Liputan6.com, Makkah - Di balik lensa kacamatanya, Rohani berusaha menangkap bentuk Ka’bah yang hanya tampak samar. Warna hitam kiswah tidak lagi terlihat utuh di matanya. Yang tertinggal hanya bayangan bergurat, seperti gambar yang terseret pelan.
Namun, perempuan 53 tahun asal Kecamatan Pinang, Tangerang itu tetap menengadah lama ke arah Baitullah.
Advertisement
“Alhamdulillah saya masih bisa lihat Ka’bah walaupun segitu,” ucapnya lirih pada tim Media Center Haji di Makkah, Sabtu, 16 April 2026.
Rohani tidak lagi memiliki penglihatan normal sejak bertahun-tahun lalu. Semua bermula ketika ia pingsan sepulang berbelanja sayur. Setelah menjalani operasi, dunianya mendadak gelap.
“Selesai operasi saya tiba-tiba nggak bisa lihat. Saya ngamuk waktu itu. Kenapa mata saya gelap?” kenangnya.
Berbagai rumah sakit didatangi. Beragam pengobatan dicoba. Namun, pandangannya belum jua kembali sebelum kejadian pada 2015 tersebut.
Sejak saat itu, hidup Rohani berubah. Ia hanya mampu melihat dari jarak dekat dengan penerangan yang cukup. Jika objek berada agak jauh, semuanya lenyap dalam kabut samar.
Meski begitu, ia memilih menerima keadaan tanpa banyak keluhan. “Saya terima dengan lapang dada. Ada Allah yang menjaga saya,” katanya.
Kalimat itu beberapa kali ia ulang dengan tenang, seolah menjadi pegangan hidupnya selama ini. Ketika banyak orang khawatir ibadah haji akan berat bagi penyandang disabilitas netra, Rohani justru tampak pasrah.
Baginya, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar soal kemampuan fisik. Ia percaya panggilan haji datang dari Allah dan manusia hanya perlu menjalankannya.
“Saya mah percaya saja,” ujarnya.
Pergi Haji Hasil Nabung Jadi Pijat Bayi
Keinginan berhaji sebenarnya sudah lama ia simpan. Pada 2013, ia mendaftarkan diri dengan uang hasil memijat bayi dari rumah ke rumah. Profesi itu diwarisi dari ibunya dan masih dijalani sampai sekarang.
Setiap hari, sejak pagi hingga sore, Rohani menerima bayi dan anak-anak kecil untuk dipijat di rumahnya. Kadang tujuh anak datang dalam sehari. Bahkan kadang saat ramai jumlahnya bisa lebih dari 15 anak.
Dari pekerjaan sederhana itulah biaya hajinya terkumpul sedikit demi sedikit. Sang suami, Pendi (62), bekerja sebagai teknisi AC. Mereka membesarkan dua anak dan kini memiliki enam cucu.
Saat hendak berangkat ke Tanah Suci, cucu-cucunya menangis melepas sang nenek. “Mereka bilang, ‘Oma hati-hati,’” cerita Rohani.
Di tengah keterbatasan penglihatan, Rohani tetap mempertahankan kebiasaan mengaji. Ia memang tidak lagi mampu membaca seluruh huruf Al-Qur’an dengan jelas.
Titik-titik huruf sering tampak kabur dan berbayang. Karena itu ia membaca ayat-ayat yang sudah dihafalnya. “Yang saya hafal saja. Allah juga tahu kita bisanya segitu,” katanya.
Doa Siang Malam Minta Kesembuhan
Bagi banyak orang, melihat Ka’bah mungkin perkara biasa. Namun bagi Rohani, itu menjadi pengalaman spiritual yang nyaris tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Ia tak melihat dengan mata sempurna, tapi merasakan kehadiran yang begitu dekat di dalam hati. Harapannya kini sederhana. Ia masih berdoa agar suatu hari penglihatannya kembali terang.
“Saya berdoa siang malam, ya Allah sembuhkan penyakit hamba-Mu ini,” katanya.
Namun jika takdir berkata lain, Rohani tampaknya sudah berdamai. Ia tetap ingin terus beribadah selama masih diberi kesempatan hidup.
“Saya ingin beribadah pada Allah SWT. Nggak pernah lepas ngaji,” tandasnya