Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla dalam beberapa kunjungannya ke daerah menyempatkan diri melakukan sweeping sound system di masjid-masjid. Bagi Jusuf Kalla, sopir yang ugal-ugalan lebih baik dari khotib yang ceramah di masjid dengan menggunakan pengeras suara yang buruk.
"Lebih mungkin seorang sopir angkot yang ugal-ugalan membuat penumpangnya masuk surga, ketimbang seorang khatib yang khotbah di masjid yang sound sistem-nya jelek," ujar JK dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Selasa (17/9/2013).
Apalagi, kata JK, lebih 50 persen masjid di Indonesia sound system-nya tidak nyaman di telinga. "Bagaimana umat bisa memahami ajaran agama dengan baik, kalau pesan khotib tidak sampai?"
Pria yang karib disapa JK ini menilai, sopir yang yang mengemudi ugal-ugalan dapat membuat penumpang jadi Tuhan, karena dipaksa membaca istighfar berkali kali. Sedangkan khatib yang khotbah di masjid dengan pengeras suara yang jelek, justru membuat jemaah ngantuk. "Ada juga yang sengaja batuk batuk, pertanda tak puas," kata JK.
Saat berada di Pati, Jawa Tengah, menyisakan waktu diskusi dengan pengurus masjid Raya Pati tentang tata letak loud speaker, yang ternyata sangat berpengaruh apakah audionya tidak storing atau mendengung.
"Sebaiknya posisi loud speaker, diletakkan satu arah ke depan, seperti posisi speaker pada acara-acara konser rock," kata JK memberi kursus singkat.
"Dan cara tesnya tidak cukup dengan menyebut angka. Test 1-2-3 tetapi sebaiknya baca koran sambil pantau audionya," kata JK sambil lesehan dengan sejumlah pengurus Masjid Raya Pati. Kualitas loud speaker masjid ini kata JK sangat bagus, tinggal tata letaknya yang perlu diperbaiki.
Soal pengeras suara kembali menjadi sorotan. Tapi bukan pengeras suara si masjid, melainkan sound system demonstran. Saat massa buruh mendemo Kompleks Istana Kepresidenan kemarin, Presiden SBY terganggu. Alasannya, suara demonstran menembus masuk ke dalam ruang rapat SBY. (Riz/Ism)
Advertisement