Razia Topeng Monyet, Ridwan Saidi: Jokowi Dulu Tidur Sama Gembel

Kebijakan Jokowi memberangus topeng monyet di Ibukota diprediksi akan menjadi batu sandungan.

oleh Silvanus Alvin diperbarui 26 Okt 2013, 16:46 WIB
Kebijakan Jokowi memberangus topeng monyet di Ibukota diprediksi akan menjadi batu sandungan bagi Gubernur DKI Jakarta itu. Popularitas pria bernama lengkap Joko Widodo itu diprediksi akan turun.

"Kebijakan itu bisa menurunkan popularitas. Di bawah, orang sudah nggak suka, karena banyak yang sudah menyiarkan keluhan-keluhan dari orang topeng monyet, kan mereka kerja halal," kata budayawan Ridwan Saidi di Jakarta Pusat, Sabtu (26/10/2013).

Menurut Ridwan, kebijakan Jokowi memberantas topeng monyet di Jakarta kurang tepat. Sebab, kebijakan serupa harus diterapkan pada binatang lain.

"Jokowi razia topeng monyet itu salah. Apanya yang sayang binatang. Macan di kebun binatang juga disiksa, kan dia tidak mau dikurung dalam kandang. Seaworld juga harus ditutup karena lumba-lumba disuruh nyundul-nyundul bola, apa dia senang," tutur Ridwan.

Tak hanya berpengaruh pada popularitas Jokowi. Ridwan mengatakan kebijakan ini juga bisa berimbas pada PDIP yang mengusung Jokowi. Apalagi selama ini PDIP seolah mempertaruhkan popularitasnya kepada Jokowi.

"Kan PDIP pertaruhkan popularitas partainya ke Jokowi, tidak pada Bu Mega. Ini lampu merah bagi PDIP dan bisa jadi krisis kalau terus mainkan isu Jokowi. Karena perjalanan sebagai gubernur day by day disorot rakyat, dan kenapa dia sekarang sasar topeng monyet. Lah dulu dia tidur sama gembel, kok sekarang gembel diudak-udak," cetus Ridwan.

Ridwan menyarankan agar PDIP kembali menempatkan Megawati sebagai tokoh sentral. Bila tidak, partai lain akan dapat keuntungan. Salah satu partai yang dapat mengambil kesempatan ini adalah Partai Gerindra. Sebab, Jokowi tak bisa lepas dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, yang menjadi jago Gerindra.

"Orang jadi tertarik pada Ahok. Yang rada rasional lihat Ahok lebih genuine. Dia lebih asli. Dia bicara punya argumen, nggak pernah kalah argumentasi. Kalau Pak Jokowi misalnya, ada kebakaran, yang mati 62. Dia jawab emang saya yang matiin. Itu bukan jawaban. Kita bukan cari pelaku kebakaran, tapi ini nggak bisa seperti era sekarang harus jawab pertanyaan dengan rasional saat jawab pertanyaan gitu," tandas Ridwan. (Eks/Sss)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya