Pencak Silat Minangkabau yang Tak sekedar Silat

Selain menjadi ilmu bela diri, pencak silat tradisional Minangkabau juga mengandung nilai kebudayaan Masyarakat Minang. Namun ada sejumlah syarat khusus.

oleh Liputan6Diterbitkan 26 Januari 2001, 06:44 WIB
Liputan6.com, Pekanbaru: Bela diri pencak silat memang tak terlepas dari nilai-nilai budaya yang berbeda di tiap daerah. Atraksi itulah yang disodorkan pencak silat Minangkabau di Pekanbaru, Riau, baru- baru ini. Ajang unjuk kebolehan itu diperagakan oleh para pesilat dari sasana Silek Harimau Lalok atau Harimau Tidur. Menurut Tuo silek atau guru silat Rasyidin, silat Minangkau berkembang seiring banyaknya orang Minang yang merantau ke berbagai daerah. Lantaran itu pula, tak heran jika bela diri silat yang satu ini rata-rata dikuasai para pedagang.

Galibnya pencak silat, setiap gerakan bela diri asal Ranah Minang ini selalu diiringi musik tradisional setempat, Gendang Tassa. Para pesilat pun mulai beraksi dengan membawakan jurus Gelombang Silat Langkah Empat. Strategi bela diri ini dikembangkan dari aliran silat tua Minangkabau seperti Starlak dan Kumango.

Kendati begitu siapa pun yang hendak menguasainya harus menggenapi syarat tertentu. Mereka harus menyerahkan kain putih sebagai lambang kesucian hati, seekor ayam jantan tanda ksatria, serta sebilah pisau perlambang pembela kebenaran.

Menurut Rasyidin, keberadaan silat ini memang tak dikenal secara umum. Sebab latihan dilakukan di tempat-tempat tertutup dan tidak diketahui banyak orang. Pasalnya, selain melatih fisik, para pesilat juga bakal dibekali ilmu-ilmu tertentu yang mempersiapkan mereka untuk merantau. Sayang, Rasyidin enggan merinci ilmu tambahan tadi yang kini mulai dikenal di India dan Pakistan itu.(ANS/Yusril Ardanis)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya