Liputan6.com, Jakarta - La Ode Safiul Akbar resmi mendeklarasikan diri sebagai calon ketua umum Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro 1957 pada Minggu (24/5/2026).
Dalam deklarasi tersebut, ia menegaskan komitmennya untuk mengakarkan kembali Kosgoro 1957 sebagai organisasi karya yang fokus pada pengabdian, kerakyatan, dan solidaritas guna mendaulatkan kesejahteraan bangsa.
Advertisement
Sebagai tokoh yang berlatar belakang dunia usaha, La Ode Safiul Akbar meyakini sebuah organisasi besar tidak boleh tercerabut dari akarnya agar bisa memberikan kemaslahatan bagi anggota dan ekosistemnya.
Ia menilai, tata kelola sumber daya manusia dan alam harus mampu menjawab tantangan kompetisi global, disrupsi teknologi, ketimpangan ekonomi, hingga krisis kaderisasi.
Langkah politiknya ini juga dipastikan berjalan mulus setelah mengantongi dukungan dari internal partai. La Ode menyampaikan bahwa dirinya telah mendapatkan restu langsung dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, untuk bertarung dalam bursa pemilihan ketua umum salah satu organisasi pendiri Golkar tersebut.
"Ketum Bahlil sudah merestui saya maju jadi Ketum Kosgoro," ujar La Ode dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Guna menghadapi tantangan bangsa yang semakin kompleks, La Ode meletakkan prinsip dasar organisasi untuk menghidupkan kembali etos gotong royong di tengah menguatnya individualisme. Selain itu, ia berkomitmen memberdayakan organisasi sebagai ruang solusi ekonomi, serta membangun kader yang adaptif, berintegritas, dan kompeten.
Membumikan Visi Lewat Tiga Misi Strategis
Dalam pemaparan visinya, La Ode menegaskan tidak ingin sekadar melambungkan janji, melainkan membumikan organisasi agar hadir nyata dalam kehidupan masyarakat. Visi tersebut fokus pada penguatan pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan menjadi lokomotif kebangkitan karya di dalam tubuh Partai Golkar.
Visi mendasar tersebut ia transformasikan ke dalam tiga agenda kerja utama yang saling berkesinambungan. Langkah pertama adalah menghadirkan masa lalu sebagai fondasi, di mana Kosgoro 1957 harus kembali menjadi sekolah karakter untuk menyemai falsafah dasar berdirinya organisasi. Melalui langkah ini, nilai-nilai seperti disiplin, loyalitas pada bangsa, keberanian berinovasi, dan keberpihakan pada rakyat tidak hanya dikenang dalam seremoni, tetapi hidup dalam budaya organisasi.
Selanjutnya, langkah kedua adalah mengelola masa kini dengan solusi nyata. Kosgoro 1957 diwajibkan hadir langsung di tengah persoalan bangsa dengan menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Hal ini diwujudkan melalui pemberdayaan UMKM, penguatan koperasi modern, literasi digital ekonomi, serta penciptaan ekosistem usaha yang berpihak pada rakyat kecil. Menurutnya, organisasi ini tidak boleh hanya hidup di ruang rapat, melainkan harus bergerak di pasar-pasar rakyat, sentra usaha, desa produktif, dan ruang inovasi anak muda.
Sementara untuk langkah ketiga, La Ode menekankan pentingnya menyiapkan masa depan melalui kaderisasi unggul. Kepemimpinan hari ini dinilai tidak boleh hanya sibuk mengelola masa sekarang, melainkan harus melahirkan pemimpin untuk esok hari. Kosgoro 1957 berkomitmen mencetak kader yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, dan kompetensi profesional yang mampu memimpin organisasi, menggerakkan ekonomi, serta mengawal masa depan Golkar.
Pada sesi orasi, La Ode Safiul Akbar kembali mengingatkan bahwa kebesaran Partai Golkar di masa depan sangat ditentukan oleh seberapa kuat akar organisasinya menyentuh lapisan kehidupan rakyat, di mana Kosgoro 1957 merupakan salah satu akar terpenting tersebut.
Ia mengakhiri pesannya dengan mengajak seluruh kader untuk membawa Kosgoro 1957 keluar dari sekadar ingatan sejarah dan bertransformasi menjadi rumah besar karya yang nyata untuk Indonesia dengan cara menjaga akar, membaca zaman, serta menyiapkan generasi penerus.