Liputan6.com, Blitar: Lengkap sudah penderitaan yang dialami Tukijem, warga Kecamatan Binangun, Blitar, Jawa Timur. Nenek berusia 90 tahun ini harus menanggung derita dan aib sekaligus di penghujung hidupnya. Selain pikun, lumpuh, dan buta karena katarak, Tukijem juga harus menderita lahir dan batin karena diperkosa lebih dari dua tahun oleh menantunya, Tukidi, 59 tahun.
Tukidi memang sangat rajin merawat Tukijem yang sejak lima tahun didera lumpuh. Namun, kebaikan sang menantu tersebut harus dibayar mahal. Selama ini Tukijem mengaku batinnya berontak namun karena tak berdaya ia hanya memendam penderitaannya sendiri. Selain karena yang dialaminya termasuk aib, juga Tukidi beberapa kali mengancamnya. Dalam ingatan Tukijem, menantunya itu sudah memperkosa sekitar lima kali. Seingatnya perkosaan itu dilakukan pada malam hari. "Sebab siang hari bekerja," kata Tukijem dalam bahasa Jawa yang terbata-bata.
Perkosaan terhadap Tukijem, sebenarnya dilakukan Tukidi bukan tanpa sebab. Menurut Tukidi, perbuatannya dilakukan karena kekesalannya yang memuncak pada istrinya, Narmi, 54 tahun. Sang istri, menurut Tukidi sering menolak untuk berhubungan intim. Bahkan dalam pikiran liarnya, Tukidi menduga istrinya telah berselingkuh.
Desakan biologis terus menggelora dan sudah sampai ke ubun-ubun. Sepertinya Tukidi tak mau ambil pusing. Sang mertua yang tergolek lemah menjadi sasarannya. Sebelum memperkosa, Tukidi sempat mengungkapkan kekesalannya kepada mertuanya bahwa Narmi kerap menolak untuk bersetubuh.
Meski perkosaan yang dilakukan Tukidi terhadap Tukijem berawal dari sikap Narmi, namun tersangka mengaku memang sejak lama telah menyukai Tukijem. Apalagi, sejak Tukijem sakit-sakitan dan kebagian merawat mertuanya, ketertarikan itu semakin menjadi-jadi. "Pokoknya suka gitu," kata Tukidi.
Narmi sebenarnya sudah lama mengetahui perbuatan suaminya. Namun, karena malu, aib tersebut selama dua tahun dipendam sendiri. Selain malu kepada tetangga, Narmi juga sangat menjaga perasaan keluarga besar termasuk anak, cucu, dan para menantunya. "Tapi karena saya udah nggak kuat, ya udah saya kasih tau aja ke semua orang-orang," kata Narmi.
Aib pun akhirnya terungkap, awal tahun ini. Narmi pertama kali melapor ke polisi karena kasus penganiayaan yang dilakukan suaminya. Namun, belakangan ia juga melaporkan perbuatan suaminya yang sering memperkosa ibunya.
Narmi mengaku memang selama ini selalu menolak melayani suaminya. Alasannya, Tukidi sering memukul tanpa alasan jelas. Apalagi Narmi kerap dituduh berselingkuh dengan orang lain. Selama ini ia tidak menyangka, akibat penolakannya melayani suami berakibat fatal. "Saya udah sumpah-sumpah tapi dia nggak percaya. Saya malah dipukuli. Saya layani, dipukuli. Nggak saya layani, apalagi," ungkap Narmi.
Narmi menuturkan, pada awal 2002, Tukidi yang baru tiba di rumah langsung meminta untuk berhubungan badan. Namun, Narmi menolak. Tukidi jelas naik pitam. Tukidi pun langsung memukul dan menjambak rambut Narmi. Sang istri yang sudah terjatuh kemudian kepalanya diinjak. Narmi sadar, tak mungkin dapat menandingi tenaga suaminya. Narmi langsung kabur ke dapur.
Sambil menahan kesal, Tukidi pun akhirnya memutuskan untuk tidur bersamaan dengan malam yang semakin larut. Namun, mata tak bisa juga dipejamkan karena dorongan birahi Tukidi tak juga kuasa dibendung. Saat itulah pikiran liar Tukidi jalan dan korbannya adalah mertuanya sendiri yang tertidur pulas. Malam itulah bencana berkepanjangan dimulai.
Perbuatan Tukidi yang dinilai melanggar norma agama dan sosial telah menyulut amarah warga Kecamatan Binangun. Warga tambah marah karena perbuatan itu ternyata sudah dilakukan sekitar dua tahun dan yang diperkosa adalah mertuanya sendiri yang sudah lumpuh. Namun, amuk massa dapat dikendalikan tokoh masyarakat setempat. Tukidi, selamat dari amukan warga.
Warga, selain heran juga mengaku bingung. Tukidi selain sudah tua juga memperkosa mertua yang sudah lumpuh dan tak berdaya. Gendut Sugiyono, menantu Tukidi, sampai sekarang masih bingung dengan kelakuan mertuanya. Gendut yang sempat memergoki mertuanya berhubungan intim dengan Tukijem, menilai Tukidi menderita penyimpangan seksual.
Tukidi, kini meringkuk di tahanan Kepolisian Sektor Binangun. Menurut Kapolsek Binangun Ajun Komisaris Polisi Surahmat, Tukidi disangka telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan telah memperkosa seseorang dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.
Tersangka juga kini mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat setempat. Mereka telah sepakat tak akan menerima Tukidi bila kelak bebas dari penjara. Mereka khawatir Tukidi akan melakukan perbuatan serupa jika telah bebas dari tahanan. "Tukidi nggak diterima lingkungan sini. Otaknya bukan otak manusia, tetapi otak hewan," kata Kadi, tokoh desa. Ini sepertinya, pengakuan bersalah dan penyesalan Tukidi yang dilontarkannya di tahanan tak dihiraukan warga.(YYT/Tim Buser SCTV)
Tukidi memang sangat rajin merawat Tukijem yang sejak lima tahun didera lumpuh. Namun, kebaikan sang menantu tersebut harus dibayar mahal. Selama ini Tukijem mengaku batinnya berontak namun karena tak berdaya ia hanya memendam penderitaannya sendiri. Selain karena yang dialaminya termasuk aib, juga Tukidi beberapa kali mengancamnya. Dalam ingatan Tukijem, menantunya itu sudah memperkosa sekitar lima kali. Seingatnya perkosaan itu dilakukan pada malam hari. "Sebab siang hari bekerja," kata Tukijem dalam bahasa Jawa yang terbata-bata.
Perkosaan terhadap Tukijem, sebenarnya dilakukan Tukidi bukan tanpa sebab. Menurut Tukidi, perbuatannya dilakukan karena kekesalannya yang memuncak pada istrinya, Narmi, 54 tahun. Sang istri, menurut Tukidi sering menolak untuk berhubungan intim. Bahkan dalam pikiran liarnya, Tukidi menduga istrinya telah berselingkuh.
Desakan biologis terus menggelora dan sudah sampai ke ubun-ubun. Sepertinya Tukidi tak mau ambil pusing. Sang mertua yang tergolek lemah menjadi sasarannya. Sebelum memperkosa, Tukidi sempat mengungkapkan kekesalannya kepada mertuanya bahwa Narmi kerap menolak untuk bersetubuh.
Meski perkosaan yang dilakukan Tukidi terhadap Tukijem berawal dari sikap Narmi, namun tersangka mengaku memang sejak lama telah menyukai Tukijem. Apalagi, sejak Tukijem sakit-sakitan dan kebagian merawat mertuanya, ketertarikan itu semakin menjadi-jadi. "Pokoknya suka gitu," kata Tukidi.
Narmi sebenarnya sudah lama mengetahui perbuatan suaminya. Namun, karena malu, aib tersebut selama dua tahun dipendam sendiri. Selain malu kepada tetangga, Narmi juga sangat menjaga perasaan keluarga besar termasuk anak, cucu, dan para menantunya. "Tapi karena saya udah nggak kuat, ya udah saya kasih tau aja ke semua orang-orang," kata Narmi.
Aib pun akhirnya terungkap, awal tahun ini. Narmi pertama kali melapor ke polisi karena kasus penganiayaan yang dilakukan suaminya. Namun, belakangan ia juga melaporkan perbuatan suaminya yang sering memperkosa ibunya.
Narmi mengaku memang selama ini selalu menolak melayani suaminya. Alasannya, Tukidi sering memukul tanpa alasan jelas. Apalagi Narmi kerap dituduh berselingkuh dengan orang lain. Selama ini ia tidak menyangka, akibat penolakannya melayani suami berakibat fatal. "Saya udah sumpah-sumpah tapi dia nggak percaya. Saya malah dipukuli. Saya layani, dipukuli. Nggak saya layani, apalagi," ungkap Narmi.
Narmi menuturkan, pada awal 2002, Tukidi yang baru tiba di rumah langsung meminta untuk berhubungan badan. Namun, Narmi menolak. Tukidi jelas naik pitam. Tukidi pun langsung memukul dan menjambak rambut Narmi. Sang istri yang sudah terjatuh kemudian kepalanya diinjak. Narmi sadar, tak mungkin dapat menandingi tenaga suaminya. Narmi langsung kabur ke dapur.
Sambil menahan kesal, Tukidi pun akhirnya memutuskan untuk tidur bersamaan dengan malam yang semakin larut. Namun, mata tak bisa juga dipejamkan karena dorongan birahi Tukidi tak juga kuasa dibendung. Saat itulah pikiran liar Tukidi jalan dan korbannya adalah mertuanya sendiri yang tertidur pulas. Malam itulah bencana berkepanjangan dimulai.
Perbuatan Tukidi yang dinilai melanggar norma agama dan sosial telah menyulut amarah warga Kecamatan Binangun. Warga tambah marah karena perbuatan itu ternyata sudah dilakukan sekitar dua tahun dan yang diperkosa adalah mertuanya sendiri yang sudah lumpuh. Namun, amuk massa dapat dikendalikan tokoh masyarakat setempat. Tukidi, selamat dari amukan warga.
Warga, selain heran juga mengaku bingung. Tukidi selain sudah tua juga memperkosa mertua yang sudah lumpuh dan tak berdaya. Gendut Sugiyono, menantu Tukidi, sampai sekarang masih bingung dengan kelakuan mertuanya. Gendut yang sempat memergoki mertuanya berhubungan intim dengan Tukijem, menilai Tukidi menderita penyimpangan seksual.
Tukidi, kini meringkuk di tahanan Kepolisian Sektor Binangun. Menurut Kapolsek Binangun Ajun Komisaris Polisi Surahmat, Tukidi disangka telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan telah memperkosa seseorang dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.
Tersangka juga kini mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat setempat. Mereka telah sepakat tak akan menerima Tukidi bila kelak bebas dari penjara. Mereka khawatir Tukidi akan melakukan perbuatan serupa jika telah bebas dari tahanan. "Tukidi nggak diterima lingkungan sini. Otaknya bukan otak manusia, tetapi otak hewan," kata Kadi, tokoh desa. Ini sepertinya, pengakuan bersalah dan penyesalan Tukidi yang dilontarkannya di tahanan tak dihiraukan warga.(YYT/Tim Buser SCTV)