6 Alasan Keruntuhan Liverpool, Juara Bertahan Inggris Jadi Bahan Ejekan

Liverpool berada di peringkat lima klasemen Liga Inggris 2025/2026. Ini alasan di balik keruntuhan mereka.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 20 Mei 2026, 19:00 WIB
(Dari kiri ke kanan, baris belakang) Kiper Liverpool asal Georgia #25, Giorgi Mamardashvili, striker Liverpool asal Prancis #22, Hugo Ekitike, bek Liverpool asal Belanda #04, Virgil van Dijk, bek Liverpool asal Prancis #05, Ibrahima Konate, gelandang Liverpool asal Hungaria #08, Dominik Szoboszlai, dan gelandang Liverpool asal Belanda #38, Ryan Gravenberch, (Dari kiri ke kanan, baris depan) bek Liverpool asal Irlandia Utara #12, Conor Bradley, bek Liverpool asal Skotlandia #26, Andrew Robertson, gelandang Liverpool asal Argentina #10, Alexis Mac Allister, gelandang Liverpool asal Jerman #07, Florian Wirtz, dan striker Liverpool asal Mesir #11, Mohamed Salah, berpose untuk foto tim menjelang kick-off pertandingan League Phase Liga Champions UEFA antara Liverpool dan Real Madrid di Anfield, Liverpool, barat laut Inggris pada 5 November 2025. (Paul ELLIS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Musim 2025/2026 menjadi periode yang penuh tantangan dan kekecewaan bagi Liverpool. Setelah sebelumnya menunjukkan penampilan yang mengesankan dan berhasil meraih gelar juara Premier League, kini The Reds justru berada di luar posisi empat besar klasemen sementara.

Saat ini, Liverpool menempati posisi kelima dalam klasemen Premier League dengan total 59 poin dari 37 pertandingan yang telah dijalani. Mereka tertinggal tiga poin dari Aston Villa yang ada di peringkat keempat dan hanya memiliki keunggulan tipis atas Bournemouth, yang masih memiliki satu pertandingan lebih banyak.

Keadaan ini semakin meningkatkan tekanan pada pelatih Arne Slot menjelang pertandingan terakhir melawan Brentford di Anfield pada 24 Mei 2026. Terlebih lagi, Liverpool musim ini juga mengalami kegagalan total di Liga Champions, Piala FA, dan EFL Cup.

Penurunan performa Liverpool di musim ini bahkan dianggap sebagai salah satu pertahanan gelar terburuk dalam sejarah Premier League. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap penurunan drastis performa The Reds hanya dalam waktu satu musim setelah mereka meraih gelar juara Inggris.


1. Arne Slot Rombak Gaya Bermain Liverpool

Pelatih asal Belanda Liverpool, Arne Slot, bereaksi setelah timnya kebobolan gol pertama dalam pertandingan leg kedua perempat final Liga Champions 2025/2026 antara Liverpool dan Paris Saint-Germain di Anfield, Liverpool, Inggris barat laut, pada 14 April 2026. (Paul ELLIS / AFP)

Musim perdana Arne Slot di Liverpool sebenarnya menunjukkan hasil yang sangat positif. Ia berhasil membawa The Reds meraih gelar juara Premier League 2024/2025 dan mendapatkan pujian karena mampu mempertahankan gaya permainan agresif yang diwariskan oleh Jurgen Klopp.

Namun, ketika memasuki musim 2025/2026, Slot mulai melakukan perubahan besar dalam pendekatan permainan Liverpool. Tim ini tidak lagi menunjukkan intensitas yang sama seperti di era Jurgen Klopp dan lebih sering mengadopsi tempo lambat saat membangun serangan.

Perubahan tersebut berpotensi mengaburkan identitas asli Liverpool. Banyak mantan pemain dan jurnalis Inggris berpendapat bahwa gaya pressing agresif serta transisi cepat yang dulunya menjadi kekuatan utama klub kini tidak lagi terlihat secara konsisten di musim ini.

Hal yang paling mencolok adalah Slot tidak lagi menjadikan Mohamed Salah sebagai pusat permainan. Ia tampaknya lebih memilih untuk mengoptimalkan potensi pemain muda seperti Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Hugo Ekitike.

Lanjut Baca:

Dampak dari perubahan ini sangat jelas terlihat pada klasemen dan performa tim sepanjang musim. Liverpool bahkan terjerembab ke papan tengah di awal musim setelah mengalami serangkaian kekalahan beruntun melawan tim-tim seperti Crystal Palace, Chelsea, Manchester United, Brentford, Manchester City, dan Nottingham Forest.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya