Liputan6.com, Jakarta - Kematian BRL, siswi kelas V SDN 2 Dawung, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga Dukuh Bromoasri, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen. Pasalnya, selama ini wilayah tersebut dikenal sebagai lingkungan yang aman dan kondusif.
Warga tak menyangka gadis periang, putri pasangan Dewi Sri Lestari dan Sukardi, itu meninggal dunia secara tragis pada Jumat 5 Juni 2026.
Advertisement
Suasana duka masih terasa di kediaman keluarga korban setelah BRL dimakamkan pada Sabtu 6 Juni 2026. Kesedihan mendalam tampak jelas dari wajah kedua orang tuanya, terutama sang ibu, Dewi.
Perempuan berusia 34 tahun itu mengaku tidak pernah membayangkan harus kehilangan putri semata wayangnya untuk selamanya. Dewi juga mengaku sempat merasakan firasat sebelum peristiwa tersebut terjadi.
Sehari sebelum kematian putrinya, tepatnya pada Kamis 4 Juni 2026, Dewi mengaku merasa tidak enak badan. Selain itu, ia juga merasakan kegelisahan dan keresahan yang tidak biasa.
Perasaan tersebut bahkan sempat ia ceritakan kepada putri tunggalnya sehari sebelum korban ditemukan meninggal dunia.
"Malam itu, saya firasat, kok tidur di kasur saja rasanya gelisah. Kenapa toh aku? Saya cerita juga dengan (korban). Ibu kok badannya gelisah, rasanya kok begini dan tak enak," ungkap Dewi dengan mata sembab, Minggu (7/6/2026).
Mendengar keluh kesah Dewi, korban pun hanya memberikan jawaban singkat. "Kenapa, Bu?" balasan dari korban.
Malam itu Dewi mengaku tidak bisa tidur hingga esok hari. Berlanjut pada Jumat 5 Juni 2026, langkah Dewi merasa sangat berat untuk berangkat kerja.
Setiap hari usai subuh, biasanya Dewi telah bersiap berangkat kerja menuju pabrik rokok di wilayah Nglangon, Sragen. Di tengah perasaan Dewi yang gundah gulana, akhirnya ia tetap memaksakan diri hingga berangkat bekerja.
Sedangkan Sukardi, sang suami juga ikut berangkat bekerja sekitar pukul 06.30 WIB. Karena sudah terbiasa mandiri, korban BRL pun menyiapkan kebutuhan sekolah sendirian di rumah.
Kenyataan Pahit
Ternyata firasat buruk yang dialami Dewi berbuah menjadi kenyataan pahit. Sepulang bekerja sekitar pukul 16.00 WIB, ia mendapati putri satu satunya telah meninggal dunia dengan cara yang tragis.
Setiba di depan rumah, Dewi sempat penasaran. Sebab kondisi rumahnya tampak mencurigakan, yakni pintu depan tertutup rapat. Sedangkan posisi gembok kunci sudah terpasang di luar, namun pintu tidak dalam keadaan terkunci.
Dewi pun membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia sempat melihat kunci rumah berada di atas meja.
Kala itu, Dewi juga melihat putrinya terbaring di kasur dengan posisi tubuhnya miring di bawah selimut separuh badan.
Ia mencoba membangunkan korban dengan menyingkap selimut yang menutupi kaki anaknya. Betapa terkejutnya Dewi, saat melihat kasur berwarna biru di penuhi lumuran darah.
Wajah dan Tangan Penuh Luka
Kondisi BRL juga ditemukan telah meninggal dunia dengan wajah dan tangan yang penuh luka senjata tajam. Kejadian itu membuat Dewi menjerit histeris.
Dewi juga melihat motor Honda Vario dan ponsel merek Oppo milik putrinya juga tidak ditemukan. Motor itu biasanya ditaruh di dalam rumah, usai korban pulang sekolah.
Jeritan Dewi meminta tolong pun sempat didengar kerabatnya bernama Wardi. Saksi tersebut kemudian masuk rumah untuk memastikan kondisi korban.
Sepeninggal putrinya itu, Dewi hanya bisa pasrah kepada polisi. Ia berharap mendapatkan keadilan atas kematian putrinya dan pelakunya bisa segera tertangkap.