Liputan6.com, Jakarta: Tim Investigasi bentukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mensinyalir pembunuh Kiai Haji Asmuni Ishak adalah orang terlatih. Motif pembunuhan tokoh Nahdlatul Ulama asal Jawa Timur itu pun bukan karena faktor persaingan bisnis dan balas dendam. Karenanya, Tim PKB menantang polisi segera membuktikan kasus terbunuhnya Asmuni yang dianggap sebagai kasus kriminal murni. Hal ini disampaikan Sekretaris Tim Investigasi PKB Misbahul Munir di Jakarta, Jumat (5/12).
Misbahul mengatakan, sinyalemen Asmuni dibunuh oleh pembunuh terlatih itu berdasarkan keterangan istri, anak, dan saudara korban. Dia membantah pendapat bahwa terbunuhnya Asmuni sebagai dampak konflik internal PKB di wilayah Lumajang [baca: DPC PKB Lumajang: Kiai Dibunuh Karena Dendam]. "Tapi, ada memang hal yang ganjal di Lumajang. Pihak kepolisian agak gegabah. Police line baru dipasang tiga hari setelah kejadian. Hal ini merusak [melecehkan] PKB," kata Yusuf.
Pembunuhan Asmuni juga mengundang perhatian Komisi II DPR. Kemarin, empat anggota Komisi II menemui Kepala Kepolisian Daerah Jatim Inspektur Jenderal Polisi Heru Susanto di Markas Polda Jatim, Surabaya. Dalam kesempatan itu, anggota Dewan mendapat penjelasan tentang perkembangan kasus terbunuhnya Asmuni, yang juga menjabat Ketua Dewan Syuro PKB Jatiroto.
Usai pertemuan, anggota Komisi II dari Fraksi PKB Yusuf Muhamad mengaku kepada wartawan bahwa dirinya sudah meminta polisi bertindak profesional dan tidak begitu saja menyimpulkan kasus itu murni kriminal. "Saya terus terang menyampaikan, harus dicermati ada orang yang mengail di air keruh. Polisi sedang melakukan tugasnya, tapi kita belum dapat menyimpulkan apa pun karena masih dalam proses," kata Yusuf. Dia menambahkan, kasus itu harus segera dituntaskan agar peristiwa pembunuhan seperti terhadap kiai dengan kedok dukun santet di Banyuwangi tak terulang kembali.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Misbahul mengatakan, sinyalemen Asmuni dibunuh oleh pembunuh terlatih itu berdasarkan keterangan istri, anak, dan saudara korban. Dia membantah pendapat bahwa terbunuhnya Asmuni sebagai dampak konflik internal PKB di wilayah Lumajang [baca: DPC PKB Lumajang: Kiai Dibunuh Karena Dendam]. "Tapi, ada memang hal yang ganjal di Lumajang. Pihak kepolisian agak gegabah. Police line baru dipasang tiga hari setelah kejadian. Hal ini merusak [melecehkan] PKB," kata Yusuf.
Pembunuhan Asmuni juga mengundang perhatian Komisi II DPR. Kemarin, empat anggota Komisi II menemui Kepala Kepolisian Daerah Jatim Inspektur Jenderal Polisi Heru Susanto di Markas Polda Jatim, Surabaya. Dalam kesempatan itu, anggota Dewan mendapat penjelasan tentang perkembangan kasus terbunuhnya Asmuni, yang juga menjabat Ketua Dewan Syuro PKB Jatiroto.
Usai pertemuan, anggota Komisi II dari Fraksi PKB Yusuf Muhamad mengaku kepada wartawan bahwa dirinya sudah meminta polisi bertindak profesional dan tidak begitu saja menyimpulkan kasus itu murni kriminal. "Saya terus terang menyampaikan, harus dicermati ada orang yang mengail di air keruh. Polisi sedang melakukan tugasnya, tapi kita belum dapat menyimpulkan apa pun karena masih dalam proses," kata Yusuf. Dia menambahkan, kasus itu harus segera dituntaskan agar peristiwa pembunuhan seperti terhadap kiai dengan kedok dukun santet di Banyuwangi tak terulang kembali.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)