Liputan6.com, Baghdad: Presiden Amerika Serikat George Walker Bush tampil dalam siaran langsung di dua stasiun televisi berbahasa Arab, Rabu (5/5). Dia memandang penting menjelaskan posisinya dalam kasus penyiksaan tawanan perang AS di Penjara Abu Ghraib di Baghdad, Irak [baca: Kekejaman Tentara AS di Penjara Irak Dibeberkan].
Dalam wawancara di Televisi Al-Hurra, Bush mengatakan, apa yang dilakukan segelintir tentara AS tersebut sangat menjijikkan (abhorrent). Dia menegaskan, tindakan tersebut tidak menggambarkan jiwa bangsa dan tentara AS secara keseluruhan.
Sementara di Televisi Al-Arabiya Bush mengaku mengetahui kejadian itu setelah melihat gambar-gambar dalam tayangan Stasiun Televisi CBS. Pada kesempatan itu, dia juga berjanji segera menyeret pelaku penyiksaan ke pengadilan [baca: Menhan AS: Penganiaya Tahanan Akan Diadili].
Pada kesempatan berbeda, secara terpisah penasihat Keamanan Nasional AS Condoleezza Rice dan Komandan Militer Pengelola Penjara Irak Mayor Jenderal Geoffrey Miller juga menyampaikan maaf secara terbuka atas kejadian tersebut, khususnya terhadap dunia Arab. Menurut mereka, tindakan itu telah menodai citra dan upaya seluruh tentara AS.
Tapi warga Irak yang menyaksikan wawancara itu tak percaya dengan janji Bush. Sebaliknya, mereka menilai janji Bush adalah kebohongan besar. Sedangkan mengenai penyiksaan itu sendiri, warga Irak mengatakan, lebih biadab dari yang pernah terjadi di Penjara Guantanamo, Kuba.(ICH/Ijx)
Dalam wawancara di Televisi Al-Hurra, Bush mengatakan, apa yang dilakukan segelintir tentara AS tersebut sangat menjijikkan (abhorrent). Dia menegaskan, tindakan tersebut tidak menggambarkan jiwa bangsa dan tentara AS secara keseluruhan.
Sementara di Televisi Al-Arabiya Bush mengaku mengetahui kejadian itu setelah melihat gambar-gambar dalam tayangan Stasiun Televisi CBS. Pada kesempatan itu, dia juga berjanji segera menyeret pelaku penyiksaan ke pengadilan [baca: Menhan AS: Penganiaya Tahanan Akan Diadili].
Pada kesempatan berbeda, secara terpisah penasihat Keamanan Nasional AS Condoleezza Rice dan Komandan Militer Pengelola Penjara Irak Mayor Jenderal Geoffrey Miller juga menyampaikan maaf secara terbuka atas kejadian tersebut, khususnya terhadap dunia Arab. Menurut mereka, tindakan itu telah menodai citra dan upaya seluruh tentara AS.
Tapi warga Irak yang menyaksikan wawancara itu tak percaya dengan janji Bush. Sebaliknya, mereka menilai janji Bush adalah kebohongan besar. Sedangkan mengenai penyiksaan itu sendiri, warga Irak mengatakan, lebih biadab dari yang pernah terjadi di Penjara Guantanamo, Kuba.(ICH/Ijx)