Liputan6.com, Jakarta - Musyrif Dini Haji Indonesia 2026, Asrorun Niam Sholeh mengimbau jemaah haji Indonesia mempersiapkan diri secara optimal menjelang puncak ibadah haji di Arafah. Kesiapan fisik dan mental dinilai penting agar seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar.
"Wukuf di Arafah adalah rukun utama dalam ibadah haji. Tanpa kehadiran fisik di Arafah pada tanggal tersebut, ibadah haji tidak sah. Karena itu, perlu kesiapan fisik dan mental yang matang," ujar Asrorun Niam, Senin (25/5/2026).
Advertisement
Dia menjelaskan, pada 8 Zulhijah jemaah mulai diberangkatkan secara bertahap menuju Arafah. Pengaturan keberangkatan dilakukan Kementerian Haji agar seluruh jemaah tiba tepat waktu dan tidak ada yang tertinggal.
Menurutnya, selama berada di Arafah, jemaah dianjurkan memperbanyak doa, zikir, salawat, salat sunah, membaca Alquran, hingga melakukan muhasabah diri.
"Hari Arafah adalah hari yang mustajab di tempat yang mustajab. Sebaik-baik doa adalah doa di Hari Arafah. Gunakan waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampun atas kesalahan, baik kepada Allah maupun kepada sesama," jelasnya.
Usai menjalani wukuf di Arafah, jemaah akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah untuk mabit. Setelah itu, jemaah bergerak menuju Mina guna melaksanakan lempar jumrah Aqabah dan mabit selama dua atau tiga hari, disertai lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah.
Secara khusus, Asrorun Niam mengapresiasi perbaikan skema pergerakan jemaah pasca-Arafah yang dinilai lebih sesuai dengan prinsip syariah dan aspek keselamatan jemaah.
“Pergerakan jamaah dari Arafah dikelompokkan menjadi 3; jamaah yang bergerak dari Arafah jam 19 menuju Muzdalifah, akan turun dan berada di Muzdalifah hingga tengah malam untuk mabit setelah itu bergerak ke Mina naik bus. Kedua, jamaah yang bergerak dari Mina jam 23 dan sampai Muzdalifah sudah lewat tengah malam, maka mabit di Muzdalifah di atas bus lanjut ke Mina," ujarnya.
"Ketiga, jamaah yang ada udzur syari, seperti kondsi sakit, bergerak dari Arafah langsung ke Mina. Pengaturan ini sejalan dengan prinsip kemaslahatan yag tetap berada dalam koridor ketentuan syariah,” sambung Guru Besar Bidang Fikih ini.
Jemaah Diimbau Ikuti Jadwal Jumrah
Dia menyebut skema tersebut merupakan perbaikan dari praktik sebelumnya demi menjaga kelancaran dan keselamatan jemaah.
Selain itu, Asrorun Niam juga mengingatkan jemaah terkait waktu pelemparan jumrah pada hari tasyrik agar tetap mengikuti ketentuan syariat. Dia menegaskan waktu sah melempar jumrah dimulai setelah salat Subuh.
"Meski waktu afdal adalah setelah tergelincir matahari (zuhur), itu adalah waktu yang sangat padat dan panas. Karena itu, lebih baik mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh maktab dan syarikah demi keselamatan dan kenyamanan jemaah," tegasnya.
Asrorun Niam meminta jemaah tidak memaksakan diri mengejar keutamaan waktu jika kondisi fisik tidak memungkinkan.
"Kepatuhan pada jadwal dan pengaturan yang telah ditetapkan adalah bagian dari menjaga keselamatan jamaah sekaligus tetap dalam koridor syariat," jelasnya.