PT Pertamina (Persero) akan menggelar tender pengadaan campuran Bahan Bakar Nabati (BBN) atau fatty acid methyl ester (FAME) untuk biosolar sebanyak 6,6 juta Kiloliter (Kl). Pengumuman tender rencananya akan dilakukan pekan ini dengan mengundang perusahaan nasional yang memenuhi syarat.
VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir di Jakarta, Minggu (15/9/2013) mengatakan tender dilakukan untuk mendapatkan pasokan FAME selama dua tahun, yaitu 2014 dan 2015 dengan volume 6,6 juta KL atau 3,3 juta KL per tahun.
Menurut Ali, keputusan tender ini merupakan dukungan konkret Pertamina untuk memenuhi ketentuan pemerintah dalam pemanfaatan bahan BBN dan mengurangi porsi impor BBM. Dengan volume sebesar itu, diharapkan nilai impor Solar dapat ditekan sedikitnya US$2,6 miliar per tahun.
"Semoga langkah cepat yang dilakukan Pertamina ini dapat diikuti oleh seluruh badan usaha lainnya sehingga niat pemerintah untuk menekan impor BBM dapat terwujud," harapnya.
Selama ini Pertamina mengklaim telah menunjukkan komitmen terhadap pelaksanaan Permen ESDM No.32 tahun 2008 dengan terus meningkatkan penggunaan FAME dari semula 126.098 KL atau setara dengan 2,4 juta KL biosolar pada 2008 menjadi 669.245 KL atau setara 9,3 juta KL Biosolar.
Mulai awal 2012, sebanyak 70% solar subsidi yang didistribusikan ke masyarakat telah mengandung 7,5% FAME. Bahkan terhitung sejak 1 September 2013, kandungan FAME tersebut telah ditingkatkan menjadi 10%.
Seiring dengan penambahan infrastruktur untuk pencampuran di wilayah Indonesia Bagian Timur, diharapkan seluruh Solar PSO sudah akan dicampur dengan 10% FAME pada 2014.
"Selain dicampurkan dengan Solar PSO, FAME juga akan dicampurkan dengan diesel untuk keperluan Non PSO, listrik, serta industri dan komersial secara bertahap hingga akhir tahun. Untuk tahun ini penyerapan Biosolar diproyeksikan dapat mencapai 1,1 juta KL," tutupnya. (Pew/Shd)
VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir di Jakarta, Minggu (15/9/2013) mengatakan tender dilakukan untuk mendapatkan pasokan FAME selama dua tahun, yaitu 2014 dan 2015 dengan volume 6,6 juta KL atau 3,3 juta KL per tahun.
Menurut Ali, keputusan tender ini merupakan dukungan konkret Pertamina untuk memenuhi ketentuan pemerintah dalam pemanfaatan bahan BBN dan mengurangi porsi impor BBM. Dengan volume sebesar itu, diharapkan nilai impor Solar dapat ditekan sedikitnya US$2,6 miliar per tahun.
"Semoga langkah cepat yang dilakukan Pertamina ini dapat diikuti oleh seluruh badan usaha lainnya sehingga niat pemerintah untuk menekan impor BBM dapat terwujud," harapnya.
Selama ini Pertamina mengklaim telah menunjukkan komitmen terhadap pelaksanaan Permen ESDM No.32 tahun 2008 dengan terus meningkatkan penggunaan FAME dari semula 126.098 KL atau setara dengan 2,4 juta KL biosolar pada 2008 menjadi 669.245 KL atau setara 9,3 juta KL Biosolar.
Mulai awal 2012, sebanyak 70% solar subsidi yang didistribusikan ke masyarakat telah mengandung 7,5% FAME. Bahkan terhitung sejak 1 September 2013, kandungan FAME tersebut telah ditingkatkan menjadi 10%.
Seiring dengan penambahan infrastruktur untuk pencampuran di wilayah Indonesia Bagian Timur, diharapkan seluruh Solar PSO sudah akan dicampur dengan 10% FAME pada 2014.
"Selain dicampurkan dengan Solar PSO, FAME juga akan dicampurkan dengan diesel untuk keperluan Non PSO, listrik, serta industri dan komersial secara bertahap hingga akhir tahun. Untuk tahun ini penyerapan Biosolar diproyeksikan dapat mencapai 1,1 juta KL," tutupnya. (Pew/Shd)