Puncak Haji, Jemaah Indonesia Mulai Bergerak ke Arafah

PPIH Arab Saudi mulai memberangkatkan jemaah haji Indonesia dari Makkah menuju Arafah untuk menjalani puncak ibadah haji.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 25 Mei 2026, 12:50 WIB
Jemaah haji Indonesia berangkat ke Arafah, Senin, 25 Mei 2026. (Foto: Dokumentasi Media Center Haji 2026)

Liputan6.com, Jakarta - Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mulai memberangkatkan jemaah haji Indonesia dari Makkah menuju Arafah untuk menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Senin (25/5/2026).

Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi, Syarif Rahman, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan jadwal pergerakan seluruh kelompok terbang (kloter) agar proses pemberangkatan berjalan tertib dan sesuai waktu yang ditentukan.

“Bidang transportasi sudah menyiapkan jadwal pergerakan seluruh kloter, sebanyak 527 kloter untuk bergerak ke Armuzna,” kata dia.

Terpisah, Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff, mengatakan pergerakan jemaah dari hotel menuju Arafah akan dilakukan secara bertahap dalam tiga trip, yaitu pukul 07.00, 11.30, dan 16.30, waktu Arab Saudi.

“Karena itu, kami mengimbau seluruh jemaah untuk mematuhi jadwal, mengikuti arahan petugas, tidak bergerak sendiri, dan tidak terpisah dari rombongan,” ujar Maria saat jumpa pers di Jakarta, Minggu, 24 Mei 2026.

Maria menjelaskan, sejak Minggu, pukul 07.00 waktu Arab Saudi, Satuan Tugas Arafah mulai diberangkatkan ke lokasi untuk memastikan kesiapan layanan Armuzna, mulai dari pengecekan akhir tenda, konsumsi, transportasi, kesehatan, bimbingan ibadah, pelindungan jemaah, hingga proses penerimaan jemaah di Arafah.

“Fase Armuzna adalah tahapan paling penting dan paling padat. Karena itu, seluruh layanan harus benar-benar siap agar jemaah dapat menjalankan puncak ibadah haji dengan tertib, aman, nyaman, dan khusyuk,” katanya.

Maria juga mengajak jemaah dan petugas untuk saling peduli, terutama kepada jemaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu.

“Jika melihat jemaah berjalan sendiri, tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, segera arahkan pada petugas terdekat. Keselamatan jemaah adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.

 

Persiapan PPIH

PPIH juga menyiapkan pola pergerakan jemaah dari Arafah ke Muzdalifah, kemudian ke Mina, hingga kembali lagi ke Makkah. Seluruh pergerakan akan dikendalikan secara berjenjang oleh ketua regu dan ketua rombongan.

Syarif mengatakan, setiap markaz dengan kapasitas sekitar 3.000 jemaah mendapat alokasi tujuh unit bus dari pihak syarikah untuk mengangkut jemaah dari Makkah menuju Arafah.

Bus tersebut akan beroperasi dalam tiga gelombang perjalanan, yakni pagi, siang, dan sore hari. Pada masing-masing gelombang, bus melakukan tiga kali putaran perjalanan.

Selain itu, PPIH menyiapkan dua skema pergerakan jemaah dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina, yakni program Taradudi dan Mabit Murur.

“Untuk (Mabit) Murur dan Taradudi, semuanya akan digerakkan bersama-sama, tapi melalui pintu dan bus masing-masing,” kata Syarif.

Ia menjelaskan, jemaah program Mabit Murur akan melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus dan langsung menuju Mina. PPIH menyiapkan pintu keberangkatan terpisah untuk jemaah Mabit Murur dan Taradudi guna menghindari kepadatan.

Pergerakan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina dijadwalkan berlangsung pada 9 Zulhijjah atau Selasa, 26 Mei 2026, mulai pukul 19.00 hingga 23.00, waktu Arab Saudi dengan target sekitar 160 ribu jemaah.

Syarif menambahkan, berdasarkan hasil rapat dengan otoritas terkait di Arab Saudi, jika hingga pukul 23.00 masih terdapat jemaah yang berada di Arafah, seluruhnya akan dialihkan menggunakan skema Murur.

Pemerintah Indonesia sebelumnya mengajukan kuota tanazul resmi bagi 80 ribu jemaah haji. Namun, otoritas Arab Saudi hanya menyetujui sekitar 20 ribu jemaah karena mempertimbangkan pengelolaan mobilitas selama puncak ibadah haji.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya