Liputan6.com, Kuching: "Saya mau balik saja. Saya mau cakap sama kawan agar jangan kerja di sana [Malaysia]," kata Linda. Niat Linda memang sudah bulat. Perempuan berbadan sedang ini kapok mengadu nasib di Negeri Jiran, lantaran janji hendak dipekerjakan sebagai pegawai restoran bergaji besar ternyata cuma bohong belaka. Linda malah dipaksa terjun ke dunia pelacuran. Namun nasib Linda masih beruntung. Pekan silam, ia dan 14 gadis lain berhasil kabur dan dipulangkan dari Kuching, Malaysia. Lilis, seorang korban asal Indramayu, Jawa Barat, bernasib serupa. Dia mengaku terpaksa melayani "tamu" karena dipaksa oleh tauke. Lilis hampir setiap malam wajib bergadang dari satu hotel ke hotel lain tanpa mendapat satu sen pun duit. "Aku udah nangis nggak mau, tapi tetep dipaksa," aku gadis berambut sebahu ini. Dia akhirnya berhasil kabur saat si tamu sedang di kamar mandi. Cerita Linda dan Lilis bukan isapan jempol. Tim Sigi mencatat, sedikitnya 10.000 perempuan asal Indonesia bekerja di Kuching. Dorongan menggapai hidup lebih baik menjadi motivasi utama. Memang, tak seluruhnya menjadi "gadis Indon"--sebutan pelacur dari Indonesia--di sana. Ada juga yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau pramutamu di tempat hiburan malam. Yang pasti, sebagian besar wanita tersebut, bekerja di bawah tekanan mafia women traficking atau perdagangan perempuan tanpa perlindungan hukum dan jaminan kesejahteraan. Fakta maraknya perdagangan perempuan di Malaysia tak lepas dari campur tangan oknum aparat keamanan setempat. Di Border Entikong dan Tebedu misalnya, setiap hari puluhan agen tenaga kerja gelap berkeliaran di sana mencari mangsa atau memperdagangkan gadis Indon dari satu cukong ke cukong lain. Kondisi tersebut bukan tidak diperhatikan Kepolisian Diraja Malaysia. Keterlibatan oknum aparatlah yang sering mengagalkan operasi penggerebekan. Buktinya, baru-baru ini, sepuluh gadis Indon terjaring operasi di Hotel City Inn di Jalan Abell, Kuching. Tapi, tiga germonya (seorang warga Indonesia) berhasil kabur. "Mereka [pelacur] disuruh melayani di lain lantai atau dikirim ke hotel lain," kata Komisaris Polisi Hirbak Wahyu, Perwira Penghubung Polri di Kuching. Tarif seorang gadis Indon bervariasi. Harga normal berkisar 250 sampai 400 ringgit per malam. Sementara gadis yang berparas cantik bisa mencapai 1.000 ringgit. Tarif mereka tinggi karena seorang tauke harus merogoh kocek antara 700 sampai 2.000 ringgit per orang dari agen gelap. Asal tahu saja, pemilik jaringan germo terbesar di Kuching ternyata seorang warganegara Indonesia bernama Hamzah. Setelah Hamzah dipenjara, bermunculan nama-nama Hanson, Kuet Poh, Yuyun, dan A Seng sebagai pemasok pelacur besar lain. Nama terakhir paling sering disebut-sebut oleh tenaga kerja wanita yang berhasil kabur. Modus women traficking kini juga menyebar sampai ke Sibu, Bintulu, dan Miri. Ketiga daerah itu terkenal sebagai pusat industri kayu Malaysia. Praktik pelacuran di Batam tak jauh berbeda. Pramunikmat bisa diperoleh dengan mudah di sejumlah tempat karaoke atau panti pijat terselubung. Di Queen Karaoke yang terletak di kawasan Jembatan Barelang misalnya, banyak gadis belia ditawarkan sekadar untuk menemani atau juga "bermain". Kencan singkat tarifnya paling tinggi Rp 150 ribu. Sementara kencan semalam suntuk lain lagi, Mami Erni--begitu germo penguasa Queen Karaoke--menawarkan Rp 240 ribu. Harga pekerja seks komersial (PSK) di Femina Karaoke, tak jauh dari Queen Karaoke, juga sama. Tamu cuma tinggal menyebut angka yang tertulis pada pin di dada si gadis, bisa langsung kencan. Hotel Formosa dan Diskotik Pasifik juga terkenal menyediakan PSK high class. Tarifnya lebih mahal. Untuk kencan singkat, seorang freelance dibayar Rp 300 ribu dan semalam suntuk Rp 400 ribu-Rp 600 ribu. Devi--nama samaran--terjerumus ke dunia hitam karena dijebak Rini, seorang calo. Menurut Devi, sebanyak 50 persen pendapatannya disetorkan kepada induk semangnya. Keberadaan sindikat penjualan PSK di Batam diamini Rully, mantan staf agen tenaga kerja. Menurut Rully, cara kerja sindikat sulit dilacak karena identitas korban telah diubah. Dan, operasional sindikat tersebut dibeking aparat keamanan setempat. Berdasarkan data lembaga swadaya masyarakat Singapura (UNIFEM) jumlah pelacur di Batam sebanyak 12 ribu orang. Batam memang dibidik sindikat pemasok PSK. Maklumlah, uang beredar dari prostitusi gelap di sana mencapai Rp 3,5 miliar setiap hari. Sebuah kampung pelacuran terdapat di Tanjungbalai, Kepulauan Riau. Lokasinya mirip Dolly di Surabaya, Jawa Timur. Kampung itu bernama Payalabu di daerah Pangket. Di sana, sedikitnya 400 dari 2.000 penduduk Payalabu bekerja sebagai pelacur. Saking terkenalnya Payalabu di daerah Asia Tenggara, sebuah situs internet pernah memajang lokasi wisata seks tersebut. Kompleks Garden Village juga cukup terkenal. Tarif seorang PSK di Garden Village lumayan tinggi, sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per malam. Banyak di antara para pelacur juga ditransfer sampai ke Singapura. Pendapatan mereka sehari lumayan tinggi sekitar 230 dolar Singapura. Gaji tersebut tak masuk kantong pribadi, tapi mendarat di tangan si agen. Niat memberantas pelacuran di Batam dan Tanjungbalai, Kepolisian Kota Besar Batam lantas membentuk satu unit khusus. Yayasan Mitra Kesehatan dan Kemanusiaan turut membantu dengan memberikan konseling untuk para PSK. Menurut Pimpinan Komisi Pekerja Migran Pastur William, praktik perbudakan moderen mudah dikenali. Cirinya, agen tenaga kerja akan memaksa seseorang bekerja lebih dari 12 jam sehari, tidak diberi libur, dan diminta bayaran lebih dari 1.200 dolar Singapura. "Kondisi suatu negara jelek, anak-anaknya gampang dibujuk untuk bekerja di luar negara," kata Pastur William. Sejauh ini, pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sudah membicarakan soal "Border Center" di Entikong yang akan dipakai sebagai transit tenaga kerja Indonesia. Sebuah rancangan undang-undang tentang Penempatan dan Perlindungan TKI saat ini juga sedang dipersiapkan. Nantinya, dalam RUU akan tercantum pembentukan Badan Koordinasi Penempatan dan Perlindungan TKI yang bertanggungjawab secara langsung kepada Presiden. Namun, upaya tersebut diyakini sia-sia selama kemiskinan dan kebodohan masih merajalela di Indonesia.(KEN/Tim Sigi)
Advertisement