluk halus yang mungkin menempati kasur saat ditinggalkan pada siang hari.

3. Bersiwak Sebelum Tidur (Menjaga Sunnah Fitrah)

Bersiwak umumnya diingat saat berwudhu atau hendak shalat, namun membersihkan mulut menjelang tidur adalah bagian dari sunnah fitrah yang esensial.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, "Bahwasanya Nabi SAW tidaklah tidur di malam hari maupun siang hari, kemudian beliau bangun, melainkan beliau bersiwak sebelum berwudhu." (HR. Abu Dawud).

Meskipun dalil ini condong pada bangun tidur, para ulama menganalogikan kebiasaan Nabi menjaga kebersihan mulut setiap saat, termasuk sebelum terlelap, sebagai hal yang sangat disukai (mustahab).

Abdullah Hamud al Furaij menyoroti bahwa mulut adalah jalan keluarnya ruh dan masuknya malaikat. Membersihkan rongga mulut (baik dengan siwak maupun sikat gigi modern) sebelum tidur memastikan bahwa apabila seseorang ditakdirkan meninggal malam itu, ia wafat dengan lisan dan rongga mulut yang suci dan wangi.

4. Berbaring Bertumpu pada Sisi Kanan

Posisi tidur memiliki adab dan nilainya tersendiri. Telungkup sangat dilarang (dimakruhkan) karena disebut sebagai posisi tidurnya penghuni neraka, sementara miring ke kanan adalah posisi sunnah.

"Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu." (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain, Nabi SAW meletakkan telapak tangan kanannya di bawah pipi kanannya.

Ada dua hikmah besar dari kebiasaan ini. Secara teologis, posisi ini mengingatkan pada posisi jenazah di liang lahad, menumbuhkan kesadaran (muraqabah) akan kematian.

Secara medis, jantung berada di sebelah kiri; dengan miring ke kanan, posisi jantung lebih rileks, aliran darah tidak terbebani, dan pernapasan menjadi lebih teratur.

5. Meruqyah Diri Sendiri dengan Membaca Surat 3 Qul

Ini adalah amalan yang paling sering terlewat karena prosedurnya yang unik: membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, kemudian meniupkannya pada kedua telapak tangan, lalu mengusapkan ke sekujur tubuh sebanyak tiga kali.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, "Apabila Rasulullah SAW hendak tidur, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dan membaca: Qul Huwallahu Ahad, Qul A'udzu birabbil Falaq, dan Qul A'udzu birabbin Naas. Kemudian beliau mengusapkan kedua tangannya ke seluruh tubuhnya, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya tiga kali." (HR. Bukhari).

Abdullah Hamud al Furaij dalam Ebook Sunnah-Sunnah Sehari-hari mengategorikan amalan ini sebagai ruqyah syar'iyyah mandiri. Menyatukan telapak tangan, membaca ayat, dan meniupkan udara yang mengandung keberkahan Al-Qur'an menciptakan perisai spiritual yang melekat pada kulit sepanjang malam.

Tiupan yang disertai sedikit air liur—yang telah bercampur dengan bacaan ayat suci—inilah yang mengandung keberkahan. Ini adalah tindakan preventif, membersihkan energi negatif dan memohon perlindungan dari segala kejahatan makhluk Allah secara fisik. Beliau juga menyebutkan bahwa jika seseorang merasa sakit, ia dapat meniupkan bacaan yang sama pada tangannya lalu mengusapkan ke bagian yang sakit, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang tidak sehat.

6. Membaca Ayat Kursi dan Dua Ayat Terakhir Al-Baqarah

Membaca ayat-ayat perlindungan paripurna yang sering tergantikan oleh aktivitas menggulir layar ponsel pintar. Nabi SAW bersabda: "Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, bacalah Ayat Kursi... setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari." (HR. Bukhari).

Teks Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255):

Arab: ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌۭ وَلَا نَوْمٌۭ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍۢ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Latin: Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm, lā takhudhuhū sinatuw wa lā nawm, lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man dzal-ladzī yasyfa‘u ‘indahū illā bi idznih, ya‘lamu mā bayna aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭūna bi syaiim min ‘ilmihī illā bimā syā, wasi‘a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā yaūduhū ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm.

Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi. Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya? Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka… Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

7. Membaca Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah: Perlindungan yang Mencukupi

Tidak hanya Ayat Kursi, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah (QS. Al-Baqarah ayat 285-286) juga memiliki keutamaan istimewa jika dibaca pada malam hari. Rasulullah ﷺ bersabda:

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari RA, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya akan mencukupinya.” (HR Bukhari no. 4008, Muslim no. 807)

Dalam Buku Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa makna “akan mencukupinya” (kaffaahu) mencakup beberapa hal: ia akan dicukupkan dari shalat malam (sebagian ulama berpendapat bahwa dua ayat ini dapat menggantikan keutamaan qiyamul lail), dijaga dari setan, dan terhindar dari berbagai keburukan.

Teks dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah:

Ayat 285:

Arab: آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Latin: Āmanar-rasūlu bimā unzila ilaihi mir-rabbihi wal-muminūn, kullun āmana billāhi wa malāikatihī wa kutubihī wa rusulihī, lā nufarriqu baina aḥadim mir-rusulih, wa qālū sami‘nā wa aṭa‘nā, ghufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr.

Artinya: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata): ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka berkata: ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.’”

Ayat 286:

Arab: لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Latin: Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tuākhidznā in nasīnā aw akhṭanā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahū ‘alal-ladzīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa‘fu ‘annā, waghfir lanā, warḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn.

Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.'"

7. Menutup dengan Doa Kepasrahan (Tawakal)

Ini adalah doa terakhir yang seharusnya diucapkan sebelum kesadaran benar-benar hilang, memutus segala urusan duniawi.

Dari Al-Bara’ bin ‘Aazib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tidur, beliau berbaring pada sisi kanan, lalu membaca doa:

Arab: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Latin: Allahumma aslamtu nafsī ilaika, wa fawwaḍtu amrī ilaika, wa wajjahtu wajhī ilaika, wa alja’tu ẓahrī ilaika, raghbatan wa rahbatan ilaika, lā malja’a wa lā manjā minka illā ilaika, āmantu bikitābikalladzī anzalta, wa binabiyyikalladzī arsalta.

Artinya: "Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menyerahkan seluruh urusanku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang telah Engkau turunkan dan kepada nabi yang telah Engkau utus."

Hikmah Amalan Sunnah sebelum Tidur

Berikut adalah 5 hikmah utama di balik anjuran merutinkan amalan sunnah sebelum tidur:

1. Kesiapan Menghadapi "Kematian Kecil" dalam Keadaan Fitrah

Tidur adalah fase wafat sughra (kematian kecil) di mana ruh ditahan sementara oleh Allah. Menjalankan sunnah seperti berwudhu dan membaca doa penyerahan diri (tawakal) memastikan bahwa apabila seseorang ditakdirkan meninggal pada malam tersebut, ia wafat dalam keadaan suci dan berada di atas fitrah (kemurnian tauhid).

2. Memperoleh Garansi Perlindungan Gaib dan Fisik

Amalan seperti mengibaskan tempat tidur melindungi tubuh dari bahaya fisik (seperti serangga atau kotoran). Sementara itu, membaca Ayat Kursi, penutup Surat Al-Baqarah, serta meniupkan Al-Mu'awwidzat berfungsi sebagai perisai spiritual absolut yang menghalangi intervensi setan, sihir, dan gangguan gaib hingga pagi hari.

3. Mengundang Kehadiran dan Doa Ampunan Malaikat

Tidur dalam keadaan berwudhu menarik perhatian malaikat rahmat untuk bermalam di dekat hamba tersebut. Sepanjang malam, malaikat akan bertindak sebagai pendoa yang terus-menerus memohonkan ampunan kepada Allah setiap kali orang tersebut membalikkan badannya.

4. Meningkatkan Kualitas Kesehatan Fisik dan Mental

Adab fisik seperti tidur miring bertumpu pada sisi kanan sangat selaras dengan kinerja medis tubuh, karena memberikan ruang rileks bagi jantung dan melancarkan pernapasan. Di sisi mental, doa kepasrahan melepaskan beban pikiran (stres), sehingga kualitas tidur menjadi jauh lebih lelap dan tenang.

5. Rutinitas Biologis Menjadi Ladang Ibadah

Tidur pada dasarnya adalah kebutuhan biologis yang bernilai mubah (netral). Namun, dengan membingkainya melalui niat dan amalan sunnah Rasulullah SAW, seluruh durasi tidur tersebut—sejak mata terpejam hingga terbangun—secara otomatis dihitung sebagai pahala ketaatan dan ibadah yang tak terputus.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya