Silvio Mario Balotelli diakui publik sepakbola dunia sebagai pemain muda yang amat cerdas bahkan disebut-sebut sebagai striker jenius. Super Mario kerap membuat aksi yang kontroversial di lapangan, salah satunya saat memamerkan kaos dalamnya bertuliskan: "Why Always Me?" yang gaya itu kemudian diikuti sejumlah pemain lain. Di luar lapangan pun, Balo sempat beberapa kali terlibat masalah dengan polisi. Mario diejek, disingkirkan, tapi juga selalu dibutuhkan. ----------"Prraaangggg...." tiba-tiba kaca pintu rumah itu pecah berantakan. Serpihan kacanya berserakan di mana-mana. Tak lama kemudian, keadaan menjadi hening. Yang ada hanya bocah yang sesekali mengelap ingusnya memandang pintu tanpa kaca. Ia pun mengamati pecahan-pecahan kaca yang bertebaran di lantai. Anak itu sengaja menendang bola diarahkan ke kaca pintu. Tak terlihat ekspresi wajah takut. Ia hanya melihat sebentar dan kemudian segera berlari ke luar rumah mengambil bola yang telah melesat ke halaman. "Mario...Mario..." terdengar suara perempuan memanggil bocah laki-laki yang sedang memeluk bola kesayangannya di halaman rumah. Tak tampak wajah takut, tidak pula terlihat ekspresi rasa bersalah. Cristina Balotelli ingat benar pengalaman itu. Di matanya, sang adik angkat itu merupakan anak laki-laki yang pemberani dan tidak cengeng. Ia seorang anak hiperaktif yang selalu menunjukkan berbagai hal baru. Bahkan bermacam-macam kejutan selalu muncul dari diri Silvio Mario Balotelli. "Dia selalu sibuk dengan banyak kegiatan. Dia melakukan sesuatu dan kemudian memiliki ide baru yang lain lagi. Dia bisa mempunyai 100 ide dalam waktu yang singkat," ungkap Cristina tentang adik angkatnya itu. "Anda membuat janji dengan dia, dan dia bisa berubah dua kali dalam waktu yang begitu cepat," katanya menambahkan, seperti ditulis Time dalam suatu wawancara. Cristina sangat menyayangi adik angkatnya itu yang digambarkannya sebagai anak yang cerdas, enerjik, penuh dengan gagasan yang kadang terasa mencengangkan. Dua kakak angkat Mario yang umurnya jauh lebih tua lainnya, Corrado dan Giovanni pun sama. Mereka semua menyukai bocah hiperaktif itu."Dia cerdas, cepat menangkap saat mempelajari sesuatu, dan dewasa. Namun di saat yang sama kadang ia menjadi agak kekanak-kanakan. Dia tak suka basa-basi dan lebih senang terus terang," ujarnya menambahkan. Seperti ditulis Daily Mail, Mario Balotelli mempunyai masa kecil yang kurang beruntung. Mario lahir di Palermo, Sisilia, Italia, 12 Agustus 1990 silam. Sang ayah Thomas Barwuah dan Ruth merupakan warga imigran asal Ghana. Sebagian besar waktu di tahun pertama Mario dihabiskan di rumah sakit. Mario kecil mempunyai masalah dengan ususnya yang nyaris merenggut hidupnya. Dokter ahli bedah di Palermo akhirnya melakukan tindakan operasi usus untuk menyelamatkan si kecil. Orangtua Mario tinggal di kawasan padat, miskin, dan kumuh Brescia di Italia Utara yang banyak dihuni oleh orang-orang imigran asal Afrika. Belum lagi umur Mario genap 3 tahun, seorang pasangan suami istri Italia berdarah Yahudi Francesco Balotelli dan Silvia mengadopsi si kecil Mario dan memboyong bocah balita itu ke tempat tinggal mereka di Bagnolo Mella, Lombardy, bagian dari Provinsi Brescia. Sejak meninggalkan keluarga Barwuah, keluarga baru Mario tak pernah menyinggung masa lalunya sama sekali. "Saya hanya mengatakan bahwa anak yang ditinggalkan ini tidak akan pernah lupa," ungkap Balotelli berkisah tentang masa kecil Mario seperti ditulis Sportweek suplemen Minggu Gazzetta dello Sport edisi 2008 silam. Mario amat mencintai keluarga barunya. Hingga kini, hubungannya begitu dekat dengan sang ibu Silvia. Pada ibunda angkatnya inilah, Mario menemukan sisi keibuan sejati.
Advertisement