Liputan6.com, Jakarta - Head of Research Grayscale, Zach Pandl menuturkan, kemampuan Strategy untuk akumulasi bitcoin (BTC) terbatas pada harga saham STRC dan MSTR. Ia menunjukkan, pembeli lain perlu turun tangan supaya harga bitcoin dapat mencapai titik terendah yang berkelanjutan.
Mengutip the blockc, ditulis Sabtu, (6/6/2026), komentar Pandl muncul setelah Strategy mengungkapkan awal pekan ini menjual 32 bitcoin (BTC) senilai US$ 2,5 juta atau Rp 45,22 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.090). Strategy mengurangi bitcoin dengan rata-rata harga US$ 77.135 atau Rp 1,39 miliar. Dengan aksi jual itu, total kepemilikan bitcoin menjadi 843.706 BTC. Transaksi itu menandai pertama kali Strategy menjual bitcoin sejak Desember 2022.
Advertisement
Dalam catatan yang diterbitkan Kamis, Pandl mengatakan, penjualan tersebut kecil dibandingkan dengan total kepemilikan BTC Strategy. Namun, ia berpendapat perubahan dalam manajemen keuangan perusahaan membebani sentimen pasar yang sudah terguncang oleh ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung.
Menurut catatan tersebut, volatilitas juga memengaruhi saham preferen dengan suku bunga variabel milik Strategy, Stretch (STRC), yang dirancang untuk diperdagangkan mendekati US$ 100 atau Rp 1,8 miliar dan saat ini membayar dividen sebesar 11,5%. Harga saham di bawah level tersebut meningkatkan pengembalian yang dibutuhkan investor dan dapat meningkatkan kewajiban dividen, yang dapat dipenuhi Strategy dengan menyesuaikan pembayaran, tetapi dengan biaya tekanan arus kas yang lebih tinggi yang terkait dengan neraca yang didukung bitcoin.
"Singkatnya, model bisnis Strategy yang menggunakan leverage berada di bawah tekanan, dan ini telah meningkatkan volatilitas untuk pasar BTC secara keseluruhan," kata catatan tersebut.
"Lebih lanjut, kami berpikir bahwa Strategy, yang secara historis merupakan pembeli bersih BTC, akan memiliki kemampuan terbatas untuk mengakumulasi lebih banyak token pada harga saham saat ini untuk STRC dan MSTR."
.
Harga Bitcoin
STRC naik tipis 0,8% dan ditutup pada US$ 95,42 pada Kamis, tetapi tetap di bawah level US$ 100 sejak pertengahan Mei. Jumlah nominal total STRC mencapai hampir US$ 10,5 miliar. MSTR naik 2,2% dan ditutup pada US$ 129,37, meskipun saham tersebut masih turun sekitar 30% selama sebulan terakhir.
Bitcoin diperdagangkan sekitar US$ 62.300 atau Rp 1,12 miliar pada Jumat, turun 2% selama 24 jam terakhir dan sekitar 50% di bawah harga tertinggi sepanjang masa sekitar US$ 126.000 atau Rp 2,27 miliar yang dicapai pada Oktober 2025, menurut halaman harga BTC The Block.
Sementara itu, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot AS mencatat arus masuk bersih sebesar US$ 3,05 juta atau Rp 55,17 miliar pada Kamis, mengakhiri tren arus negatif selama 13 hari, menurut data SoSoValue. IBIT BlackRock dan MSBT Morgan Stanley adalah satu-satunya ETF Bitcoin yang mencatat arus masuk bersih, masing-masing menarik US$ 47,7 juta atau Rp 862,86 miliar dan US$ 9,9 juta atau Rp 179,08 miliar