Sandiwara Politik ala Slamet Gundono

Slamet Gundono menggambarkan perebutan kursi calon anggota Dewan seperti kehausan Raja Amartapura Puntadewa yang bijaksana tapi gemar berjudi. Puntadewa rela mempertaruhkan kehormatan demi memenangkan judi.

oleh Liputan6Diterbitkan 24 Maret 2004, 08:34 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Pemilu kali ini beda lo! Begitulah jargon Pemilihan Umum 2004 yang akan dilaksanakan 5 April mendatang. Bedanya, tentu saja selain jumlah partai politik bejibun sampai 24 buah, pemilih juga bisa nyoblos langsung wakilnya yang akan duduk di kursi Dewan. Untuk merebut satu kursi anggota Dewan, bisa dibayangkan berbagai cara pasti dilakukan. Entah yang halal maupun haram. Situasi demikian digambarkan secara gamblang oleh Slamet Gundono, lewat pergelaran wayang suketnya di Jakarta, Selasa (23/3) malam.

Slamet Gundono bukanlah nama baru dalam dunia seni perwayangan. Dia sesungguhnya adalah seorang dalang wayang gaya Banyumasan, Jawa Tengah. Belakangan, pria berbadan tambun ini lebih dikenal sebagai dalang wayang suket atau rumput. Seperti juga namanya suket, para tokoh digambarkan Slamet dengan media batang-batang padi atau sayuran yang dijalin menyerupai manusia.

Tadi malam, Slamet Gundono berkisah tentang Raja Amartapura Puntadewa yang dikenal bijaksana. Puntadewa juga dikenal sebagai raja yang kuat. Sayangnya, ia gemar berjudi terutama dengan Raja Astina Duryudana. Puntadewa sering mempertaruhkan harta benda, kerajaan, rakyat, dan bahkan, istrinya sebagai alat pembayaran. Tapi, berulang kali ia selalu mengalami kekalahan sampai hidupnya berakhir sebatang kara.

Rupanya Slamet ingin mengekspresikan pengamatnya dari sosok para elite politik yang kini tengah bertarung. Dia melihat demi sebuah permainan politik, seorang politisi bisa mempertaruhkan apapun, asal bisa maju. Ya, seperti Puntadewa tadi. Dia memang bijak sebagai raja. Tapi, Puntadewa juga rela mempertaruhkan segalanya demi judi.

Keberadaan wayang suket ala Slamet Gundono sebenarnya berawal dari aksi permainan anak-anak di desa di Pulau Jawa. Biasanya, sambil menggembala ternak, bocah angon (anak gembala) menirukan para dalang kala memainkan wayang. Mereka pun beraksi bak seorang dalang memainkan wayang yang dibuat dari suket (rumput) atau ilalang yang ada di sekitarnya.

Slamet yang kreatif menyimak kenyataan tadi. Buntutnya, dia berupaya memadukan unsur pertunjukan wayang dengan musik modern dan teater. Belakangan lahirlah teater wayang, yang diyakininya amat dekat dengan tradisi yang hidup di pedesaan. Pria kelahiran Tegal, Jateng, itu akhirnya membuat wayang gremeng (menggumam), dengan peraga wayang berupa daun pisang, potongan tubuh seekor ayam plus gamelan dari bunyi mulut. Konsep itu dikembangkan lagi dalam bentuk wayang suket.(KEN/Aldian)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya