Kisah Haru Jemaah Haji Kepri, Menolong Sesama hingga Akhir Hayat di Mina

Ahmad Fajar, seorang jemaah yang dikenal peduli terhadap sesama, mengembuskan napas terakhir di Tanah Suci.

oleh Ajang NurdinDiterbitkan 02 Juni 2026, 10:19 WIB
Saat Keluarga Jamah Haji asal lingga yang wafat hadir di penjemutan Asrama haji debarbarkasi Batam (Liputan6.com/Ajang Nurdin)

Liputan6.com, Jakarta - Kepulangan Kloter 1 Debarkasi Batam menyisakan cerita haru yang akan terus dikenang para petugas dan jemaah haji asal Kepulauan Riau.

Di balik kebahagiaan ratusan jemaah yang kembali ke Tanah Air, ada kisah pengabdian, perjuangan, dan duka dari tiga jemaah asal Kepri yang mengalami musibah saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Petugas Haji Daerah (PHD) Kepulauan Riau, Haryun Sagita, yang mendampingi jemaah selama pelaksanaan ibadah haji, mengaku bersyukur seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar.

Namun, ia tak bisa melupakan peristiwa yang menimpa salah seorang jemaah asal Kabupaten Lingga, Ahmad Fajar, yang wafat setelah menjalankan lempar jumrah di Mina.

"Alhamdulillah kami sudah tiba kembali di Tanah Air. Secara umum pelaksanaan ibadah berjalan baik, pelayanan luar biasa, mulai dari keberangkatan, hotel, transportasi, hingga konsumsi.

"Tetapi ada beberapa peristiwa yang sangat membekas bagi kami sebagai petugas," kata Haryun. Sebagai petugas yang ditugaskan mendampingi jemaah dari berbagai kabupaten dan kota di Kepri, Haryun mengaku tugasnya tidak ringan.

Selain membantu proses ibadah, ia juga harus mendampingi jemaah sakit, mengantar ke rumah sakit, mendorong kursi roda, hingga membantu jemaah yang tersesat di tengah lautan manusia saat puncak haji.

Peristiwa paling berkesan baginya adalah kisah Ahmad Fajar, seorang jemaah yang dikenal peduli terhadap sesama.

Menurut Haryun, saat itu kondisi Ahmad Fajar dalam keadaan sehat. Mereka bersama-sama menuju lokasi lempar jumrah di Jamarat setelah bermalam di Mina.

"Beliau sebenarnya sehat. Pagi itu kami bersama-sama berangkat. Karena kehilangan alas kaki, beliau sempat tertinggal dari rombongan. Setelah lempar jumrah selesai, suasana sangat padat dan kami terpisah," ujarnya.

Di tengah jutaan jemaah yang memadati kawasan Mina dan Jamarat, Ahmad Fajar justru memilih membantu beberapa jemaah lain yang mengalami kelelahan dan sakit.

"Beliau ikut membantu jemaah yang sakit. Mungkin karena kelelahan, cuaca panas, ditambah sempat tersesat saat mencari jalan pulang ke hotel, kondisinya menurun," kata Haryun.

Jalan yang seharusnya mengarah ke hotel justru membawanya kembali ke arah Mina. Dalam kondisi bingung dan kelelahan, Ahmad Fajar akhirnya jatuh dan tidak sadarkan diri.

Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit. Namun takdir berkata lain. Menjelang waktu Magrib pada hari yang sama, Ahmad Fajar mengembuskan napas terakhir.

"Siangnya beliau jatuh, kemudian dirawat. Sebelum Magrib beliau meninggal dunia. Beliau wafat setelah membantu orang lain yang sakit dan dalam kondisi sangat kelelahan," tutur Haryun dengan suara lirih.

 

Perawatan

Petugas Haji Daerah Asal Tanjung Pinag Haryun Sagita saat menceritakan 3 jemaah haji yang wafat tersesat dan melontar jumroh saat pendampingan (Liputan6.com/Ajang Nurdin)

Selain Ahmad Fajar yang wafat, dua jemaah perempuan asal Tanjungpinang hingga kini masih menjalani perawatan di Arab Saudi.

Jemaah pertama, Siti Rahel, awalnya tidak menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Ia bahkan masih sempat berobat ringan ke dokter kloter. Namun, berdasarkan informasi yang diterima petugas, ia diduga terpeleset di kamar mandi sebelum akhirnya mengalami penurunan kondisi kesehatan dan harus dirawat di rumah sakit.

Sementara satu jemaah lainnya, Latifah, sudah mengalami gangguan kesehatan sejak berada di Madinah. Kondisinya terus menurun setelah tiba di Makkah.

"Tiga hari beliau tidak mau makan, tubuhnya menggigil. Kami sempat melakukan infus, tetapi tidak kuat. Akhirnya dibawa ke rumah sakit di Makkah dan kemudian dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar," ujar Haryun.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Haryun menilai penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berlangsung sangat baik. Ia juga mengaku terharu atas perhatian dan apresiasi yang diberikan para jemaah kepada petugas selama menjalankan tugas.

"Kami mendampingi mereka sejak berangkat sampai pulang. Ada yang kami dorong dengan kursi roda, ada yang kami antar ke rumah sakit, ada yang kami jemput ketika tersesat. Semua itu menjadi bagian dari pengabdian. Alhamdulillah, jemaah juga memberikan dukungan dan apresiasi yang luar biasa kepada kami," katanya.

 

Ikhlas

Ratusan Jamaah Haji Kloter Pertama Batam tiba di Asarma Haji Embarkasi Batam, 3 diantaranya wafat di Tanah Suci Makkah (Liputan6.com/Ajang Nurdin)

Kesedihan atas kepergian Ahmad Fajar juga terasa di Asrama Haji Batam saat keluarga menanti kepulangan rombongan. Ana, kakak ke Tiga dari almarhum, mengaku ikhlas menerima takdir yang menimpa adiknya. Meski sedih karena orang yang diantar berangkat ke Tanah Suci tak lagi bisa dijemput pulang, ia percaya sang adik wafat dalam keadaan terbaik.

"Mungkin ini sudah takdir adik saya. Ia menyerahkan jiwanya untuk menghadap Allah dan sekarang sudah tenang serta bahagia," ujar Ana dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai anak laki-laki paling terakhir dari tujuh bersaudara, Ahmad Fajar dikenal sebagai sosok yang baik dan peduli terhadap sesama. Bagi keluarga, kepergiannya memang meninggalkan duka mendalam, namun juga kebanggaan.

"Kita belum tentu seperti almarhum. Beliau meninggal dalam keadaan beribadah, bahagia, dan dalam lindungan Allah," ucap Ana pasrah.

Di antara jutaan umat Islam yang berkumpul di Makkah tahun ini, Ahmad Fajar menutup perjalanan hidupnya dengan sebuah pengabdian sederhana, membantu sesama jemaah yang membutuhkan pertolongan.

Ia tak kembali bersama rombongan ke Lingga. Namun kisahnya pulang lebih dahulu, membawa pesan bahwa ibadah haji bukan hanya tentang perjalanan menuju Baitullah, melainkan juga tentang kepedulian kepada sesama hingga akhir hayat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya