Hingga saat ini, belum tampak senyum dari wajah Jose Mourihno sejak kembali menjabat manajer Chelsea mulai Juli lalu. Mantan pelatih Real Madrid tersebut lebih sering terlihat duduk di kursi cadangan meratapi performa timnya yang belum stabil.
Kekalahan dari Basel di pertandingan perdana penyisihan Grup E Liga Champions, Kamis (19/9/2013) dinihari WIB, menjadi puncaknya. Di kandang sendiri, Stamford Bridge, anak asuhan Mou harus bertekuk lutut di hadapan klub Swiss tersebut dengan skor 1-2.
Hasil ini menjadi start terburuk Chelsea di Liga Champions selama era kepemilikan Roman Abramovich sejak 2003. Kekalahan ini sekaligus menyudahi rekor The Blues yang tak pernah kalah dalam 29 laga kandang di babak penyisihan grup Liga Champions.
Dalam 29 pertandingan, Chelsea meraih 22 kemenangan dan 7 kali imbang. Kekalahan terakhir di Stamford Bridge terjadi 10 tahun silam dari Besiktas (0-2) di bawah asuhan Claudio Ranieri musim 2003-04.
Ada beberapa faktor yang membuat performa Chelsea merosot. Pertama adalah karena lini depan mereka mandul. Sejak Januari, koleksian gol dua penyerang mereka, Demba Ba dan Fernando Torres, dalam 59 pertandingan hanya mencetak 11 gol.
Advertisement
Miris jika dibanding statistik penyerang yang mereka lepas ke Liverpool Januari lalu, Daniel Sturridge, yang kini kian subur dengan mencetak 17 gol dari 21 penampilannya di semua kompetisi. Keputusan melepas Sturridge, dianggap tidak tepat. Samuel Eto'o yang direkrut dari Anzhi musim panas ini, juga belum terlihat mampu membuat makin tajam lini depan.
Selanjutnya adalah masalah di lini tengah, hingga kini masih belum ada yang dapat menggantikan peran Frank Lampard sebagai pemecah kebuntuan yang acapkali mencetak gol dari luar kotak penalti itu.
Pada jaman kejayaan Chelsea ketika diasuh Mou pertama kali (2004-07), saat meraih gelar juara Liga Premier (2004-05 dan 2005-06) dan Piala FA (2006-07), rata-rata Lampard mencetak 20 gol dari 50 penampilannya di semua kompetisi.
Masalah berikutnya adalah mencadangkan Juan Mata yang merupakan pencetak assist terbanyak musim lalu, dengan 35 assist di semua kompetisi, di atas Eden Hazard (24 assist). Kini Mou lebih sering mengandalkan Oscar, Hazard, dan Marco van Ginkel sebagai penopang ujung tombak.
Kendala terakhir ada di tembok pertahanan yang tidak sekuat ketika ditopang duet John Terry dan Ricardo Carvalho. Sehingga lemah dalam mengantisipasi bola mati. Salah satunya adalah gol Marco Streller yang menjadi gol kemenangan Basel pada menit ke-82.
Semua itu jelas menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi Mou. Pelatih asal Portugal itu harus segera mencari solusi tepat untuk skuat Chelsea sekarang ini yang memiliki banyak stok pemain gelandang. (Dari berbagai sumber/Vin)