Luncurkan I-CHIP, UMJ Siap Jegal Kebijakan Kesehatan Berbau Kepentingan Pasar

Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) resmi meluncurkan lembaga I-CHIP sebagai pusat studi transdisiplin pengawal kebijakan kesehatan nasional.

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 21 Mei 2026, 00:40 WIB
Suasana rapat pendirian Indonesian Center for Health Evidence-Informed Policy (I-CHIP) untuk mengawal kebijakan kesehatan, di Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Rabu (20/5/2026)

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) resmi mendirikan Indonesian Center for Health Evidence-Informed Policy (I-CHIP). Pusat studi transdisiplin tingkat universitas ini sengaja diluncurkan bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) untuk mengawal dan memperkuat kebijakan kesehatan nasional agar berbasis pada bukti ilmiah, bukan kepentingan politik sesaat.

Rektor UMJ, Ma'mun Murod Al Barbasy, menegaskan bahwa peluncuran I-CHIP merupakan bentuk kebangkitan intelektual kampus agar perguruan tinggi bisa memberikan solusi konkret terhadap persoalan nyata di masyarakat.

"Hari Kebangkitan Nasional ini mengajarkan kepada kita bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dibangun di atas ilmu pengetahuan, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat. I-CHIP hadir sebagai manifestasi dari semangat tersebut," kata Ma'mun Murod melalui siaran persnya, Rabu (20/5/2026).

Ma'mun menambahkan, I-CHIP didesain sebagai wadah kolaboratif yang akan melibatkan lintas disiplin ilmu serta jejaring mitra strategis nasional. Lembaga ini disiapkan untuk menjawab tantangan besar seperti transformasi layanan primer, keadilan pembiayaan kesehatan, ketahanan medis terhadap perubahan iklim, hingga kemandirian sektor farmasi dalam negeri.

"UMJ ingin memastikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi menara akademik, tetapi juga menjadi pusat solusi bagi persoalan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur I-CHIP UMJ, Arief Rosyid Hasan, mengungkapkan bahwa pendirian pusat studi ini berakar dari kegelisahan akademik melihat arah kebijakan kesehatan di Indonesia yang rawan terseret arus kapitalisasi.

"Kami percaya, kebijakan kesehatan tidak boleh didorong oleh kepentingan pasar atau politik jangka pendek. Kebijakan harus dibangun di atas bukti ilmiah yang kuat dan berpihak kepada masyarakat luas utamanya kelompok rentan. I-CHIP ingin menjadi jembatan antara sains, negara, dan kemaslahatan publik," jelas Arief.

 

Napas Gerakan Al-Islam

Arief memaparkan bahwa I-CHIP membawa napas gerakan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang menempatkan sains sebagai alat pembelaan kaum lemah (mustadh’afin).

"Kalau dahulu Kyai Ahmad Dahlan menerjemahkan Surah Al-Ma’un melalui aksi sosial, maka hari ini kita menerjemahkannya melalui data, riset, dan kebijakan publik. I-CHIP adalah Al-Ma’un dalam bentuk sains kebijakan," paparnya membandingkan.

Ke depan, lembaga baru ini akan fokus memproduksi policy brief, policy modelling, riset spasial, survei nasional, hingga mendorong transformasi layanan kesehatan masa depan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan big data demi menyongsong target Indonesia Emas 2045.

Agenda peluncuran ini turut dihadiri oleh perwakilan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes Asnawi Abdullah, Guru Besar Kesehatan Masyarakat Abdul Razak Thaha, serta jajaran peneliti muda dan profesional bidang kesehatan publik.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya