Liputan6.com, Jakarta: Instruksi pemerintah untuk memberikan pelayanan gratis bagi penderita demam berdarah dengue membuat pengelola rumah sakit umum yang ditunjuk harus mengeluarkan anggaran cadangan. Jumlah dana yang dikeluarkan kian besar karena pasien demam berdarah terus bertambah. RS Umum Daerah Budhi Asih, Cawang, Jakarta Timur, misalnya. Sejak awal Januari 2004, RSUD Budhi Asih menerima pasien penderita DBD yang tidak mampu sebanyak 74 orang. Diperkirakan, hingga kini pengelola rumah sakit sudah mengeluarkan biaya ratusan juta rupiah untuk penderita DBD tidak mampu. Demikian informasi yang dihimpun SCTV di Jakarta, Kamis (26/2).
Pengelola rumah sakit menyatakan, perincian biaya untuk merawat penderita DBD bervariasi. Untuk pasien yang di rawat di ruang perawatan intensif (ICU) selama lima hari mencapai Rp 8 juta. Sementara untuk ruang inap Rp 200 ribu per hari. Rencananya, hari ini pengelola menerima surat edaran resmi penggantian klaim biaya dari pemerintah [baca: Biaya Pengadaan Darah Penderita DBD Ditanggung Pemerintah].
Sejak DBD mewabah awal Desember 2003, RSUD Budhi Asih selalu disesaki warga yang membutuhkan pelayan medis. Setiap hari, rata-rata hampir 200 orang mendatangi rumah sakit milik Pemerintah Kota Jaktim itu. Kesibukan rumah sakit yang menjadi rujukan pusat kesehatan masyarakat di Jaktim ini meningkat drastis sejak adanya instruksi pemerintah memberikan pelayanan gratis. Dari pintu masuk, kepadatan di RSUD Budhi Asih sudah terasa [baca: Pasien Demam Berdarah di Budhi Asih Bertambah].
Rumah sakit yang berdiri di tanah seluas sekitar dua hektare ini memiliki ruang rawat inap yang terbatas serta ruang ICU hanya menampung empat pasien. Saat ini, jumlah pasien yang dirawat sudah mencapai sekitar 150 orang. Padahal, kamar rawat terbatas. Ruang ICU pun hanya mampu menampung empat pasien. Akibatnya, jumlah pasien melebihi kapasitas tempat tidur yang tersedia. Untuk mengatasinya, pengelola rumah sakit menyediakan tempat tidur tambahan di koridor ruang kelas II dan kelas III.
Di Medan, Sumatra Utara, pemerintah setempat dilaporkan melakukan pengasapan ke berbagai wilayah yang mulai terjangkiti demam berdarah. Pengasapan dimulai di Kelurahan Helvetia Timur, Karang Berombak, Marelan, dan Kelurahan Mangga. Daerah padat penduduk dan kawasan kumuh menjadi prioritas pengasapan.
Kepala Subdinas Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Medan dokter Julchaizar mengatakan, pengasapan dilakukan karena wabah demam berdarah mulai menyerang Kota Medan. Selama dua bulan terakhir, sebanyak 21 penderita DBD dirawat di Medan, empat di Pematang Siantar, dan seorang di Tebing Tinggi.
Seluruh puskesmas di Medan diperintahkan siaga selama 24 jam. Puskesmas juga diinstruksikan membagikan bubuk abate dan mengkampanyekan gerakan 3M yaitu membersihkan, menutup, dan mengubur berbagai benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti--serangga pembawa virus demam berdarah.
Pasien DBD di Kediri, Jawa Timur, juga terus bertambah. Di RSU Gambir, jumlah pasien DBD mencapai 19 orang. Seorang di antaranya adalah Isthiana yang berusia sembilan tahun. Sejak sembilan hari silam, putri Nyonya Isthiani ini tergolek di rumah sakit. Untuk meringankan beban keluarga Isthiani, Pundi Amal SCTV memberikan bantuan uang sebesar Rp 1 juta. Bantuan diterima langsung oleh Isthiani.
Sementara dr Dien Ermawati di Jakarta mengatakan, anggapan nyamuk aedes aegypti berkembang di kawasan kumuh tak sepenuhnya benar. Karena nyamuk jenis ini berkembang biak di air bersih yang menggenang. Karena itu, bukan tak mungkin nyamuk aedes aegypti berkembang di lingkungan yang bersih, tak terkecuali gedung perkantoran.
Untuk mencegah penularan demam berdarah, warga bisa menggunakan lotion antinyamuk. Namun, dosis dan penggunaannya harus diperhatikan, terutama buat anak kecil. Sedangkan untuk penderita demam berdarah dianjurkan mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung banyak vitamin C untuk meningkatkan ketahanan tubuh. Penderita juga disarankan meminum air sebanyak-banyaknya. Karena saat terserang demam berdarah penderita kekurangan cairan.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)
Pengelola rumah sakit menyatakan, perincian biaya untuk merawat penderita DBD bervariasi. Untuk pasien yang di rawat di ruang perawatan intensif (ICU) selama lima hari mencapai Rp 8 juta. Sementara untuk ruang inap Rp 200 ribu per hari. Rencananya, hari ini pengelola menerima surat edaran resmi penggantian klaim biaya dari pemerintah [baca: Biaya Pengadaan Darah Penderita DBD Ditanggung Pemerintah].
Sejak DBD mewabah awal Desember 2003, RSUD Budhi Asih selalu disesaki warga yang membutuhkan pelayan medis. Setiap hari, rata-rata hampir 200 orang mendatangi rumah sakit milik Pemerintah Kota Jaktim itu. Kesibukan rumah sakit yang menjadi rujukan pusat kesehatan masyarakat di Jaktim ini meningkat drastis sejak adanya instruksi pemerintah memberikan pelayanan gratis. Dari pintu masuk, kepadatan di RSUD Budhi Asih sudah terasa [baca: Pasien Demam Berdarah di Budhi Asih Bertambah].
Rumah sakit yang berdiri di tanah seluas sekitar dua hektare ini memiliki ruang rawat inap yang terbatas serta ruang ICU hanya menampung empat pasien. Saat ini, jumlah pasien yang dirawat sudah mencapai sekitar 150 orang. Padahal, kamar rawat terbatas. Ruang ICU pun hanya mampu menampung empat pasien. Akibatnya, jumlah pasien melebihi kapasitas tempat tidur yang tersedia. Untuk mengatasinya, pengelola rumah sakit menyediakan tempat tidur tambahan di koridor ruang kelas II dan kelas III.
Di Medan, Sumatra Utara, pemerintah setempat dilaporkan melakukan pengasapan ke berbagai wilayah yang mulai terjangkiti demam berdarah. Pengasapan dimulai di Kelurahan Helvetia Timur, Karang Berombak, Marelan, dan Kelurahan Mangga. Daerah padat penduduk dan kawasan kumuh menjadi prioritas pengasapan.
Kepala Subdinas Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Medan dokter Julchaizar mengatakan, pengasapan dilakukan karena wabah demam berdarah mulai menyerang Kota Medan. Selama dua bulan terakhir, sebanyak 21 penderita DBD dirawat di Medan, empat di Pematang Siantar, dan seorang di Tebing Tinggi.
Seluruh puskesmas di Medan diperintahkan siaga selama 24 jam. Puskesmas juga diinstruksikan membagikan bubuk abate dan mengkampanyekan gerakan 3M yaitu membersihkan, menutup, dan mengubur berbagai benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti--serangga pembawa virus demam berdarah.
Pasien DBD di Kediri, Jawa Timur, juga terus bertambah. Di RSU Gambir, jumlah pasien DBD mencapai 19 orang. Seorang di antaranya adalah Isthiana yang berusia sembilan tahun. Sejak sembilan hari silam, putri Nyonya Isthiani ini tergolek di rumah sakit. Untuk meringankan beban keluarga Isthiani, Pundi Amal SCTV memberikan bantuan uang sebesar Rp 1 juta. Bantuan diterima langsung oleh Isthiani.
Sementara dr Dien Ermawati di Jakarta mengatakan, anggapan nyamuk aedes aegypti berkembang di kawasan kumuh tak sepenuhnya benar. Karena nyamuk jenis ini berkembang biak di air bersih yang menggenang. Karena itu, bukan tak mungkin nyamuk aedes aegypti berkembang di lingkungan yang bersih, tak terkecuali gedung perkantoran.
Untuk mencegah penularan demam berdarah, warga bisa menggunakan lotion antinyamuk. Namun, dosis dan penggunaannya harus diperhatikan, terutama buat anak kecil. Sedangkan untuk penderita demam berdarah dianjurkan mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung banyak vitamin C untuk meningkatkan ketahanan tubuh. Penderita juga disarankan meminum air sebanyak-banyaknya. Karena saat terserang demam berdarah penderita kekurangan cairan.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)