Kisruh Soal Haji, Adik Menteri Agama Terseret

Adik bungsu Menag Said Agil Al Munawar diduga memeras sebuah biro perjalanan haji. Konon, duit komisi senilai Rp 300-400 juta itu dipersembahkan sebagai uang tunjangan hari raya buat Menag.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 Desember 2003, 19:47 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Menteri Agama Said Agil Al Munawar sedang diterpa badai. Belum reda soal kegagalan melobi pemerintah Arab Saudi soal kuota haji, kini dia disergap isu baru: adik bungsunya yang bekerja sebagai staf di Subdirektorat Umrah dan Haji Khusus Departemen Agama, Sayid Alwi Fahmi diduga memeras pengelola katering khusus untuk jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Kontan kabar tak sedap itu membuat Depag geger.

Adalah pegawai Biro Penyelenggara Haji Gema Wahyu Pratama, Imam G. Budihardjo yang kali pertama mengungkap kasus tersebut. Ihwal cerita bermula ketika Imam merasa tak tahan karena terus didesak oleh Fahmi tentang komisi soal proyek 48 ribu nasi kotak untuk jemaah haji di Madinah. Merasa tak tahu menahu soal komisi yang konon bernilai Rp 300-400 juta, Imam mengontak sang bos, Nyonya Fenny Sumayya, pemilik Mahmood Catering yang juga bos Gema Wahyu Pratama.

Menerima laporan anak buahnya, Nyonya Fenny kalang kabut. Perempuan ini tegas menolak menyetor uang yang katanya buat tunjangan hari raya pak menteri. Menurut Fenny, permintaan itu terlalu tinggi. Sebab nilai order yang dia terima tak sampai Rp 1 miliar. Fenny pun tak pernah membicarakan soal ini lagi kepada Fahmi. "Saya jadi tambah bingung. Saya takut dianggap penipu. Makanya saya rekam pembicaraan terakhir saya dengan Fahmi," ungkap Imam kepada reporter SCTV Rosianna Silalahi di Studio SCTV di Jakarta, Jumat (19/12) petang.

Walau awalnya tak berniat mempublikasikan pembicaraan rahasia tersebut, toh akhirnya rekaman obrolan Imam-Fahmi yang terjadi pada 21 November 2003, diketahui khalayak ramai. Menurut Imam, mulanya dia tak tahu menahu soal biaya proyek katering. Dia berjanji bertemu dengan Fahmi untuk membicarakan masalah kuota haji. Soalnya ada beberapa calon jemaah di perusahaannya yang belum mendapat kuota. Persoalannya, Fahmi berpendapat lain. "Fahmi beranggapan pertemuan untuk membicarakan masalah komisi katering," jelas lelaki berbadan kurus ini, kalem.

Ironisnya, Imam baru menyadari kalau telah terjadi miscommunication beberapa waktu kemudian. Meski pembicaraan itu tak nyambung, tetap saja Imam melaporkan hasil obrolan tersebut ke bosnya. "Soalnya ini menyangkut uang yang besar. Makanya saya rekam," papar Imam.

Imam juga berani memastikan kalau rekaman tersebut asli adanya. Dia mempunyai print out pembicaraan berdurasi 136 detik itu. "Saya punya print out dari Telkom [PT Telkom] tentang durasi [pembicaraan]. Kemudian tarifnya berapa. Nomor Hp-nya ada," beber Imam. Dan dia berencana menyerahkan semua bukti itu ke Nyonya Fenny. "Ini loh buktinya. Jadi uang [ratusan juta] itu bukan saya yang minta," ungkap Imam.

Di samping masalah komisi, Imam juga mengungkapkan, sesungguhnya soal kasus patgulipat semacam ini kerap terjadi dalam urusan penyelenggaraan haji. Walau tak nyata, namun Imam mengatakan, beberapa temannya memiliki bukti penyimpangan yang dimaksud. Pungutan biaya pemondokan calon jemaah, misalnya.

Agak melebar, Imam juga menduga ada permainan kotor, sehingga sekitar 30 ribu calon jemaah gagal berangkat haji tahun ini [baca: Sebanyak 30 Ribu Jemaah Batal Berhaji]. Jadi bukan sekadar tak tersedianya kuota tambahan dari pemerintah Arab Saudi. "Ada kesalahan sistem soal haji," duga Imam. Bahkan dia tak yakin kalau sebenarnya ada penambahan kuota sekitar 30 ribu jemaah dari Arab Saudi.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya