Liputan6.com, Abu Dis: Pemerintah Israel melanjutkan pembangunan tembok pengaman di Tepi Barat, tepatnya di kawasan Desa Abu Dis, Senin (12/1). Nantinya, dinding pembatas di kawasan itu bakal memisahkan Desa Abu Dis dengan Yerusalem.
Warga Palestina yang menyaksikan pembangunan tembok cuma bisa terpaku. Selama ini, mereka gencar memprotes kebijakan itu. Tentangan juga datang dari Amerika Serikat. Bahkan, Negeri Adi Daya itu mengancam akan memotong pinjaman yang dijanjikan kepada Israel. Namun, di mata Israel, protes dan ancaman cuma angin lalu. Buktinya, pembangunan tembok pembatas tetap dilanjutkan.
Pagar pemisah yang mulai dibangun Israel pada Juni 2003 itu rencananya berdiri sepanjang 600 kilometer di Tepi Barat. Tujuannya mencegah masuknya para pelaku bom bunuh diri. Sejauh ini, dinding pemisah yang sudah selesai dibangun baru sepanjang 150 kilometer, meliputi pagar, parit, kawat berduri, dan tembok beton.
Warga Palestina menilai kebijakan pembangunan pagar pembatas justru memperkecil wilayah Palestina. Sebab, di beberapa area, tembok justru masuk jauh ke dalam wilayah Palestiba. Bahkan, di sejumlah tempat lainnya, dinding tersebut justru mengisolasi warga Palestiba dari desa-desa dan kota-kota di sekitarnya.
Di wilayah Qalqilya, walikota setempat mengatakan, sejak tembok setinggi 10 meter ini dibangun, jalan masuk ke kota tinggal satu. Kondisi ini membuat kehidupan warga Palestina bertambah sulit. Para petani kehilangan tanah dan rakyat kehilangan mata pencaharian.
Bahkan, Perdana Menteri Palestina Ahmed Qorei mengatakan, kedamaian dan keamanan sulit terwujud di Timur Tengah selama tembok pemisah di Tepi Barat masih berdiri. Tembok pemisah itu tak lain adalah dinding rasis [baca: Qorei: Tembok Pemisah Tak Akan Mendamaikan].
Sementara itu, menjelang pertemuan mingguan Kabinet Palestina, sekelompok kecil demonstran berkumpul di luar Gedung Dewan Menteri di Kota Ramallah. Mereka berunjuk rasa menentang dilanjutkannya pembangunan tembok pengaman Israel. Juru runding Palestina Saeb Erekat mengatakan, kelanjutan pembangunan tembok pengaman ini adalah bagian dari kebijakan Isral yang "melangkahi" dan bisa menghancurkan esensi perdamaian di Timur Tengah.(SID/Pinta)
Warga Palestina yang menyaksikan pembangunan tembok cuma bisa terpaku. Selama ini, mereka gencar memprotes kebijakan itu. Tentangan juga datang dari Amerika Serikat. Bahkan, Negeri Adi Daya itu mengancam akan memotong pinjaman yang dijanjikan kepada Israel. Namun, di mata Israel, protes dan ancaman cuma angin lalu. Buktinya, pembangunan tembok pembatas tetap dilanjutkan.
Pagar pemisah yang mulai dibangun Israel pada Juni 2003 itu rencananya berdiri sepanjang 600 kilometer di Tepi Barat. Tujuannya mencegah masuknya para pelaku bom bunuh diri. Sejauh ini, dinding pemisah yang sudah selesai dibangun baru sepanjang 150 kilometer, meliputi pagar, parit, kawat berduri, dan tembok beton.
Warga Palestina menilai kebijakan pembangunan pagar pembatas justru memperkecil wilayah Palestina. Sebab, di beberapa area, tembok justru masuk jauh ke dalam wilayah Palestiba. Bahkan, di sejumlah tempat lainnya, dinding tersebut justru mengisolasi warga Palestiba dari desa-desa dan kota-kota di sekitarnya.
Di wilayah Qalqilya, walikota setempat mengatakan, sejak tembok setinggi 10 meter ini dibangun, jalan masuk ke kota tinggal satu. Kondisi ini membuat kehidupan warga Palestina bertambah sulit. Para petani kehilangan tanah dan rakyat kehilangan mata pencaharian.
Bahkan, Perdana Menteri Palestina Ahmed Qorei mengatakan, kedamaian dan keamanan sulit terwujud di Timur Tengah selama tembok pemisah di Tepi Barat masih berdiri. Tembok pemisah itu tak lain adalah dinding rasis [baca: Qorei: Tembok Pemisah Tak Akan Mendamaikan].
Sementara itu, menjelang pertemuan mingguan Kabinet Palestina, sekelompok kecil demonstran berkumpul di luar Gedung Dewan Menteri di Kota Ramallah. Mereka berunjuk rasa menentang dilanjutkannya pembangunan tembok pengaman Israel. Juru runding Palestina Saeb Erekat mengatakan, kelanjutan pembangunan tembok pengaman ini adalah bagian dari kebijakan Isral yang "melangkahi" dan bisa menghancurkan esensi perdamaian di Timur Tengah.(SID/Pinta)