Dua Pabrik Pupuk di Aceh Tak Beroperasi

Pemerintah diminta menanggulangi kesulitan memperoleh gas alam cair yang dialami PT Pupuk Iskandar Muda I dan PT ASEAN Aceh Fertilizer. Distribusi pupuk ke tangan petani terlambat.

oleh Liputan6Diterbitkan 25 Januari 2004, 08:48 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah diminta menanggulangi kesulitan gas alam cair (LNG) yang dialami PT Pupuk Iskandar Muda I dan PT ASEAN Aceh Fertilizer. Pasalnya, dua pabrik penghasil pupuk urea di Lhokseumawe di Aceh Utara itu kini tak beroperasi lagi karena pasokan LNG dari Exxonmobil Oil terhenti sejak pertengahan tahun silam [baca: Negosiasi Kontrak ExxonMobil Diharapkan Selesai Bulan Ini]. Demikian dikemukakan Wakil Ketua DPR A.M. Fatwa di Jakarta, baru-baru ini.

Fatwa mengkhawatirkan jika hal tersebut tak segera ditangani, kondisi kedua pabrik yang menjadi sumber devisa akan bertambah parah. Apalagi, dalam rapat kabinet terbatas sebelumnya, pemerintah tak memiliki rencana yang utuh tentang nasib industri pupuk, sehingga tak ada jaminan pasokan gas pasca-April 2004 dapat terealisasi.

Hal tersebut juga diamini Direktur Utama PT Pupuk Iskandar Muda I Hidayat Nyakman. Menurut Hidayat, pihaknya berupaya mengoperasikan pabrik tersebut dengan alokasi dana yang ada. Kendati begitu, produksi tak akan sama dengan dalam keadaan normal yakni sekitar 520 ribu ton pupuk urea per tahunnya.

Di tempat terpisah, Menteri Pertanian Bungaran Saragih mengakui, keterlambatan distribusi pupuk ke tangan petani. Saat ini terjadi lonjakan harga sebagai dampak dari kelangkaan pupuk di sejumlah sentra penghasil utama beras khususnya di wilayah Pantai Utara Jawa Barat. Kendati begitu, kondisi tersebut dipastikan tak akan pengaruhi masa tanam padi di wilayah Cirebon, Jabar, dan sekitarnya.

Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Cirebon menyebutkan, pada musim penghujan ini terdapat sekitar 200 hektare areal sawah yang akan terendam banjir menyusul semrawutnya sistem pengairan. Para petani juga bakal menghadapi serangan hama wereng, penggerek batang, dan hama tikus.

Memasuki musim tanam padi rendeng, 42 ribu hektare areal pertanian di Kabupaten Cirebon telah ditanami bibit padi dan masih tersisa sekitar 3.000 hektare. Hal ini menunjukkan para petani lebih cepat menanam padi pada musim penghujan.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya