Liputan6.com, Jakarta: Panglima Komando Operasi TNI Brigadir Jenderal TNI George Toisuta menyatakan Sori Ersa Siregar, reporter RCTI tewas dalam kontak senjata antara patroli Batalyon VI Marinir dan sekitar delapan anggota Gerakan Aceh Merdeka. Pertempuran tersebut terjadi di Dusun Kuala Manihan, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, Senin (29/12) sekitar pukul 12.30 WIB. Kronologis insiden tersebut diungkapkan Pangkoops saat menggelar teleconference di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, tadi malam [baca: Ersa Siregar Tewas Tertembak].
Menurut George, peristiwa itu berawal dari patroli rutin TNI untuk menyisir anggota GAM di daerah tersebut. Namun, saat menyisir daerah rawa di Dusun Kuala Manihan, Kecamatan Simpang Ulim, pasukan TNI bertemu dengan sekelompok anggota GAM. Kontak senjata terjadi. Dalam perang itu, kedua belah pihak tak mengetahui kondisi masing-masing lawan. Jarak pandang mereka terhalang alang-alang yang lumayan tinggi. Tak heran, jika kontak senjata berlangsung berdasarkan arah tembakan. Kontak senjata berlangsung selama 20 menit. Setelah lokasi disisir, TNI menemukan dua jenazah korban pertempuran. Ternyata seorang di antaranya adalah Ersa, wartawan RCTI yang ditawan GAM sejak 23 Juni 2003.
Jenazah jurnalis senior itu disemayamkan di Rumah Sakit Angkatan Darat Kesrem Lilawangsa, Lhokseumawe, Aceh Utara. Rencananya, jenazah Ersa akan diberangkatkan dari Bandar Udara Lhokseumawe ke Medan, Sumatra Utara, Selasa besok sekitar pukul 06.00 WIB. Dari Medan, jenazah akan diterbangkan ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, dengan pesawat komersial. Mayat Ersa akan langsung dibawa ke rumah duka di Jalan Tuntang Raya No 25, Perumnas II, Karawaci, Tangerang, Banten.
Di sisi lain, kematian mendadak Bang Ersa--sapaan akrab Ersa--meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat almarhum. Tak heran, suasana duka menyelimuti rumah almarhum. Tak hanya itu, sejumlah kerabat dan sanak keluarga pun terus mendatangi rumah duka. Di antara pelayat yang datang adalah Pemimpin Redaksi RCTI Derek Manangka, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sjafrie Syamsudin dan Asisten Menko Polkam Alex Bambang Riatmodjo.
Pihak keluarga almarhum mengaku tak mempunyai firasat akan kematian Ersa. Istri almarhum, Tuty Komala Bintang boru Hasibuan baru mengetahui kematian suaminya sekitar pukul 17.00 WIB saat diberitahu pihak RCTI. Meski bak disambar petik, Tuty mengaku hanya bisa pasrah. Kini, ibu tiga anak ini hanya bisa menitikkan air mata atas kejadian yang menimpa suaminya.
Suasana berkabung juga menyelimuti Redaksi RCTI. Sebagian besar rekan kerja almarhum merasa terpukul dengan kematian Ersa. Bahkan, mereka mengaku baru mengetahui kematian Ersa sekitar pukul 18.00 WIB. Di mata rekan-rekannya, Ersa adalah sosok reporter senior yang dianggap telah banyak membantu rekan-rekan juniornya. Lelaki kelahiran Brastagi, Sumatra Utara, 4 Desember 1951, yang bergabung dengan RCTI sejak 1993 itu juga dikenal tegas, tak kenal lelah sekaligus humoris.
Tak hanya itu, pengalaman Ersa sebagai reporter juga tak diragukan. Sebelum disandera GAM dan akhirnya ditemukan tewas, pria yang sudah jadi wartawan sejak 1987 ini pernah ditugaskan ke sejumlah negara untuk meliput berbagai kegiatan. Tak heran bila Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memberi penghargaan Udin Award 2003 untuk Ersa atas segala dedikasinya.
Sementara ungkapan bela sungkawa ke redaksi juga terus berdatangan dari berbagai pihak. Selain lewat telepon juga pesan dari mesin faksimili yang berisi ungkap duka cita atas tewasnya Ersa. Pihak RCTI menyatakan, rencananya jenazah Ersa akan dimakamkan di taman pemakaman umum di kawasan Karawaci, Tangerang. Namun, jenazah terlebih dahulu akan disemayamkan di Kantor RCTI di Jalan Perjuangan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Ersa adalah anak pertama dari 10 bersaudara pasangan Baginda Madjid Siregar dan Nurmia boru Harahap--Nurmia meninggal beberapa saat setelah Ersa disandera. Setamat sekolah menengah atas di Medan, Ersa merantau ke Jakarta. Dia sempat kuliah di sebuah akademi perbankan. Ersa juga sempat mengeyam pendidikan belajar jurnalistik di Ibu Kota. Sambil kuliah, Ersa juga bekerja. Hal ini menjadi inspirasi bagi adik-adiknya.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut George, peristiwa itu berawal dari patroli rutin TNI untuk menyisir anggota GAM di daerah tersebut. Namun, saat menyisir daerah rawa di Dusun Kuala Manihan, Kecamatan Simpang Ulim, pasukan TNI bertemu dengan sekelompok anggota GAM. Kontak senjata terjadi. Dalam perang itu, kedua belah pihak tak mengetahui kondisi masing-masing lawan. Jarak pandang mereka terhalang alang-alang yang lumayan tinggi. Tak heran, jika kontak senjata berlangsung berdasarkan arah tembakan. Kontak senjata berlangsung selama 20 menit. Setelah lokasi disisir, TNI menemukan dua jenazah korban pertempuran. Ternyata seorang di antaranya adalah Ersa, wartawan RCTI yang ditawan GAM sejak 23 Juni 2003.
Jenazah jurnalis senior itu disemayamkan di Rumah Sakit Angkatan Darat Kesrem Lilawangsa, Lhokseumawe, Aceh Utara. Rencananya, jenazah Ersa akan diberangkatkan dari Bandar Udara Lhokseumawe ke Medan, Sumatra Utara, Selasa besok sekitar pukul 06.00 WIB. Dari Medan, jenazah akan diterbangkan ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, dengan pesawat komersial. Mayat Ersa akan langsung dibawa ke rumah duka di Jalan Tuntang Raya No 25, Perumnas II, Karawaci, Tangerang, Banten.
Di sisi lain, kematian mendadak Bang Ersa--sapaan akrab Ersa--meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat almarhum. Tak heran, suasana duka menyelimuti rumah almarhum. Tak hanya itu, sejumlah kerabat dan sanak keluarga pun terus mendatangi rumah duka. Di antara pelayat yang datang adalah Pemimpin Redaksi RCTI Derek Manangka, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sjafrie Syamsudin dan Asisten Menko Polkam Alex Bambang Riatmodjo.
Pihak keluarga almarhum mengaku tak mempunyai firasat akan kematian Ersa. Istri almarhum, Tuty Komala Bintang boru Hasibuan baru mengetahui kematian suaminya sekitar pukul 17.00 WIB saat diberitahu pihak RCTI. Meski bak disambar petik, Tuty mengaku hanya bisa pasrah. Kini, ibu tiga anak ini hanya bisa menitikkan air mata atas kejadian yang menimpa suaminya.
Suasana berkabung juga menyelimuti Redaksi RCTI. Sebagian besar rekan kerja almarhum merasa terpukul dengan kematian Ersa. Bahkan, mereka mengaku baru mengetahui kematian Ersa sekitar pukul 18.00 WIB. Di mata rekan-rekannya, Ersa adalah sosok reporter senior yang dianggap telah banyak membantu rekan-rekan juniornya. Lelaki kelahiran Brastagi, Sumatra Utara, 4 Desember 1951, yang bergabung dengan RCTI sejak 1993 itu juga dikenal tegas, tak kenal lelah sekaligus humoris.
Tak hanya itu, pengalaman Ersa sebagai reporter juga tak diragukan. Sebelum disandera GAM dan akhirnya ditemukan tewas, pria yang sudah jadi wartawan sejak 1987 ini pernah ditugaskan ke sejumlah negara untuk meliput berbagai kegiatan. Tak heran bila Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memberi penghargaan Udin Award 2003 untuk Ersa atas segala dedikasinya.
Sementara ungkapan bela sungkawa ke redaksi juga terus berdatangan dari berbagai pihak. Selain lewat telepon juga pesan dari mesin faksimili yang berisi ungkap duka cita atas tewasnya Ersa. Pihak RCTI menyatakan, rencananya jenazah Ersa akan dimakamkan di taman pemakaman umum di kawasan Karawaci, Tangerang. Namun, jenazah terlebih dahulu akan disemayamkan di Kantor RCTI di Jalan Perjuangan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Ersa adalah anak pertama dari 10 bersaudara pasangan Baginda Madjid Siregar dan Nurmia boru Harahap--Nurmia meninggal beberapa saat setelah Ersa disandera. Setamat sekolah menengah atas di Medan, Ersa merantau ke Jakarta. Dia sempat kuliah di sebuah akademi perbankan. Ersa juga sempat mengeyam pendidikan belajar jurnalistik di Ibu Kota. Sambil kuliah, Ersa juga bekerja. Hal ini menjadi inspirasi bagi adik-adiknya.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)