Liputan6.com, Jakarta: Peristiwa yang menewaskan jemaah haji kembali terjadi di Mina, Arab Saudi. Sebanyak 244 jemaah termasuk 54 orang asal Indonesia tewas terinjak-injak saat melempar jumrah Aqabah di Jemarat Mina, Ahad silam [baca: Jemaah Indonesia Tewas di Mina Menjadi 54 Orang]. Saat itu ribuan orang berdesakan sehingga jemaah yang akan keluar dari tempat melontar, bertubrukan dengan jemaah yang masuk.
Reporter senior Liputan 6 SCTV Beki Mardani berpendapat, melontar jumrah menjadi titik rawan kecelakaan hampir di setiap tahun. Prosesi ini dilakukan setelah jemaah berwukuf di Padang Arafah. Selanjutnya jutaan orang menuju satu tempat berdiameter 10 meter. Ritual melempar batu mengikuti jejak Nabi Ibrahim tatkala mengusir iblis yang menggodanya untuk tidak menyembelih putranya, Ismail. "Jemaah yang telah selesai melontar jumrah, sering bertabrakan dengan jemaah yang masuk," kata Beki kepada Bayu Sutiyono, Senin (2/2) petang.
Beki menduga, para jemaah lelah setelah tiga hari kurang tidur. Keletihan dimulai saat jemaah menempuh perjalanan delapan jam dari Madinah ke Arafah. Sabtu malam, para jemaah berangkat ke Muzdalifah untuk memgambil tujuh butir batu. Seluruh jemaah berharap bisa menyelesaikan rangkaian ibadah dan melepas pakaian ihram setelah melempar jumrah. Mayoritas jemaah haji juga berkeyakinan waktu terbaik melempar jumrah setelah matahari terbit hingga zuhur. "Seharusnya para pembimbing bisa mengarahkan jemaah untuk melempar jumrah di waktu senggang seperti usai salat Asar dan di malam hari," tutur Beki.
Menurut Beki, ada tiga solusi yang bisa ditawarkan sehingga peristiwa serupa tak terulang di kemudian hari. Pertama, Pemerintah Arab Saudi melakukan proses buka tutup di jalur menuju jumrah Aqabah. Jumlah jemaah dibatasi sesuai dengan kapasitas jemarat, sehingga jemaah yang keluar tidak bertabrakan dengan jemaah yang masuk. Kedua, dibangun eskalator sehingga jemaah bisa melontar jumrah dengan leluasa dan keluar di titik yang sudah ditentukan. Ketiga, jemaah yang fisiknya kurang kuat, bisa diwakili atau membayar dam (denda) dengan cara menyembelih hewan kurban.(COK)
Reporter senior Liputan 6 SCTV Beki Mardani berpendapat, melontar jumrah menjadi titik rawan kecelakaan hampir di setiap tahun. Prosesi ini dilakukan setelah jemaah berwukuf di Padang Arafah. Selanjutnya jutaan orang menuju satu tempat berdiameter 10 meter. Ritual melempar batu mengikuti jejak Nabi Ibrahim tatkala mengusir iblis yang menggodanya untuk tidak menyembelih putranya, Ismail. "Jemaah yang telah selesai melontar jumrah, sering bertabrakan dengan jemaah yang masuk," kata Beki kepada Bayu Sutiyono, Senin (2/2) petang.
Beki menduga, para jemaah lelah setelah tiga hari kurang tidur. Keletihan dimulai saat jemaah menempuh perjalanan delapan jam dari Madinah ke Arafah. Sabtu malam, para jemaah berangkat ke Muzdalifah untuk memgambil tujuh butir batu. Seluruh jemaah berharap bisa menyelesaikan rangkaian ibadah dan melepas pakaian ihram setelah melempar jumrah. Mayoritas jemaah haji juga berkeyakinan waktu terbaik melempar jumrah setelah matahari terbit hingga zuhur. "Seharusnya para pembimbing bisa mengarahkan jemaah untuk melempar jumrah di waktu senggang seperti usai salat Asar dan di malam hari," tutur Beki.
Menurut Beki, ada tiga solusi yang bisa ditawarkan sehingga peristiwa serupa tak terulang di kemudian hari. Pertama, Pemerintah Arab Saudi melakukan proses buka tutup di jalur menuju jumrah Aqabah. Jumlah jemaah dibatasi sesuai dengan kapasitas jemarat, sehingga jemaah yang keluar tidak bertabrakan dengan jemaah yang masuk. Kedua, dibangun eskalator sehingga jemaah bisa melontar jumrah dengan leluasa dan keluar di titik yang sudah ditentukan. Ketiga, jemaah yang fisiknya kurang kuat, bisa diwakili atau membayar dam (denda) dengan cara menyembelih hewan kurban.(COK)